MEDAN- Dunia olah raga seperti sepakbola yang populer dan menjunjung sportivitas haram bila dikotori arus kepentingan politik praktis elite. Seruan ini kerap dikumandangkan para suporter PSMS baik di Tribun Utara (Kampak FC, PSMS FC dan Ultras 1950) maupun di Tribun Selatan (Smeck Hooligan).
Hal ini disampaikan Johnson Silalahi, pegiat suporter yang mengawani Kampak Van Java dan PSMS FC.
Pasca regulasi kompetisi Liga Profesional tanpa menggunakan APBD lagi menjadikan klub peserta Liga Profesional menjadi mandiri dan harus berbadan hukum. Tarik menarik kepentingan politik sangat terasa di sepakbola mulai Liga dan Klub yang terbelah 2 saat itu.
Pada debat perdana paslon Pemilihan Gubernur Sumut, Rabu 30 Oktober 2024 di Hotel Grand Mercure Medan kembali PSMS diseret dalam laga politik tak elok. Kontestan Pilkada Gubernur Sumut diikuti oleh Edy Rahmayadi (pemegang saham PSMS) dan Bobby Nasution.
Viral Suporter Bobby teriak menjelekkan PSMS medan….:
Teriakan pendukung Bobby menantu Joko Widodo yang ditujukan ke arah Edy Rahmayadi dengan kalimat “PSMS hancur… PSMS hancur” seketika mencabik luka ribuan suporter PSMS Medan. Tertangkap bukti kamera dan video terdapat Bobby Smeck mantan Sekretaris Smeck Hooligan berteriak heboh ditonton pemirsa tanah air.
Lebih lanjut Johnson Silalahi mengatakan bahwa PSMS menjadi team Musafir saat ini tanpa stadion. Kalau dulu stadion Teladan selalu banjir jika hujan dan lapangan yang tidak rata kini stadion Teladan belum selesai revitalisasi yang dilakukan oleh Bobby Nasution. Dengan anggaran 510 Milyar dan janji selesai pada Oktober tetapi hingga November 2024 masih jauh dari harapan.
Mudah berspekulasi bahwa proyek revitalisasi stadion Teladan sengaja diulur-ulur agar menjadi komoditas politik Bobby Nasution untuk mendegradasi Edy Rahmayadi sebagai saingannya dalam Pilkada Gubernur Sumut.
Spekulasi ini semakin terang benderang ketika teriakan pendukung Bobby Nasution melecehkan semangat dan harapan para suporter umumnya PSMS Medan yang setia mendukung perjuangan PSMS di Liga 2. Secara klasemen saat ini PSMS masih berpeluang untuk lolos ke putaran 8 besar nantinya.
Kepada Bergelora.com di Medan dilaporkan, pendukung Bobby Nasution jangan rusak PSMS karena hasrat politik elite pujaannnya. Saat PSMS Medan belum memiliki stadion ternyata masih juga dihujat. Bukannya mendukung PSMS Medan yang menjadi heritage kota Medan.
Hal yang berbeda jauh dari masa sebelumnya, sejak PSMS ditangani Edy Rahmayadi tidak pernah terdengar adanya pemain mogok merumput akibat gaji belum dibayar. Di zaman Edy pula berdiri Akademi Sepakbola PSMS untuk melahirkan bibit pemain unggul.
“Jika tidak bisa bantu secara materil, minimal bantu secara moril. Jangan menghujat club. PSMS kini sedang mengalami situasi mirip ketika dikelola oleh PT Togos Gopas yang terpaksa bertandang di kampung orang untuk membawa Kinantan ke kasta teratas”, pungkas Johnson Silalahi. (Beg)

