Senin, 15 Juli 2024

SEJAK JAMAN VOC..! Jengkel RI Kebanyakan Ekspor Barang Mentah, Jokowi: Makin Hari Makin Habis!

KARAWANG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan Indonesia selama ini seringkali mengekspor secara mentah sumber daya alam di Indonesia. Komoditas hanya dijual tanpa nilai tambah.
Menurutnya, sudah banyak komoditas yang hampir habis pasokannya karena hanya diekspor mentah tanpa ada nilai tambah.

“Kita memiliki sumber daya alam melimpah tapi berpuluh tahun diekspor dalam bentuk raw material tanpa nilai tambah dan material kita makin hari makin habis,” sebut Jokowi ketika meresmikan pabrik baterai listrik PT HLI Green Power, Karawang, Rabu (3/7/2024).

Untuk itu, pemerintah membesut kerja sama dengan Hyundai dan LG agar sumber daya alam di Indonesia bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai tambah besar. Dalam hal ini, nikel, bauksit, dan tembaga, diolah menjadi baterai kendaraan listrik.

“Sekarang dengan dibangunnya smelter, dibangunnya pabrik cell battery, kita akan menjadi pemain global yang penting dalam global supply chain untuk kendaraan listrik,” kata Jokowi.

Targetnya, pemerintah ingin agar semua sumber daya di Indonesia tidak cuma diekspor mentah. Minimal menjadi barang setengah jadi atau kalau perlu jadi barang jadi dengan nilai tambah besar.

“Kita bisa produksi setengah jadi minimal atau barang jadi seperti sekarang,” kata Jokowi.

Ekspor Bahan Mentah Sejak VOC

Sebelumnya kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menekankan pentingnya hilirisasi produk mentah Indonesia, tidak hanya untuk sektor tambang, tetapi juga untuk bahan pangan. Jokowi menyebutkan, Indonesia selama ratusan tahun menjadi negara pengekspor bahan mentah, bahkan sejak zaman penjajahan melalui persekutuan dagang asal Belanda, Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC).

“Ini harus jadi kesadaran kita semuanya. Karena sudah 400 tahun. Kita ini ekspor bahan mentah sejak VOC,” ujarnya saat membuka Rapat Kerja Nasional Hipmi di ICE BSD, Tangerang, Kamis (31/8/2023) lalu.

Jokowi menjelaskan, hilirisasi ini tidak hanya bisa dilakukan di sektor tambang seperti nikel dan tembaga, tetapi juga bisa dilakukan oleh pelaku UMKM.

Salah satunya dengan mengolah biji kopi lalu dikemas dengan kemasan yang menarik. Menurut dia, kemasan yang menarik pada suatu produk dapat menciptakan nilai tambah yang bisa meningkatkan nilai jual produk tersebut.

“Sekali lagi saya sampaikan hilirisasi itu bukan hanya untuk yang besar-besar. Bukan urusan nikel saja, bukan urusan tambang tembaga yang gede-gede, enggak. Yang UKM pun kita harus industrialisasikan, harus hilirisasikan semua produk yang masih mentah,” tegasnya.

Demikian juga dengan rumput laut, selama ini Indonesia menjadi negara pengekspor rumput laut terbesar nomor 2. Bahan mentah ini diekspor ke negara-negara tetangga seperti Filipina dan Thailand untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.

Padahal, kata Jokowi, Indonesia bisa membuat industri baru untuk mengolah bahan mentah rumput laut ini menjadi tepung agar-agar atau karagenan.

Begitu pun dengan kelapa sawit yang bisa dihasilkan Indonesia 46 juta ton per tahun bisa diindustrialisasikan menjadi sabun, cocoa butter, dan oleo food.

“Jangan biarkan mentah-mentah itu terus diekspor, industrialisasikan hilirisasikan di dalam negeri agar ada kesempatan kerja yang terbuka. Nilai tambah kita dapatkan sehingga negara akan dapat nanti. Kalau nilai tambah muncul, negara pasti dapat. Penerimaan negara otomatis akan naik,” ucapnya.

Untuk itu, dia berpesan kepada para pengusaha muda untuk mau mengolah bahan mentah dan memberikan nilai tambah pada produk-produk yang dijual.

“Kemasan yang sudah bagus-bagus seperti ini, ini yang terus jangan hanya Banten saja, tapi seluruh provinsi harus melakukan ini dan motornya adalah Hipmi karena kreativitas dan inovasi itu ada di pengusaha-pengusaha muda,” tuturnya. (Mus/Web)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru