Selasa, 5 Mei 2026

Pandemi Corona Menggedor Keras Iman Orang Percaya

Ilustrasi Salib Kristus. (Ist)

Ibadah minggu beroindah ke media-media sosial lewat jaringan maya. Toga Tambunan, Evangelis HKBP angkatan kedua di Jakarta yang  ditabalkan Ephorus (Emeritus) Dr. J.R. Hutauruk menyampaikan pesan pada yang percaya. Bergelora.com memuatnya. (Redaksi)

 
Oleh : Toga Tambunan
 
SEGALA sesuatu yang tampil, kita sewajarnya memandangya sebagai letikan pengakomodasi aksi agar kita aktif berreaksi menurut alur yang mencerminkan aktualisasi iman seperasaan dan sepikiran seperti Tuhan Yesus. Bukan melulu sebagai aplikasinya iptek duniawi, meskipun iptek itu perlu bahkan wajib dimanfaatkan dalam pemahaman 2 Petrus 1 : 5.
 
Kenyataannya jemaat memahami kebersamaannya atau kehadiran unsur lain disekelilingnya dengan pemahaman anthropologis atau kultural belaka. Tidak dalam kaitannya sebagai juga warga Kerajaan Allah, imamat yang rajani. Bahkan tentang kematian pun secara utuh diartikan situasional panggilan atau semata-mata situasional  ketetapan sepihak Tuhan. 
 
Bukankah pada awal mula menciptakan Adam dan Hawa, Allah memberkati manusia dalam hidup berdasarkan Hukum Alam Dialektika berkorelasi dengan mahluk dan tumbuhan serta iklim seluruhnya dalam keserasian selarasan dibawah sistim kelola manusia untuk melaksanakan rancangan Allah yg Pencipta manusia, untuk targetNyya jadi sosok corpus delicti (pembukti kejuligan pemberontak) Lucifer? Allah setia pada Hukum RohaniNya yakni tidak menghukum Lucifer jika belum ada pembukti pembrontakannya yg mengekspose pendirian bahwa tidak ada mahluk setia taat pada Allah. Sosok Corpus Delicti itu baru terrealisasi pertama kali oleh Yesus.
 
Sebelumnya, Adam gagal menjadi corpus delicti.
 
Hukum Alam Dialektika yang memberkati Adam, kita petik dari yg telah ternukilkan dalam sumber sejati (asli)nya yakni Alkitab, sbb: 
1. hukum proses perubahan kwantitatif – kwalitatif.
2. hukum sebab perubahan, dinamai kontradiksi,
3. hukum arah perubahan (yang terusmenerus/sustainable konsisten menaik maju) dinamai negasi daripada negasi.
 
Selain Hukum Alami Dialektika yang teramat dahsyat tersebut yang berlaku bagi ciptaanNya melahirkan kultural manusia dulu, kini hingga nanti,  seiring itu berlaku pula Hukum Rohaniah Allah. Diantaranya mengenai jalan dan selukbeluk keselamatan yang pasti, mengenai pengampunan dosa, mengenai syarat seseorang terpilih dari banyak terpanggil untuk kandidat yg akan turut memerintah di zaman Langit Baru Bumi Baru nan kekal yg akan datang. Hukum Rohani Allah tsb juga sdh disampaikan komprehensif dan holistik melalui para nabi, Anaknya yang Tunggal, para Rasul, dan orang awam pilihanNya di masa kini, ketengah manusia dan kosmos. 
 
Kita pun mahfum, sdh pasti Allah mempunyai juga hukum yang hanya Allah sendiri yang tahu dan belum atau tidak disampaikan kepada manusia, berhubung pikiran Allah melebihi akumulasi kognisi jaringan syaraf seluruh ummatNya.
 
Hukum Alam Dialektika itu mengakomodasi seseorang hidup sehat alami jika sesuai dengan dalil atau arahan/petunjuk hukum alami itu. Misalnya mengasup makanan yg direkomandasi iptek gizi, sejumlah kebutuhan kalori dari berbagai unsur protein, karbohidrat, vitamin, dan enzym lain sesuai takaran. Atau hidup tidak sehat alami / berpenyakitan alami berhubung berkreasi hidup yang berlainan  atau mutasi dari hukum alami yg semestinya dituruti. Contohnya, penderita penyakit darah tinggi atau jantung, karena keinginan memuaskan selera, maka kreatif ikutan mengasup makan berlemak jenuh spt daging gulai, atau kuning telor atau ikan sotong yang sesungguhnya wajib dipantangkannya.  Kematian pun dengan sendirinya kreatif pula sebagai ujung dari sakit penyakit kronis yang tak tersembuhkan tersebut. Hukum alam perihal tutup usia itu sdh diberikan pd manusia sejak semula. Namun secara situasional fenomena kematian itu, dikategorikan panggilan Allah. Apakah fakta situasional itu panggilan Allah?  Atau bukankah proses itu orisil telah dipaparkan dalam Hukum Alami Dialektik?
 
Dengan adanya kemauan bebas pada manusia berkat Hukum Alami Dalektika itu seyogianya manuntun jemaat berakal sehat mendemonstrasikan firman Allah. Dan atas perangai tersebut layak dimintai pertanggungjawabannya, di akhir zaman. Dgn ketetapan Allah meminta pertanggungjawaban itu sangat menegaskan bahwa fakta yang dialami manusia termasuk kematian, bukanlah situasional panggilan Allah. Melainkan sepengetahuan Allah, akan perangai manusia.  Sebaliknya setiap perihal yg dikerjakan sepenuhnya oleh otoritas Allah tentu Allah tidak menuntut pertanggungjawaban pada manusia. Hukum Rohani Allah tidak menikung manusia.
 
Selain itu tentu Allah mempunyai hak prerogatif atas umur manusia.
 
Pandemi kini menjebak dunia manusia, juga melalui peran a-spritualis / a-rohahiah ataupun a-humanis manusia.
 
Bukankah permusuhan bisnis dan tehnologi khususnya diantara Tiongkok dan USA, dikabarkan menginiasiasi mengilhami diantara salahsatu mereka menggunakan senjata biologi, dalam hal ini Virus Corona,  yg lebih murah dan efektif menekuk lawan di banding peluru atau missil nuklir yang berperangkat pesawatterbang mutahir atau kapalinduk mutahir? Sementara ini beredar kencang isu yg menuduh USA melepaskan (baca: menembakkan) granat virus corona-19 ini, serta mengatur WHO menuntut negara-negara melaksanakan lockdown sehingga secara strategis diprediksi dunia akan tertelikung ke bawah lutut USA. Itu salah satu isu yang kesahihannya masih harus dibuktikan.
 
Tapi nyatanya Tiongkok sudah recovery / redeem,  jauh lbh cepat dari perkiraan semula.
 
Kematian penderita Corona-19 bertaburan di semua negara terinfeksi yg amat deras kecepatan lintas sebarnya, pun dengan mortality rate relatif tinggi, tentu penyebabnya terkait erat dgn taktik dan strategi perang biologis oleh negara adi daya terhadap saingan utamanya. Artinya kematian banyak insan yang diketahui Allah tersebut merupakan produk perangai manusia   sebagaimana prosedur Hukum Alami Dialektika yg disebut diatas. Kematian itu bukan ketetapan sepihak otoritas Allah.
Oleh karenanya harus diantara manusia itu pula wajib memikul kuk mengurus perang antar negara adidaya itu yang sumber peperangannya ternyata berasal dari perkara politik hubungan produksi dan politik terhadap meningkatkan kemajuan tenaga produktif warganya dalam proses produksi yang berbeda satu dengan lainnya dalam tata negara kedaulatan sistim pemerintahannya. Untuk perkara politik dan kemanusiaan itulah, orang beriman pemercaya Yesus itu Tuhan, semestinya cekatan tringginas tampil  mendemonstrasikan nyata imannya, sesuai  perintah agung Tuhan Yesus sendiri agar berjuang mengabarkan Injil (Kabar Baik)nya hingga diujung bumi. Seharusnya Gereja tampil mengaplikasikan panggilannya berupa aksi berkontradiksi antagonistis terhadap Lucifer. Namun kenyataannya pada umumnya Gereja menghindari panggilan politik dan kemanusian itu. Menghindari kontradiksi antagonis terhadap Lucifer itu, maka hidup manusia makin terbelit dalam pusaran kebiadaban.
 
Dalam pada itu, iman yg nampaknya selama ini liturgi hapalan akali, layak diperiksa ulang apakah jemaat yg rohaninya sebatas semula Adam yg belum serupa Pencipta, sdhkah diupgrade menjadi  serupa rohaninya seperti Allah, yakni seperasaan dan sepikiran seperti Yesus Kristus? Apakah sdh diupgrade seperti firman katakan dlm Mateus 5 : 48? Apakah benar sdh jadi murid diupgrade serupa Lukas 14 : 33. Apakah jemaat dibimbing dari orang terpanggil sehingg jadi manusia terpilih untuk turut memerintah nanti dalam Langit Baru Bumi Baru yang kekal?
 
Berkorelasi dengan Corona-19 ini, selayaknya gereja tidak  mengisolasi  pikiran jemaat jadi a-politik dari fenomena turbulence sosial politik dunia saat ini. Melainkan hendaknya menuntun jemaat terlibat politik seperti juga Yesus berinteraksi dengan dunia politik penguasa  Romawi serta politiknya alim ulama Ahli Taurat serta Farisi bani Jahudi. Dan agar jemaat memposisikan diri selaku orang beriman mempercayai Yesus adalah Tuhan,  siap menjadi laskar Allah yang sedia “merangkul kematian” ditengah pertikaian politik dan bisnis negara-negara adi daya, seperti Yesus menjelang tersalib di Golgota, justru jemaat itu dan terlebih gereja itu patut mempertaruhkan diri dengan “dare and dare again” dalam arena politik memimpin operasi pelayanan mengatasi Corona, demi nantinya dapat meterai hidup kekal, yg amat didambakan itu. Langkah pelayanan bisa ditempuh berpatokan dari 2 Petrus 1 : 5. Iptek selayaknya  dimobiliser jemaat untuk kemaslahatan manusia, dan menolak orientasi kapitalis yang proses industrialnya semata-mata untuk bisnis berfungsi keruk uang belaka. Negara-negara di belahan Barat yg berpendirian dgn orientasi demikian padahal menyebut posisinya  beriman Yesus adalah Tuhan, mengindikasikan identitasnya sama dengan yang disebut berperangai salahsatu atau semuanya dari enam jemaat di Kitab Wahyu. Waspadalah. Amin. 
 

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles