Sabtu, 13 Desember 2025

TAK GOYAH NIH..! Gus Yahya Tak akan Mundur: Muktamar Yang Milih Sudah Tahu Saya Ke Israel Ketemu Netanyahu

JAKARTA – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya merespons soal hubungannya dengan zionis Israel yang disebut-sebut dalam risalah Rapat Harian Syuriah PBNU. Ia menyebutkan apa yang dilakukannya itu demi Palestina dan tak pernah membela Israel.

“Saya itu tahun 2018 sudah pernah pergi ke Israel, saya bertemu Netanyahu (Perdana Menteri Israel), Presiden Israel, saya bertemu juga dengan berbagai elemen di sana di dalam berbagai forum tahun 2018,” kata Gus Yahya, dkutip Bergelora.com di Jakarta, Minggu (23/11/2025)

Gus Yahya pun merasa heran atas isu hubungannya dengan Israel saat ini dibesar-besarkan dan cenderung menyerangnya. Ia lantas menyebutkan jika bermasalah, ia tak akan dipilih dalam muktamar.

“Pada tahun 2021, Muktamar (NU), cabang-cabang dan PWNU milih saya. Mereka sudah tahu saya sudah pernah ke Israel, saya bertemu Netanyahu, mereka memilih saya (menjadi Ketum PBNU),” tambahnya.

Menurut Gus Yahya, meski pernah ke Israel, komitmennya dalam membela Palestina sudah diketahui oleh para pengurus NU di daerah.

“Kenapa? Mereka tahu dan sampeyan bisa lihat juga di berbagai unggahan di internet apa yang saya lakukan di Israel pada waktu di Yerusalem pada saat waktu itu. Oh saya terang-terangan dan tegas di berbagai forum di Yerusalem bahkan di depan Netanyahu bahwa saya datang ke sini demi Palestina. Itu saya nyatakan di semua kesempatan dan saya nggak akan pernah berhenti dengan posisi itu apa pun yang terjadi,” tandasnya.

Seperti diketahui, risalah Rapat Harian Syuriah PBNU ramai beredar. Dalam risalah itu, berisi keputusan Rais Aam dan Wakil Rais Aam PBNU yang meminta Yahya Cholil Staquf mengundurkan diri dari jabatan Ketum PBNU.

Rapat Harian Syuriah tersebut digelar pada Kamis (20/11) di Hotel Aston City Jakarta yang diikuti 37 dari 53 orang pengurus harian syuriah PBNU. Risalah rapat ini ditandatangani oleh pimpinan rapat sekaligus Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.

“Musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam memutuskan: KH Yahya Cholil Staquf harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam waktu 3 (tiga) hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU,” tulis poin keputusan dalam risalah Rapat Harian Syuriah PBNU tersebut.

“Jika dalam waktu 3 (tiga) hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” lanjutnya.

Keputusan meminta Gus Yahya mundur dari jabatan Ketum PBNU didasarkan pada tiga poin. Salah satunya berkaitan dengan kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) yang mengundang narasumber yang terkait jaringan Zionisme Internasional.

Kegiatan AKN NU mengundang narasumber yang terkait dengan jaringan Zionisme Internasional telah melanggar dan bertentangan dengan nilai serta ajaran PBNU. Kegiatan itu disebut sebagai tindakan yang mencemarkan nama baik perkumpulan NU.

Tak Akan Mundur

Kepada Bergelora.comdi Jakarta dilaporkan, sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menegaskan tidak memiliki niat untuk mundur dari jabatannya.

Ia mengatakan jabatannya sebagai Ketua Umum atau Ketum PBNU merupakan amanah yang berlaku selama lima tahun.

“Amanah yang saya terima dari Muktamar Ke-34 berlaku selama lima tahun dan akan dijalankan secara penuh,” kata Gus Yahya.

Ia juga mengaku sampai saat ini belum menerima surat resmi dalam bentuk apa pun terkait isu-isu internal yang beredar.

Termasuk dokumen yang beredar di masyarakat mengenai risalah hasil rapat harian Syuriyah pada Kamis (20/11/2025) yang memintanya untuk mundur dari jabatannya.

Gus Yahya menegaskan dokumen yang beredar di media dan masyarakat harus kembali dicek keabsahannya seperti bukti tanda tangan digital yang kerap digunakan untuk penandatanganan surat dalam organisasi tersebut.

Lebih lanjut, Gus Yahya menyampaikan, Syuriyah PBNU tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan jabatan ketua umum.

Selain itu, Syuriyah PBNU juga tidak memiliki kewenangan memberhentikan siapa pun anggota organisasi yang memiliki jabatan struktural.

Meskipun demikian, Gus Yahya berkomitmen untuk mencari jalan keluar yang terbaik demi kemaslahatan Nahdlatul Ulama dan bangsa.

“Saya sudah menjalin komunikasi dengan jajaran Syuriyah. Saya berharap rekonsiliasi internal dapat segera diwujudkan bersama para kiai sepuh dan jajaran struktur terkait,” ucap Gus Yahya.

Gus Yahya juga dijadwalkan bertemu para ulama pada hari ini untuk berdiskusi dan meminta nasihat serta doa dalam menjaga keutuhan organisasi tersebut. (Web Warouw)

 

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru