JAKARTA- Toleransi harus menjadi sebuah kebutuhan bagi semua karena kebhinekaan adalah pembentuk bangsa. Bukan sesuatu yang sifatnya given tapi harus diperjuangkan. Hal ini ditegaskan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Repubuik Indonesia (MPR RI) Bambang Soesatyo yang dalam penjelasannya saat menjadi pembicara dalam acara seminar nasional yang di selenggarakan oleh SETARA Institute di Hotel Ashley, Jakarta, Senin (11/11) yang bertemakan “Merawat Kemajemukan, Merawat Negara Pancasila: Agenda Nasional Promosi Toleransi Pada Kepemimpinan Baru”.
Bambang Soesatyo menjelaskan juga bahwa radikalisme adalah embrio lahirnya terorisme melalui kekerasan dan aksi-aksi yang ekstrim.
“Radikalisme adalah embrio lahirnya terorisme dengan ciri seperti intoleransi, fanatik selalu merasa benar sendiri, eksklusifisme, hingga kekerasan dalam bentuk lain,” tambahnya.
Oleh karena itu Bambang Soesatyo menegaskan bawah Presiden RI memiliki komitmen tinggi untuk menjaga ideologi bangsa dengan membuat dua lembaga untuk pemantapan ideologi bangsa yaitu MPR dan BPIP (Badan Pembinaan Idelogi Pancasila).
“MPR dan BPIP adalah dua lembaga yang harus bekerjasama dalam pemantapan ideologi bangsa dalam mengawal dan menumbuhkan keyakinan terhadap Ideologi Panacsila,” tegas Bambang Soesatyo.
Hilangnya Ekosistim Pancasila
Kepada Bergelora.com dilaporkan, sementara itu Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo mengatakan, ekosistem Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sudah hilang.
“Ekosistem Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat sudah hilang. Kita harus mengembalikan kembali sejarah awal bangsa dengan penuh kerukanan ditengah perbedaan. Ekosistem Pancasila adalah ekosistem yang menerima perbedaan dan pandangan hidup bahwa berbeda itu saling melengkapi dan saling merajut persatuan,” ujar Romo Benny dalam kesempatan yang sama.
Dalam hal ini Romo Benny menegaskan bahwa untuk mengembalikan Ekosistem Pancasila ini harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak yang kemudian menjadikannya habituasi.
“Pendidikan Pancasila bukan lagi dengan cara doktrinisasi, tetapi dengan habituasi menanamkan pendidikan karakter kepada anak-anak untuk mengenal keragaman dan kemajemukan,” tambah Romo Benny.
Terdapat hal pokok yang harus ditanamkan dan menjadi habituasi sedari dini dalam pendidikan karakater yaitu mengajari perbedaan dan memberikan pemahaman bahwa berbeda itu saling melengkapi.
“Guru dan orang tua haris membangun Ekosistem Pancasila ini. Menghayati bukan didoktrin, tetapi bisa lewat dongeng, pembelajaran, kesenian, hingga permainan. Sehingga menjadi habituasi sejak dini sudah menhayati pancasila dalam hidup yang saling melengkapi,” jelas Romo Benny. (Aan Rus)

