JAKARTA – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan pemetaan patahan aktif skala 1:100.000 di wilayah Bogor sebagai bagian dari upaya memperkuat basis data kebencanaan.
Berdasarkan hasil pemetaan pusat survei geologi, jalur Sesar Cisadane membentang mengikuti alur Sungai Cisadane dan melintasi sejumlah wilayah padat penduduk.
“Kegiatan pemetaan diawali dengan interpretasi kelurusan pada citra DEMNAS berdasarkan data geologi dan geofisika serta data kegempaan,” ucap Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, Sukahar Eka melalui keterangan teknis.
Tim survei juga bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG), BPBD Kabupaten Bogor, serta PT Osean Land.
Kolaborasi ini dilakukan untuk mendukung akuisisi data LiDAR dan sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat.
Penggunaan teknologi penginderaan jauh dan LiDAR memungkinkan tim memperoleh gambaran morfologi dan struktur geologi secara lebih presisi. Data tersebut kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi keberadaan patahan yang berpotensi aktif.
Sukahar menyebutkan, jalur sesar mengikuti pola aliran Sungai Cisadane yang memiliki hulu di kawasan Gunung Salak-Pangrango dan bermuara di Laut Jawa wilayah pesisir Tangerang (Tanjung Burung).
Dengan kata lain, jalur sesar tersebut melintasi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Tangerang Selatan. Wilayah-wilayah ini dikenal sebagai kawasan dengan kepadatan penduduk dan aktivitas pembangunan.
Di wilayah Bogor, jalur sesar ditandai dengan perbukitan struktural yang disertai retakan memanjang berarah barat laut-tengara atau searah Tangerang. Retakan ini memotong batuan tepat di atas Gunung Panjang (umumnya disebut Gunung Kapur-Ciseeng), Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor.
Indikasi lain yang menguatkan keberadaan sesar adalah ditemukannya rawa alami atau sag pond di sepanjang jalur sesar tersebut. Sag pond sebagai indikator sesar
Sag pond merupakan cekungan kecil akibat pergerakan patahan mendatar sejajar. Sag pond juga biasa dikenal dengan kolam yang terbentuk secara alami.
Di Parung, kolam ini dijadikan pemandian air panas.
“Rawa alami ini terbentuk oleh suatu downwarping (penurunan yang melengkung) di antara dua alur yang berbeda dalam lajur sesar.
Sag pond merupakan rawa depresi berukuran kecil (pull-apart basin) akibat mekanisme transtensional oleh karena gerak dua patahan mendatar yang saling sejajar,” tuturnya.
Ia menambahkan, pemetaan sebaran Sesar Cisadane diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan. Dengan data yang akurat, potensi kerugian akibat bencana di wilayah Bogor hingga Tangerang dapat ditekan sejak dini.
“Masyarakat diharapkan terlibat dalam upaya mitigasi melalui partisipasi aktif dalam kegiatan sosialisasi, pelatihan dan simulasi, membangun rumah yang sesuai dengan standar serta tidak menyebarluaskan informasi yang belum terbukti kebenarannya,” ujarnya.
“Pemerintah daerah juga perlu mempertimbangkan kondisi geologi dalam proses penyusunan rencana tata ruang (RTRW). Gempa bumi tidak dapat dicegah dan belum dapat dipastikan kejadiannya sehingga masyarakat perlu selalu waspada tanpa perlu panik, tetapi juga jangan lalai,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Sesar Cisadane teridentifikasi membentang melintasi wilayah padat penduduk di Jabodetabek. Sesar adalah rekahan atau zona retakan pada batuan di kerak bumi yang mengalami pergeseran atau pergerakan. (Enrico N. Abdielli)

