Minggu, 14 Juli 2024

Panglima TNI: ISIS Terlarang Di Indonesia

DEPOK- Jenderal TNI Moeldoko memaparkan tentang keberadaan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Menurutnya, ISIS sama sekali tidak boleh berkembang lantaran berbeda ideologi dengan ideologi Indonesia yaitu Pancasila.

“Yang penting kami samakan dulu ideologinya, kalau berbeda, ISIS tidak boleh berkembang di Indonesia karena berbeda ideologi,” ujar Jenderal TNI Moeldoko seusai menemui musisi nasional, Iwan Fals di Depok, Sabtu (9/8).

Panglima hadir dalam acara Obrolan Penting Sabtu Ini (OPSI) di rumah Iwan Fals yang bernama asli Virgiawan Listanto, bertempat di Sekretariat Badan Pengurus Pusat Orang Indonesia (OI), Jalan Leuwinanggung, Depok, Jawa Barat, Sabtu (9/8). 

Turut hadir dalam acara tersebut, diantaranya Aster Panglima TNI Mayjen TNI Ngakan Gede Sugiartha Garjitha, S.H., Asintel Panglima TNI Laksda TNI Amri Husaini dan Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya.

Jenderal TNI Moeldoko juga mengatakan bahwa, TNI akan melakukan pembinaan kepada masyarakat untuk melakukan tindakan preventif. Hal ini menurutnya sebagai langkah guna mencegah adanya perpecahan dalam negeri. 

“TNI harus melakukan pembinaan karena banyak masyarakat yang terjerumus. TNI juga akan melakukan penjelasan ke pesantren-pesantren untuk melakukan tindakan preventif supaya tidak ada tindakan represif,” katanya.

Terkait adanya pengaruh ISIS yang datang dari luar, Panglima TNI mengaku pihaknya sudah memonitor setiap pergerakan ISIS yang masuk maupun keluar. Apabila ISIS melakukan tindakan mengancam, TNI siap untuk pasang badan. 

“Kami sudah memonitor dan mengikuti gerakan ISIS dari luar maupun dari dalam, kalau mereka macam-macam ya kami sikat,” ujar Jenderal TNI Moeldoko.

Buatan Amerika
Sebelumnya dikabarkan, mantan ibu negara dan mantan menteri luar negeri AS Hillary Clinton secara terang-terangan mengakui bahwa Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) merupakan gerakan buatan AS guna memecah belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergolak.

Pengakuan tersebut termuat dalam buku terbaru Hillary Clinton “Hard Choice” dan menjadi pemberitaan luas media-media massa internasional akhir-akhir ini.

Mantan Menlu di kabinet pertama Presiden Barack Obama itu mengaku, pemerintah AS dan negara-negara barat sengaja membentuk organisasi ISIS demi memecah belah Timur Tengah (Timteng). Hillary mengatakan gerakan ISIS sepakat dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013.

“Kami telah mengunjungi 112 negara sedunia. Lalu kami bersama-sama rekan-rekan bersepakat mengakui sebuah Negara Islam (Islamic State/IS) saat pengumuman tersebut,” tulis Hillary.

Dalam buku tersebut juga diuraikan bahwa “negara Islam” itu awalnya akan didirikan di Sinai, Mesir, sesuai revolusi yang bergolak di beberapa negara di Timur Tengah. Namun rencana itu berantakan setelah militer Mesir melakukan kudeta, Juli 2013.

“Kami memasuki Irak, Libya dan Suriah, dan semua berjalan sangat baik. Namun tiba-tiba meletus revolusi 30 Juni – 7 Agustus di Mesir. Itu membuat segala rencana berubah dalam tempo 72 jam,” ungkap istri mantan presiden AS, Bill Clinton itu.

Hillary menambahkan, pihak barat sempat berpikir untuk menggunakan kekuatan demi mewujudkan “negara Islam” di Sinai. Namun Mesir memiliki kekuatan militer yang tergolong kuat. Selain itu, warga Mesir cenderung untuk mendukung militer mereka.

“Jadi, jika kami gunakan kekuatan melawan Mesir, kami akan rugi. Tapi jika kami tinggalkan, kami pun rugi,” tulis Hillary. (Roy Pangharapan)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru