Minggu, 26 April 2026

Semakin Sejahterah, Rakyat China Tak Perduli Ancaman Amerika

Situasi di Beijing Road, salah satu pusat perbelanjaan di Beijing, China. (Ist)

Kemajuan di China terus berlangsung cepat. Tidak seperti yang diisukan di Indonesia atau di media-media barat. Perang dagang China Versus Amerika tidak banyak berpengaruh di masyarakat China. Moch. Ikbal, wartawan Bergelora.com melaporkan catatan perjalanannya. Menjadi saksi nyata situasi terakhir di China. Bergelora.com menurunkannya untuk pembaca. (Redaksi)

Oleh: Moch. Ikbal

SEBELUM berangkat aku mau tukar rupiah ke  Yuan di money changer di Jakarta. Sudah tidak ada. Sudah sejak kemarin senin katanya Yuan langka dimanapun. Pas ada langsung diborong dan cepat habis. Ada apakah ini?

Apa benar permintaan pasar akan Yuan meningkat. Transaksi RMB pun meningkat, mulai menggusur dominasi transaksi dollar Amerika. Berarti ekonomi China makin kuat. Bisa jadi money changer disini kurang cepat mengantisipasi, jadi kekurangan. Ini bisa aku buktikan dari perjalananku ini di China

Perjalananku dari ke Beijing, Nanning, Changsa, Shenzhen dan Guanzhou. Di setiap kota saya tinggal 3-4 hari. Dan seperti biasa, hanya yang di luar China yang ribut. Di setiap kota disini tenang-tenang aja. Rakyatnya yang belanja tetap banyak. Artinya pasar domestiknya bisa menopang ekonomi. Padahal sebagian teman-teman di Indonesia bacotnya sudah meramalkan China akan kolaps akibat perang dagang melawan Amerika.

Aku teringat seorang teman dekat. Tiap hari ngomongin China kolaps. Gara-garanya baca berita dan nonton televisi di Jakarta. Ternyata media termakan propaganda Amerika yang sedang perang dagang melawan China. Apalagi waktu kerusuhan di Hongkong. Katanya Hongkong segera merdeka. Kalau inget dia aku jadi sedih. Orang sepintar dan sepengalaman dia koq gampang banget kemakan isu murahan Amerika. Padahal gak pernah ke China. Aku menyaksikan sendiri masyarakat disini tetap makmur, bahagia dan adem ayem aja. Ada banyak orang di tanah air, seperti temanku itu yang termakan isu murahan Amerika

Sebagian besar industri yang sudah dijalankan oleh robot di China. (Ist)

Sudah jelas urusan Hongkong aku lihat gak ada pengaruhnya buat China daratan. “No country can not stop china become number one,” kata setiap orang yang aku wawancarai disetiap kota-kota yang aku lewati. Ada yang buruh, petani, mahasiswa dan profesional. Pandangannya satu,–Amerika tidak akan pernah lagi bisa mematahkan China.

Australia saja, buat mereka sekarang dianggap sebagai negara miskin. Namun anehnya mereka suka dengan Indonesia. Mereka bilang, Indonesia harus bisa jadi seperti China. Kalau denger beginian, hatiku miris, sedih…apa mungkin?

Kepada kawan-kawanku yang meragukan Jack Ma, Penguasa Alibaba, Online Jual Beli Internasional. Kalian yang bilang Jack Ma murni kapitalis. Semua rakyat China tahu, Jackma jadi anggota partai (Partai Komunis China-red) sejak dia kuliah. Bukan mendadak setelah dia bikin Alibaba.  Orang seperti Jack Ma disini ada banyak. Karena ekonomi China sekarang ditopang teknologi digital. Dan mereka semua anggota partai. Koq bisa ya, kapitalis tapi anggota partai?

Di Beijing aku ketemu beberapa orang Indonesia yang mau impor barang dari china. Mereka masih muda-muda, paling 20-an tahun. Sudah satu dekade ini banyak pengusaha Indonesia memanfaatkan kemajuan produksi di China untuk berdagang di Indonesia. Macem-macem jenis barang dagangan dibeli dan dijual di Indonesia. Karena harganya disini murah. Terutama pakaian perempuan dan alat rumah tangga.

Suasana di pusat perbelanjaan di Senchen, China. (Ist)

Produksi barang di China memang dahsyat. Karena dilakukan secara massal melibatkan rakyat banyak dilengkapi dengan tehnologi canggih. Soal pengangguran dan tenaga produksi di China, 3 bulan lalu pengangguran meningkat karena saat itu barengan dengan kelulusan baru.

Saat ini, China punya 250 juta penduduk yang masuk 60 tahun dan pensiun. 150 juta masuk 70 tahun. Di china, biasanya meski secara formal pensiun usia 60. Setelah keluar surat pensiun, mereka umumnya akan dipekerjakan kembali, untuk mengajari pegawai pegawai muda. Supaya yang muda ngerti lapangan dan cepat menyesuaikan. Di satu sisi juga bisa menjaga kesinambungan.

Nanti setelah mencapai umur 70 tahun atau benar-benar gak bisa lagi bekerja, kerjaan orang tua hanya jalan-jalan dan piknik keliling China atau keluar negeri. “Mengejar kebahagian spiritual,” kata mereka.

Pensiunan di China sekarang hidupnya makmur. Seorang  teman di Shen Zhen cerita uang pensiun mereka berdua suami istri sebesar 10.000 Yuan per bulan. Untuk biaya hidup dua orang cukup 3.000 Yuan. Tiap bulan sisa 7.000 Yuan ditabung. Tiap tahun bisa jalan-jalan keluar negeri. Beberapa bulan sekali ikut tour di dalam negeri. Itupun uangnya masih tersisa ga habis dipakai.

Seorang lagi teman pensiunan tinggal di Fuzhou, dia pensiunan karyawan Pos. Suaminya pensiunan dosen. Hanya orang biasa bukan anggota partai. Tahun lalu kirim foto-foto lewat WeChat. Foto-foto sedang piknik diberbagai propinsi di China dan foto piknik di Australia. Dia cerita bilang “terima kasih pada partai dan pemerintah telah menaikkan uang pensiun hingga mereka tiap tahun bisa piknik keluar negeri”. Semua orang tua di china dapat tunjangan hari tua. Setiap provinsi beda-beda besarannya. Aku gak kebayang wajah orang-orang Indonesia yang masih sengit dan anti China di Indonesia.

Nih yaa,– Sekarang, di perusahaan, harus ada training tentang Xi Jinping spirit untuk mewujudkan cita-cita China (China Dream). Nggak dipemerintahan tapi juga perusahaan swasta. Mungkin kalau di Indonesia itu yang diinginkan dalam revolusi mentalnya Jokowi. Tapi koq gak kelihatan juga hasilnya ya.

Apakah ada perusahaan lari keluar negeri? Kata mereka gak papa, karena China juga sudah shifting dari kebijakan industri pertama ke kedua yang menekankan pada teknologi dan kualitas tinggi. China tidak mau lagi jadi gudang pekerja murah.

Gimana nanti nyata kalau yang akan mengerjakan robot produk artificial intelejen (AI) ? Mereka bilang AI adalah salah satu produk industri mereka yang berteknologi dan kualitas tinggi. Sehingga merekalah yang akan menghasilkannya. Anak muda kuliah saat ini dipersiapkan untuk bekerja menghasilkan produk itu AI. Waduh ampun meeeen….!

Barusan ketemu anak Indonesia lagi belajar di Guangxi. Mereka lagi beli jaket musim dingin. Mereka bilang pakaian di sini murah-murah, Cuma kalau dari Indonesia belinya di sini ya jadi mahal karena ongkos pesawatnya. Ini anak-anak indonesia yang lagi belajar yang dianggap delusional oleh temen-temen yang anti China. Ora tahu lungo RRT mung waton mbacot…..

Menariknya bung, meski sekarang sudah mengarah pada industri yang high-tech, tapi industri pangan tetap jadi basis yang tetap dan akan selalu dipertahankan. Ceritanya panjang sendiri.

Oh iya, disini gak ada bayar pakai cash. Semuanya pakai Ali Pay. Dari pedagang besar sampai kecil dan warung klontong. Pengamenpun bayarannya pakai WeChat. Kecuali kayak aku yang orang asing, pakai cash. Di beberapa supermarket kalau belanjanya gak terlalu banyak sudah pakai mesin self service payment. Gak lewat kasir lagi.

Tenaga kerja berkurang. Mereka kemana? Mereka bekerja di tempat lain and dikasih pelatihan dan dibekali modal bikin usaha baru. Di China itu, orang bisa pilih. Sekarang kalau aku kerja di BUMN, kalau bosen keluar and kerja di swasta. Setelah itu bisa balik ke BUMN lagi. Ada temanku yang begitu. Tapi gak ada link beritanya yang bisa dibaca di Indonesia.

Tapi kalau mereka jadi PNS, keluar ke swasta, gak bisa boleh lagi balik jadi PNS. PNS disini harus sederhana dan pastilah orang partai. Sedangkan rekrutmen jadi anggota Partai Komunis Chin sangat ketat dan disiplin keras. Makanya ada juga kadang mereka capek disuruh jadi sederhana terus, makanya keluar pilih kerja swasta, asal partai mengijinkan dan menerima penugasan baru dari partai untuk membesarkan perusahaan swasta.

Orang China sekarang mikirnya biar makin sejahtera. Jadi gak penting itu  identitas politik seperti yang dikatakan kawan-kawan yang anti China di Indonesia. Di Beijing sempat ketemu beberapa pengusaha Indonesia yang berbisnis dengan china. Mereka heran-heran kenapa petani di China bisa maju, kenapa kita tidak?

Oh iya, Map (peta) yang dari aplikasi China memakai satelit China sendiri, jauh lebih canggih dari pada google map. Lebih detail dan tiga dimensi. Bisa diputar 360 derajad. Rakyat disini bangga dengan aplikasi WeChat nya lebih hebat ketimbang Whatsapp. Bisa translate, kirim suara, dan bisa buat bayar Alipay.

Di beberapa tempat di negara Asean yang banyak turis Chinanya, Alipay kerja sama dengan restoran dan juga kasih diskon harga makanan. Jadi menurutku, masalah google, facebook dan WA yang aksesnya terbatas di China bukan semata-mata soal keamanan, tapi ini adalah memastikan pasar dalam negeri tetap dikuasai China.

Emang kayak Indonesia? China yang pasarnya besar dan kuat gak bakal mau kalau hanya menguntungkan orang asing. China juga harus ambil keuntungan. Dan yang terpenting keuntungannya terbesar masuk ke negara dan dipakai untuk mensejahterahkan kembali negara. Hehehehe jadi inget lagi sama kawan yang anti China di Jakarta.

Di China pemerintah hadir dalam kegiatan produksi petani dan pertanian, mulai dari penyuluh, penelitian komoditas yang cocok ditanam, bibit unggul, sampai pada pemasaran. Kalau sampe petani miskin dan tidak maju, komite partai desa dan pejabat desa bisa dicopot! Aku tahu dari nonton Cctv-7 siaran Pertanian dan Perkebunan dan Hortikultura. Dulu CCTV-7 sekarang ganti CCTV-17.

Sebenarnya, Indonesia utamanya punya ladang sumbernya. Teknologi dan SDM kan baru mau dikembangkan. Ntah kapan kita baru bisa optimis. Aku pribadi sudah menunggu seumur hidup masih belum ada tanda kemajuan berarti. 

Makanya, menurutku, biar Presiden Jokowi mau jumpalitan, lihat saja nanti apa hasilnya? Cari kos aja menjadi masalah diganggu soal agama! Almari es aja bisa ada stempel Halal. Main catur aja dilarang. Ini apa yang salah dari masyarakat kita ya? Ampun dah..!

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles