Insiden di Laut Natuna terakhir seharusnya menjadikan pelajaran sekaligus peringatan bagi Indonesia untuk segera melakukan transformasi dibidang politik luar negeri dan pertahanan RI agar bisa menjawab berbagai tantangan global yang akan terus menderas. Tulisan ini adalah bagian ketiga dari lima seri tulisan yang diambil dari dokumen yang berjudul, ‘Sebuah Jawabankah? Transformasi Polugri & Pertahanan Indonesia Sebagai Negara GMF Menghadapi Tantangan Regional dan Global Dalam Resiko Geopolitik Era Vuca’ yang didapat dari berbagai sumber dan disampaikan analis Pertahanan dan Militer, Dr. Connie Rahakundini Bakrie pada diskusi publik bertajuk ‘Tantangan Geopolitik Indonesia Dalam Perspektif Global Dan Kawasan’ yang diadakan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Jakarta, Jumat (17/2) lalu.
Oleh: Connie Rahakundini Bakrie
JIKA disimpulkan, agenda global akan berujung pada 4 + 1 issue utama, yaitu Demokratisasi, Liberalisasi Perdagangan Dunia, HAM, Lingkungan Hidup dan Antiterrorism. Tidak ada negara yang mampu melawan ke lima agenda ini secara sendiri sendiri saat dimana dunia bergerak sangat cepat dikatalisasi oleh globalisasi serta modernisasi melalui perkembangan, R&D ilmu pengetahuan dan teknologi.
Maka masa depan peperangan menghadapi dua aspek ideologis,– Mereka yang memprioritaskan peran teknologi dan mereka yang tidak. Strategi militer berupa pembinaan, pengembangan, penggelaran dan penggunaan seluruh kekuatan dan kemampuan militer diciptakan untuk mendukung strategi pertahanan dalam rangka menjaga, melindungi, dan memelihara kepentingan nasional. Pembinaan dan penggunaan militer diarahkan pada keterpaduan tiga angkatan tanpa meninggalkan ciri khas nya baik dalam operasi gabungan maupun operasi tiap angkatan. Strategi militer adalah rencana serta pelaksanaan melibatkan angkatan bersenjata yang besar dengan menggabungkan unsur diplomatik, informasi dan militer.
Sebuah strategi militer kontemporer jika dikembangkan melalui ilmu militer adalah peperangan subdisiplin dan berkaitan erat dengan kebijakan luar negeri selain kebijakan ekonomi.
Apabila sebuah kekuatan militer terkemuka di dunia melepaskan kekuatan destruktif terbesar yang dikenal sejarah menganggap satu atau lebih negara sebagai lawan (The Other), maka naluri kelangsungan hidup sebuah negara yang merdeka bebas dan berdaulat akan membuat negara yang diperlakukan sebagai lawan akan berusaha untuk menggabungkan kekuatan militer dan non-militer dalam sebuah kekuatan contra vail untuk mencegah dan menghalangi kekuatan musuh yang bertransformasi menjadi resiko dan ancaman. Hanya ada dua kekuatan yang besar seperti itu, Rusia dan China.
Konser kekuatan hubungan Rusia-Cina menjadi aliansi utama yang terdiri dari negara dan masyarakat berdaulat dimana keduanya secara bersamaan merasa terancam secara aktif dalam aspek ekonomi dan militer pihak Barat.
Pernyataan Rusia bahwa kecepatan Rudal Hipersoniknya mencapai kecepatan 30 ribu km per jam (senjata hipersonik umumnya 6.125 kilometer per jam) saat Vladimir Putin meluncurkan Avangard bersama dengan beberapa senjata andalan lainnya di Maret 2018 dengan menekankan bahwa Avangard memiliki kemampuan terbang 27 x lebih cepat dari kecepatan suara dan senjata ini merepresentasikan terobosan teknologi cerdas berbasis artificial intelgence (AI). Rudal hipersonik Avangard adalah rudal antarbenua dengan kemampuan terbang secepat Mach 20 (belasan ribu km) yang mampu menyesuaikan ketinggian serta arah untuk menghindari system pertahanan lawan serta terbang rendah untuk menghindari rudal pencegat.
Secara keseluruhan ada lima sistem persenjataan canggih terkini yang digelar sebagai kekuatan militer unggulan Russia, Kelima sistem tersebut adalah (1) Rudal Jelajah Burevestnik, (2) Sistem peluru kendali Avangard, (3) Rudal balistik antarbenua (ICBM) Sarmat, (4) Kapal selam nirawak Poseidon, dan (5) Rudal hipersonik Kinzhal.
Rudal jelajah Burevestnik merupakan senjata bertenaga mini-nuke yang mampu membawa hulu ledak nuklir dengan kapabilitas jarak tempuh tak terbatas dan mampu menjamin bahwa Rusia tidak bisa dikalahkan oleh seluruh sistem pertahanan rudal yang pernah ada. Rusia juga membanggakan kapal selam nirawak Poseidon, yang khusus menargetkan pelabuhan atau kapal induk dengan sumber tenaga nuklir yang mampu memberinya jarak tempuh antar benua. Terakhir, Rudalhipersonik Kinzhal untuk dipasang pada pesawat tempur MiG-31K selain pengebom jarak jauh Tu-22M3 yang dapat dibawa dalam kecepatan terbang minimum oleh jet tempur untuk kemudian dilepaskan dengan mesin propelan-padatnya sendiri sehingga mampu melaju secepat Mach 10.
Melihat konteks geostrategisnya, parade militer China dan Rusia adalah sebagai respon atas situasi lingkungan. Fakta atas dua variable: 1. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terus memperkuat pasukan di perbatasan sebelah Barat Rusia selain 2. AS juga mengundurkan diri dari Pakta Senjata Nuklir Jarak Menengah 1987, sesungguhnya dinilai Moscow sebagai ancaman militer bersifat nyata terhadap Rusia Dilain sisi, Ryan D. McCarthy US Secetary of Army ke-24 yang menduduki jabatannya sejak 23 Juli 2019 menyatakan bahwa anggaran US Army akan mewakili pergeseran yang paling konsekuensial dalam cara Angkatan Darat AS diperlengkapi pada 40 tahun terakhir.
McCarthy mengatakan ‘’Rencana anggaran baru ini diperlukan untuk bersaing, menghalangi dan mengalahkan musuh AS yang paling mungkin di kawasan Eropa dan Pasifik.” Menurutnya, ancaman strategis jangka panjang yang adalah China, sehingga kekuatan AD Amerika harus mampu menekankan pada sistem pertahanan rudal udara terpadu, artileri jarak jauh dan kemampuan lainnya. Selain China, Rusia dianggap ancaman karena mampu menggunakan aliansi militernya dengan didukung dengan kemampuan Cyber dan perang elektronik terkini.
Dengan kurang dari 500.000 prajurit AD, AS sedang mengubah konsep operasi angkatan daratnya nya melalui penggabungan kekuatan berbasis kemajuan teknologi yang akan mendukung struktur baru di 2020. Portofolio modernisasi tentara Angkatan Darat AS akan dibangun sesuai tantangan diatas dalam beberapa program al:
1. USD 1.300.000.000 untuk rudal Long Range Precision/LRPF (dan untuk mendanai system senjata hipersonik untuk mengejar kemampuan kemajuan industry pertahanan Rusia dan China
2. USD 13.200.000.000 untuk kendaraan tempur generasi berikut termasuk robot dan kendaraan tempur berawak opsional yang akan dibangun dengan AI
3. USD 4.700.000.000 untuk Future Vertical Lift, generasi baru helikopter ultra canggih, untuk menggantikan armada helikopter yang telah mengalami penuaan technology
4. USD 12.500.000.000 untuk System Control dan jaringan komunikasi baru dalam memanfaatkan teknologi dan sistem berbasis Ruang;
5. USD 8.800.000.000 untuk modernisasi pertahanan udara dan merevitalisasi rudal pertahanan udara jarak pendek selain mendukung pengadaan kemampuan proteksi terintegrasi Iron Dome
6. USD 6.700.000.000 untuk system terpadu Visual Augmentation yang dapat memberikan pasukan infanteri kemampuan unggul di medan perang
Selain itu, AD Amerika akan memulai memperbaharui kalender pelatihan untuk memastikan tentaranya kembali ke bentuk deployable dengan menjamin termilikinya 26 tim Brigade tempur tingkat tinggi (top-tier) dengan kesiapan yang ditingkatkan.
Sudahkah menjadi catatan penting pertahanan keamanan Indonesia dan kawasan bahwa bahwa seluruh kompetisi pembangunan kekuatan militer serta perkembangan masif dari technology tidak akan dapat terlepas dari factor geopolitik elemen langka bumi?
Geopolitik Elemen Langka Bumi
Permintaan terhadap elemen langka bumi akan tumbuh pesat dalam beberapa tahun kedepan terjadi tidak semata karena dunia mengalami transisi energi. Kekuatan berbagai kombinasi proton, neutron dan elektron dapat mengerahkan kita ke bentuk dunia baru ketika dikombinasikan dengan Yttrium dan Scandium dikarenakan signifikansinya pada industri sipil serta pertahanan, pada teknologi yang terus dikembangkan dan terlebih jika dikaitkan pada kontrol China atas mayoritas pasar elemen langka bumi. Maka dipastikan pertambangan elemen langka bumi serta pengolahan dan kemampuan fabrikasi akan segera memberikan efek geopolitik bersifat magnitude termasuk untuk Indonesia.
Tidak semua unsur tanah langka ditemukan dalam jenis dan jumlah deposito yang sama; karena proses yang terjadi di tempat berbeda menghasilkan konsentrasi yang berbeda. Jenis mineral berbeda ini biasanya dikategorikan menjadi elemen langka bumi unsur cahaya (LREE) dan elemen langka bumi unsur berat (HREE).
China lah yang kemudian menambahkan subkelompok tambahan, elemen unsur langka bumi medium (MREE). Wilayah Cina mengandung sekitar 1/3 cadangan dunia setelah Cina menemukan cadangan baru pada tahun 1960-an maka sebagai pemilik elemen langka bumi kedua terbesar dunia dimana secara geografis Mongolia menyumbang hampir 70 persen dari produksi LREE Cina melalui satu tambang tunggal — Baotou Bayan OBO Mine — yang mampu memproduksi lebih dari 50 persen unsur ini.
Provinsi Jiangxi menghasilkan sekitar 50 persen dari MREE serta HREE sementara Ganzhou menyumbang sebagian besar dari produksi tersebut. Ketika China pada 2010 secara mendadak menghentikan ekspor elemen langka bumi, garam dan logam ke Jepang maka zona zona industri AS yang mengimpor produk Jepang dengan material dasar dari China tersebut langsung merasakan dampak sekunder. Meskipun kebijakan itu bersifat sangat sementara, hal itu mampu segera mendorong negara negara kemudian berebut untuk mencoba menemukan, mengembangkan dan membuka alternatif sumber elemen langka bumi.
Australia misalnya, kemudian meningkatkan produksi LREEs dengan membangun fasilitas kontroversial pengolahannya di Malaysia. Perusahaan pertambangan Molycorp di AS membuka kembali tambang Mountain Pass di California pada 2012. Tetapi, beberapa elemen penting menengah dan berat seperti Disprosium dan Terbium yang diperlukan untuk menghasilkan magnet permanen bagi kendaraan listrik dan turbin angin, sebesar 98 % pasokan global hingga saat ini masih dibawah kendali dan kontrol China.
China tidak hanya menghasilkan sebagian besar elemen langka bumi di dunia, tetapi juga menghasilkan hampir 90 % perpaduan magnet permanen dunia. Bahkan, rencana perluasan fasilitas Lynas di Malaysia dan tambang Mount Weld di Australia sebagian didukung oleh permintaan besar pasar China. Permintaan akan elemen langka Neodymium, Disprosium dan Terbium — semua digunakan dalam magnet (dikenal sebagai magnet NdFeB) — meningkat signifikan sehubungan dengan demand produksi kendaraan berbasis tenaga listrik serta kebutuhan akan turbin angin yang melonjak. Kebutuhan besar besaran ini lahir dari rencana ambisius Eropa, China dan AS untuk melarang penjualan kendaraan bertenaga bahan bakar fosil.
Pada akhirnya, perkembangan dunia komunikasi dan digital, pergeseran prioritas energi global dan pembangunan kekuatan militer yang diikuti secara massif dengan berkembangnya tehnology serta industry pertahanan akan membawa tiap tiap negara untuk mencari sumber atas permintaan pasar terkait akan elemen ini.
Apakah Indonesia telah siap menghadapi tantangan dan ancaman serangan berbentuk soft & hard power terkait penguasaan akan elemen langka bumi yang segera akan berpengaruh secara geopilitik pada wilayah permukan dan lautan lautan Indonesia?

