Minggu, 19 April 2026

Peringatan Keras Bagi Indonesia: AS Pencipta Teroris Kemudian Dibasmi Rusia

Eksekusi mati oleh ISIS terhadap masyarakat yang berbeda pendapat dengan ISIS di Timur Tengah (Ist)

Oleh : Aju

Kelompok teroris ISIS dan AL-Qaidah merupakan ciptaan Amerika Serikat untuk memecah belah umat Islam, mendeskreditkan Islam dan menguasainya. Walau sudah menjadi rahasia umum,– kedua organisasi yang mengatasnamakan Islam dan ‘mengusung Khilafah’ ini tetap mendapatkan dukungan dari sebagian orang Indonesia. Aju, Wartawan senior Sinar Harapan dari Kalimantan Barat mencoba mengingatkan bahaya kedua organisasi ini dan dimuat di Bergelora.com (Redaksi)

KEBERADAAN kelompok teroris The Islamic State of Irag and Syria (ISIS) dan Al-Qaida di Timur Tengah dan di Asia, pada dasarnya masih dalam konteks implikasi perebutan pengaruh negara berideologi liberalis dan sosialis.

Negara berideologi liberalis dimotori Amerika Serikat (AS) yang mengklaim diri sebagai Blok Barat dengan negara berideologi sosialis dimotor The Union of Soviet Socialist Republic (USSR) dan Republik Rakyat China (RRC) yang mengklaim diri sebagai Blok Timur.

Perebutan pengaruh terasa mencekam di era Perang Dingin, 1946 – 1991, dimana negara sosialis dan liberalis, berhadap-hadapan di dalam merebut pengaruh di negara berkembang, agar bisa dengan mudah mengeruk sumberdaya alamnya.

Pasca Perang Dingin, ditandai keruntuhan USSR sehingga menjadi Federasi Rusia terhitung 25 Desember 1991, praktis perebutan pengaruh dirajai AS hingga tahun 2005, karena negara pamansam itu, dicatat sebagai negara terkaya di dunia.

AS kemudian bisa memperdaya Federasi Rusia tahun 1994. Saat Federasi Rusia menginvasi Afganistan, AS merekrut dan kemudian mempersenjatai jihadis-jihadis Taliban, untuk melawan Rusia.

Dua tahun bertempur, dengan taktik perang gerilya, aksi teror bunuh diri didikan AS, Taliban berhasil mengusir Rusia dari Afganistan tahun 1996.

Pasca Rusia hengkang dari Afganistan, eksistensi kelompok Islam garis keras, menjadi semakin menghantui dunia internasional di Timur Tengah, Asia dan Asia Tenggara, baik melalui aksi teror yang mencekam.

Kelompok Taliban di Afganistan, dalam perkembangannya bermetamorfosa menjadi Al Qaida dan kemudian menjadi The Islamic of Iraq and Syria (ISIS) di Timur Tengah, dan The Islamic of Indonesia and Philipina (ISIP) yang bermarkas di Marawi, Ibu Kota Provinsi Lanao del Sur, Mindanao, Philipina Selatan.

Keberadaan kelompok Islam radikal ini, kemudian terbukti senjata makan tuan. Pada 11 September 2001, militan Al-Qaida, melakukan empat aksi teror New York City dan Washington, D.C, AS.

Insiden dramatis, saat 19 pembajak dari kelompok militan Al-Qaida membajak empat pesawat jet penumpang. Para pembajak sengaja menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center (WTC) di New York City. Kedua menara WTC runtuh dalam kurun waktu dua jam.

Pembajak menabrakkan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington, Virginia. Ketika penumpang berusaha mengambil alih pesawat keempat, United Airline penerbangan 93, pesawati jatuh di lapangan dekat Shanksvile, Pennsylvania, dan gagal mencapai target aslinya di Washington, D.C. Tim Investigasi 911, menyebut, ada 3.000 jiwa tewas.

Pasca tragedi 11 September 2011, Osama bin Laden melarikan diri ke Pakistan, sementara Abu Musabab Al-Zarqawi sembunyi ke Irak. Saat Osama bin Laden sembunyi (ditembak mati AS di Abottabat, Pakistan, 11 Mei 2001), Zarqawi menjadi pentolan militan Islam terkemuka di Irak, karena bertempur dengan melawan AS yang tengah menginvasi Timur Tengah.

AS menginvasi Irak, 2003 – 2011. Setelah Presiden Irak Sadam Hussen ditangkap tanggal 13 Desember 2003 dan dihukum mati oleh militer Amerika Serikat, 5 Nopember 2006, Zarqawi mendirikan Al-Qaida di Iraq atau Iraq Al-Qaida (AQI). Zarqawi tewas dalam pertempuran melawan AS di Irak tahun 2006.

Setelah Zarqawi tewas, perjuangan dilanjutkan Abu Umar al Baghdady, dengan mendirikan Daullah Islam Iraq (DAI). Sampai di sini semua berjalan masih normal. Tetapi kemudian roh DAI menjadi berbeda ketika Abu Umar terbunuh dan diganti dengan tidak normal oleh Abu Bakr Al Baghdady, 15 Mei 2010.

Abu Bakr Al-Bagdady tidak dikenal oleh para Mujahidin senior Jihad Wa Tauhid. Abu Bakr menjadi pemimpin karena peran Haji Bakar. Ketika terjadi revolusi Suriah tahun 2011, sebagian pejuang Suriah dari Irak kembali ke Suriah.

Mereka datang melawan tindakan kejam Presiden Suriah, Bashar Assad, dengan membentuk Jabhat Al Nusrah (JAN), kelompok terbesar para pejuang Suriah.

Sedikit demi sedikit beberapa kota mulai dibebaskan. Ketika sudah banyak daerah dibebaskan, tiba-tiba Abu Bakar Al Baghdady menghapus JN dan diganti menjadi Daulah Islam Irak and Syria (DAIS) atau The Islamic of Iraq and Syria (ISIS), 9 April 2013.

Di bawah kendali Abu Bakr, ISIS menempatkan diri sebagai organisasi tunggal. Untuk mengantisipasi dualisme di dalam perjuangan kelompok islam radikal, ISIS memberangus kelompok JAN di Suriah. Termasuk di antaranya dengan menggunakan bom bunuh diri.

ISIS dan Al Qaida, terus berseberangan. Ketika Ayman Al Zawahiri (pemimpin Al Qaidah) meminta ISIS untuk kembali ke Irak dan hanya mengakui JAN sebagai cabang resmi Al Qaeda di Suriah, komplotan Abu Bakr Al Baghdady menolak.  ISIS malah menuduh balik Al Qaida sebagai pendukung Perjanjian Sykes-Picot, 16 Mei 1916.

Praktis sekarang, peta kekuatan kelompok islam radikal, tertuju kepada Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin ISIS di Irak dan Omarkhayam Maute berafiliasi ISIP di Marawi.

Tapi keberadaan Abu Bakr al-Baghdadi sampai sekarang masih sangat misterius. Rusia yang kemudian turut aktif menumpas ISIS di Timur Tengah, pernah mengklaim Al Baghdadi, tewas dalam serangan udara negara beruang merah itu di dekat Raqqa, Irak, 28 Mei 2017.

Klaim Rusia ini diperkuat penjelasan lembaga Pemantau hak azasi manusia Suriah yang disingkat SOHR, mengatakan telah menerima “kabar yang belum dapat dikonfirmasi” bahwa Baghdadi telah tewas di Suriah.

Namun, para pejabat Barat dan Irak belum dapat mengkonfirmasi kedua klaim terkait kematian Al-Baghdadi.

“(Abu Bakr) al-Baghdadi masih hidup. Dia belum tewas. Kami mendapatkan informasi bahwa dia 99 persen masih hidup,” kata Lahur Talabany, seorang perwira kontra-terorisme Kurdi, Senin, 17Juli 2017.

Talabany mengklaim, pemimpin ISIS itu terdeteksi di sebuah lokasi di sebelah selatan kota Raqqa, Suriah yang didaulat sebagai ibu kota Kekalifahan Islam ISIS.

“Jangan lupa akarnya kembali ke masa-masa Al-Qaeda di Irak. Dia punya banyak pengalaman bersembunyi dan menghindari kejaran pasukan keamanan. Dia tahu apa yang dia kerjakan,” tambah Talabany kepada Reuters.

“Kami akan menganggap dia (al-Baghdadi) masih hidup sebelum terbukti sebaliknya, dan saat ini kami belum bisa membuktikan bahwa dia sudah tewas,” kata  Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis.

Kemungkinan masih hidupnya Al-Baghdadi juga dibenarkan Direktur Jenderal Dinas Intelijen dan Kontra-Terorisme Irak, Abu Ali Basri.

“Kami lebih berkepentingan dari pihak lain terkait kematian Al-Baghdadi dibanding pihak lain dalam memburu, memantau semua pergerakan Baghdadi dan pengikutnya,” ujar Basri.

“Sel-sel pemantau seluruhnya membantah kabar kematian Al-Baghdadi dan laporan lain soal kematiannya,” lanjut Basri.

Al-Baghdadi kemungkinan besar tak berada di kota Raqqa, Suriah yang sedang dikepung pasukan pemberontak dan dibombardir koalisi pimpian AS.

Dengan demikian, kendati peta kekuatan ISIS di Suriah semakin melemah setelah digempur Rusia, AS, dan Inggris, bukan berarti aksi teorisme terhenti.

Bisa jadi nanti bermetamorfosa dalam bentuk lain, dan atau beralih wilayah terornya dari Timur Tengah ke Asia dan bahkan ke Asia Tenggara, teruama di Indonesia, dengan jumlah penduduk Islam terbesar. ISIP di Marawi, Philipina Selatan yang tengah digempur habis-habisan militer Philipina sebagai contohnya.

Kendati Perang Dingin berakhir tahun 1991, bukan berarti pertarungan perebutan pengaruh antara Rusia penganut ideologi sosialis dan AS penganut ideologi liberalis, akan terhenti.

Simaklah peringatan Henry Alfred Kissinger tahun 1980. Henry Alfred Kissinger, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, peraih Penghargaan Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia, 1973. Henry Alfred Kissinger, meraih Penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1973, karena melakukan gencatan senjata dalam Perang Vietnam dan penarikan pasukan Amerika Serikat.

Peringatan menarik Henry Alfred Kissinger pada tahun 1980, bahwa geopolitik internasional dan kepemimpinan di masa mendatang adalah sejauh mana pertarungan politik untuk menguasai, memperebutkan dan mengendalikan sumber daya alam suatu negeri.

Jadi, sampai kapanpun Indonesia akan tetap menjadi perhatian dan rebutan dunia, karena posisinya sangat strategis dan kekayaan sumberdaya alamnya yang sangat melimpah.

Menilik ke belakang, tahun 1962, The Washington Post Daily, melaporkan, Belanda menemukan gunung emas di dasar Laut Arafuru di antara Australia dan Pulau Papua, di Samudera Pacifik. Laut Arafuru wilayah Indonesia seluas 650.000 kilometer persegi dan kedalaman maksimal 3,68 kilometer.

Kemudian, di pehuluan Sungai Kalan, Desa Nanga Kalan, Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, telah menemukan cadangan uranium terukur 900 ton, cadangan terindikasi 6.961 ton, cadangan  tereka 1.734 ton dan cadangan hipotetik 14.517 ton  dengan total cadangan 24.112 ton.

Gubernur Kalimantan Barat, Soedjiman tahun 1986, menutup pengeboran minyak bumi di Nanga Tebidah, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, karena diketahui di dalamnya terdapat cadangan gas alam terbesar yang pernah ditemui di wilayah daratan Kalimantan ketika itu.

Sejarah membuktikan, bantuan luar negeri dalam mengakhiri krisis politik di dalam negeri, tidak pernah akan gratis. Ketika AS berhasil memaksa Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia tahun 1963 dan kemudian membantu kaum agamawan dan nasionalis yang didukung TNI-AD memberangus pengaruh komunis.

Pemberangusan ditandai Gerakan 30 September (G30S) 1965 di Jakarta, pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto kemudian ‘dipaksa’ menandatangani kontrak-karya PT Freeport Indonesia di Papua tahun 1967 yang secara khsusus bergerak di bidang pertambangan besi, tembaga dan emas di Papua.

PT Freeport Indonesia merupakan sebuah perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. di Amerika Serikat. PT Freeport Indonesia menambang, memproses dan melakukan eksplorasi biji yang mengandung tembaga, emas, dan perak.

Beroperasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Freeport Indonesia memiliki areal pertambangan terluas dan terbesar di dunia, dalam memasarkan konsentrat yang mengandung tembaga, besi, emas dan perak ke seluruh penjuru dunia. Sumber daya alam di Papua berupa gunung emas, tembaga dan besi sekarang dikuasai asing, yakni Amerika Serikat.

Itulah yang menyebabkan Presiden Soekarno pada pasca kemerdekaan, 17 Agustus 1945 – 22 Juni 1966, untuk meneruskan revolusi agar jalannya semua aspek kehidupan negara dapat cepat terpatri ke arah yang tetap, terlepas dari kekurangan di sana-sini.

Presiden Soekarno menerapkan Ajaran Trisakti, berbunyi, “berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan”.

Di masa pemerintahan Presiden Soekarno sebagai penganut ideologi Pancasila berorientasi sosialis, nasionalisme dijunjung tinggi, kebijakan pembangunan ekonomi memaksimalkan potensi kekuatan mandiri dalam negeri, dengan asumsi potensi kekuatan dari luar negeri sebagai pendukung dalam alih teknologi dan strategi distribusi.

Sejak pemerintahan Presiden Soeharto terhitung 1 Juli 1966 sampai era demokratisasi per 21 Mei 1998 hingga sekarang, arah politik luar negeri Indonesia lebih lentur terhadap investasi asing.

Akan tetapi sikap lentur tanpa dilengkapi filter dengan mengabaikan 4 Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Kebhinekaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sumberdaya alam di dalam negeri lambat-laun akan dikuasi sepenuhnya pihak asing.

Jika masalah ini tidak disadari, maka suatu saat nanti rakyat Indonesia hanya bisa menjadi penonton yang berimplikasi kepada masyarakat merasa asing tinggal di negeri sendiri.

Ketertarikan pihak luar terhadap sebuah negara dalam berbagai perspektif, tergantung sampai sejauh mana ketersediaan sumberdaya alam yang dimiliki. Pada tahun 1953, Presiden Amerika Serikat, Dwight David Eisenhower, mengakui, sangat memperhitungkan dan tertarik terhadap wilayah nusantara.

Dimana penerusnya kemudian memaksakan ideoleogi liberalisme kapitalisme dianutnya yang dibuktikan dengan pemberangarusan komunisme, 1965 – 1974, karena Indonesia memiliki sumbedaya alam berupa minyak bumi terbesar kelima di dunia.

Ini peringatan keras bagi Indonesia di tengah aksi terorisme dan paham radikal di dalam negeri tumbuh subur bagaikan jamur di musin penghujan, sehingga Pemerintah mesti merevisi undang-undang tindak pidana teorisme dan menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2017, tanggal 10 Juli 2017, tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

 

Peringatan Keras Bagi Indonesia: AS Pencipta Teroris Kemudian Dibasmi Rusia

Oleh : Aju

Kelompok teroris ISIS dan AL-Qaidah merupakan ciptaan Amerika Serikat untuk memecah belah umat Islam, mendeskreditkan Islam dan menguasainya. Walau sudah menjadi rahasia umum,– kedua organisasi yang mengatasnamakan Islam dan ‘mengusung Khilafah’ ini tetap mendapatkan dukungan dari sebagian orang Indonesia. Aju, Wartawan senior Sinar Harapan dari Kalimantan Barat mencoba mengingatkan bahaya kedua organisasi ini dan dimuat di Bergelora.com (Redaksi)

JAKARTA – Keberadaan kelompok teroris The Islamic State of Irag and Syria (ISIS) dan Al-Qaida di Timur Tengah dan di Asia, pada dasarnya masih dalam konteks implikasi perebutan pengaruh negara berideologi liberalis dan sosialis.

Negara berideologi liberalis dimotori Amerika Serikat (AS) yang mengklaim diri sebagai Blok Barat dengan negara berideologi sosialis dimotor The Union of Soviet Socialist Republic (USSR) dan Republik Rakyat China (RRC) yang mengklaim diri sebagai Blok Timur.

Perebutan pengaruh terasa mencekam di era Perang Dingin, 1946 – 1991, dimana negara sosialis dan liberalis, berhadap-hadapan di dalam merebut pengaruh di negara berkembang, agar bisa dengan mudah mengeruk sumberdaya alamnya.

Pasca Perang Dingin, ditandai keruntuhan USSR sehingga menjadi Federasi Rusia terhitung 25 Desember 1991, praktis perebutan pengaruh dirajai AS hingga tahun 2005, karena negara pamansam itu, dicatat sebagai negara terkaya di dunia.

AS kemudian bisa memperdaya Federasi Rusia tahun 1994. Saat Federasi Rusia menginvasi Afganistan, AS merekrut dan kemudian mempersenjatai jihadis-jihadis Taliban, untuk melawan Rusia.

Dua tahun bertempur, dengan taktik perang gerilya, aksi teror bunuh diri didikan AS, Taliban berhasil mengusir Rusia dari Afganistan tahun 1996.

Pasca Rusia hengkang dari Afganistan, eksistensi kelompok Islam garis keras, menjadi semakin menghantui dunia internasional di Timur Tengah, Asia dan Asia Tenggara, baik melalui aksi teror yang mencekam.

Kelompok Taliban di Afganistan, dalam perkembangannya bermetamorfosa menjadi Al Qaida dan kemudian menjadi The Islamic of Iraq and Syria (ISIS) di Timur Tengah, dan The Islamic of Indonesia and Philipina (ISIP) yang bermarkas di Marawi, Ibu Kota Provinsi Lanao del Sur, Mindanao, Philipina Selatan.

Keberadaan kelompok Islam radikal ini, kemudian terbukti senjata makan tuan. Pada 11 September 2001, militan Al-Qaida, melakukan empat aksi teror New York City dan Washington, D.C, AS.

Insiden dramatis, saat 19 pembajak dari kelompok militan Al-Qaida membajak empat pesawat jet penumpang. Para pembajak sengaja menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center (WTC) di New York City. Kedua menara WTC runtuh dalam kurun waktu dua jam.

Pembajak menabrakkan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington, Virginia. Ketika penumpang berusaha mengambil alih pesawat keempat, United Airline penerbangan 93, pesawati jatuh di lapangan dekat Shanksvile, Pennsylvania, dan gagal mencapai target aslinya di Washington, D.C. Tim Investigasi 911, menyebut, ada 3.000 jiwa tewas.

Pasca tragedi 11 September 2011, Osama bin Laden melarikan diri ke Pakistan, sementara Abu Musabab Al-Zarqawi sembunyi ke Irak. Saat Osama bin Laden sembunyi (ditembak mati AS di Abottabat, Pakistan, 11 Mei 2001), Zarqawi menjadi pentolan militan Islam terkemuka di Irak, karena bertempur dengan melawan AS yang tengah menginvasi Timur Tengah.

AS menginvasi Irak, 2003 – 2011. Setelah Presiden Irak Sadam Hussen ditangkap tanggal 13 Desember 2003 dan dihukum mati oleh militer Amerika Serikat, 5 Nopember 2006, Zarqawi mendirikan Al-Qaida di Iraq atau Iraq Al-Qaida (AQI). Zarqawi tewas dalam pertempuran melawan AS di Irak tahun 2006.

Setelah Zarqawi tewas, perjuangan dilanjutkan Abu Umar al Baghdady, dengan mendirikan Daullah Islam Iraq (DAI). Sampai di sini semua berjalan masih normal. Tetapi kemudian roh DAI menjadi berbeda ketika Abu Umar terbunuh dan diganti dengan tidak normal oleh Abu Bakr Al Baghdady, 15 Mei 2010.

Abu Bakr Al-Bagdady tidak dikenal oleh para Mujahidin senior Jihad Wa Tauhid. Abu Bakr menjadi pemimpin karena peran Haji Bakar. Ketika terjadi revolusi Suriah tahun 2011, sebagian pejuang Suriah dari Irak kembali ke Suriah.

Mereka datang melawan tindakan kejam Presiden Suriah, Bashar Assad, dengan membentuk Jabhat Al Nusrah (JAN), kelompok terbesar para pejuang Suriah.

Sedikit demi sedikit beberapa kota mulai dibebaskan. Ketika sudah banyak daerah dibebaskan, tiba-tiba Abu Bakar Al Baghdady menghapus JN dan diganti menjadi Daulah Islam Irak and Syria (DAIS) atau The Islamic of Iraq and Syria (ISIS), 9 April 2013.

Di bawah kendali Abu Bakr, ISIS menempatkan diri sebagai organisasi tunggal. Untuk mengantisipasi dualisme di dalam perjuangan kelompok islam radikal, ISIS memberangus kelompok JAN di Suriah. Termasuk di antaranya dengan menggunakan bom bunuh diri.

ISIS dan Al Qaida, terus berseberangan. Ketika Ayman Al Zawahiri (pemimpin Al Qaidah) meminta ISIS untuk kembali ke Irak dan hanya mengakui JAN sebagai cabang resmi Al Qaeda di Suriah, komplotan Abu Bakr Al Baghdady menolak.  ISIS malah menuduh balik Al Qaida sebagai pendukung Perjanjian Sykes-Picot, 16 Mei 1916.

Praktis sekarang, peta kekuatan kelompok islam radikal, tertuju kepada Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin ISIS di Irak dan Omarkhayam Maute berafiliasi ISIP di Marawi.

Tapi keberadaan Abu Bakr al-Baghdadi sampai sekarang masih sangat misterius. Rusia yang kemudian turut aktif menumpas ISIS di Timur Tengah, pernah mengklaim Al Baghdadi, tewas dalam serangan udara negara beruang merah itu di dekat Raqqa, Irak, 28 Mei 2017.

Klaim Rusia ini diperkuat penjelasan lembaga Pemantau hak azasi manusia Suriah yang disingkat SOHR, mengatakan telah menerima “kabar yang belum dapat dikonfirmasi” bahwa Baghdadi telah tewas di Suriah.

Namun, para pejabat Barat dan Irak belum dapat mengkonfirmasi kedua klaim terkait kematian Al-Baghdadi.

“(Abu Bakr) al-Baghdadi masih hidup. Dia belum tewas. Kami mendapatkan informasi bahwa dia 99 persen masih hidup,” kata Lahur Talabany, seorang perwira kontra-terorisme Kurdi, Senin, 17Juli 2017.

Talabany mengklaim, pemimpin ISIS itu terdeteksi di sebuah lokasi di sebelah selatan kota Raqqa, Suriah yang didaulat sebagai ibu kota Kekalifahan Islam ISIS.

“Jangan lupa akarnya kembali ke masa-masa Al-Qaeda di Irak. Dia punya banyak pengalaman bersembunyi dan menghindari kejaran pasukan keamanan. Dia tahu apa yang dia kerjakan,” tambah Talabany kepada Reuters.

“Kami akan menganggap dia (al-Baghdadi) masih hidup sebelum terbukti sebaliknya, dan saat ini kami belum bisa membuktikan bahwa dia sudah tewas,” kata  Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis.

Kemungkinan masih hidupnya Al-Baghdadi juga dibenarkan Direktur Jenderal Dinas Intelijen dan Kontra-Terorisme Irak, Abu Ali Basri.

“Kami lebih berkepentingan dari pihak lain terkait kematian Al-Baghdadi dibanding pihak lain dalam memburu, memantau semua pergerakan Baghdadi dan pengikutnya,” ujar Basri.

“Sel-sel pemantau seluruhnya membantah kabar kematian Al-Baghdadi dan laporan lain soal kematiannya,” lanjut Basri.

Al-Baghdadi kemungkinan besar tak berada di kota Raqqa, Suriah yang sedang dikepung pasukan pemberontak dan dibombardir koalisi pimpian AS.

Dengan demikian, kendati peta kekuatan ISIS di Suriah semakin melemah setelah digempur Rusia, AS, dan Inggris, bukan berarti aksi teorisme terhenti.

Bisa jadi nanti bermetamorfosa dalam bentuk lain, dan atau beralih wilayah terornya dari Timur Tengah ke Asia dan bahkan ke Asia Tenggara, teruama di Indonesia, dengan jumlah penduduk Islam terbesar. ISIP di Marawi, Philipina Selatan yang tengah digempur habis-habisan militer Philipina sebagai contohnya.

Kendati Perang Dingin berakhir tahun 1991, bukan berarti pertarungan perebutan pengaruh antara Rusia penganut ideologi sosialis dan AS penganut ideologi liberalis, akan terhenti.

Simaklah peringatan Henry Alfred Kissinger tahun 1980. Henry Alfred Kissinger, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, peraih Penghargaan Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia, 1973. Henry Alfred Kissinger, meraih Penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1973, karena melakukan gencatan senjata dalam Perang Vietnam dan penarikan pasukan Amerika Serikat.

Peringatan menarik Henry Alfred Kissinger pada tahun 1980, bahwa geopolitik internasional dan kepemimpinan di masa mendatang adalah sejauh mana pertarungan politik untuk menguasai, memperebutkan dan mengendalikan sumber daya alam suatu negeri.

Jadi, sampai kapanpun Indonesia akan tetap menjadi perhatian dan rebutan dunia, karena posisinya sangat strategis dan kekayaan sumberdaya alamnya yang sangat melimpah.

Menilik ke belakang, tahun 1962, The Washington Post Daily, melaporkan, Belanda menemukan gunung emas di dasar Laut Arafuru di antara Australia dan Pulau Papua, di Samudera Pacifik. Laut Arafuru wilayah Indonesia seluas 650.000 kilometer persegi dan kedalaman maksimal 3,68 kilometer.

Kemudian, di pehuluan Sungai Kalan, Desa Nanga Kalan, Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, telah menemukan cadangan uranium terukur 900 ton, cadangan terindikasi 6.961 ton, cadangan  tereka 1.734 ton dan cadangan hipotetik 14.517 ton  dengan total cadangan 24.112 ton.

Gubernur Kalimantan Barat, Soedjiman tahun 1986, menutup pengeboran minyak bumi di Nanga Tebidah, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, karena diketahui di dalamnya terdapat cadangan gas alam terbesar yang pernah ditemui di wilayah daratan Kalimantan ketika itu.

Sejarah membuktikan, bantuan luar negeri dalam mengakhiri krisis politik di dalam negeri, tidak pernah akan gratis. Ketika AS berhasil memaksa Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia tahun 1963 dan kemudian membantu kaum agamawan dan nasionalis yang didukung TNI-AD memberangus pengaruh komunis.

Pemberangusan ditandai Gerakan 30 September (G30S) 1965 di Jakarta, pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto kemudian ‘dipaksa’ menandatangani kontrak-karya PT Freeport Indonesia di Papua tahun 1967 yang secara khsusus bergerak di bidang pertambangan besi, tembaga dan emas di Papua.

PT Freeport Indonesia merupakan sebuah perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. di Amerika Serikat. PT Freeport Indonesia menambang, memproses dan melakukan eksplorasi biji yang mengandung tembaga, emas, dan perak.

Beroperasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Freeport Indonesia memiliki areal pertambangan terluas dan terbesar di dunia, dalam memasarkan konsentrat yang mengandung tembaga, besi, emas dan perak ke seluruh penjuru dunia. Sumber daya alam di Papua berupa gunung emas, tembaga dan besi sekarang dikuasai asing, yakni Amerika Serikat.

Itulah yang menyebabkan Presiden Soekarno pada pasca kemerdekaan, 17 Agustus 1945 – 22 Juni 1966, untuk meneruskan revolusi agar jalannya semua aspek kehidupan negara dapat cepat terpatri ke arah yang tetap, terlepas dari kekurangan di sana-sini.

Presiden Soekarno menerapkan Ajaran Trisakti, berbunyi, “berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan”.

Di masa pemerintahan Presiden Soekarno sebagai penganut ideologi Pancasila berorientasi sosialis, nasionalisme dijunjung tinggi, kebijakan pembangunan ekonomi memaksimalkan potensi kekuatan mandiri dalam negeri, dengan asumsi potensi kekuatan dari luar negeri sebagai pendukung dalam alih teknologi dan strategi distribusi.

Sejak pemerintahan Presiden Soeharto terhitung 1 Juli 1966 sampai era demokratisasi per 21 Mei 1998 hingga sekarang, arah politik luar negeri Indonesia lebih lentur terhadap investasi asing.

Akan tetapi sikap lentur tanpa dilengkapi filter dengan mengabaikan 4 Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Kebhinekaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sumberdaya alam di dalam negeri lambat-laun akan dikuasi sepenuhnya pihak asing.

Jika masalah ini tidak disadari, maka suatu saat nanti rakyat Indonesia hanya bisa menjadi penonton yang berimplikasi kepada masyarakat merasa asing tinggal di negeri sendiri.

Ketertarikan pihak luar terhadap sebuah negara dalam berbagai perspektif, tergantung sampai sejauh mana ketersediaan sumberdaya alam yang dimiliki. Pada tahun 1953, Presiden Amerika Serikat, Dwight David Eisenhower, mengakui, sangat memperhitungkan dan tertarik terhadap wilayah nusantara.

Dimana penerusnya kemudian memaksakan ideoleogi liberalisme kapitalisme dianutnya yang dibuktikan dengan pemberangarusan komunisme, 1965 – 1974, karena Indonesia memiliki sumbedaya alam berupa minyak bumi terbesar kelima di dunia.

Ini peringatan keras bagi Indonesia di tengah aksi terorisme dan paham radikal di dalam negeri tumbuh subur bagaikan jamur di musin penghujan, sehingga Pemerintah mesti merevisi undang-undang tindak pidana teorisme dan menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2017, tanggal 10 Juli 2017, tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles