Selasa, 13 Januari 2026

TENGKULAK BELUM BISA DIBERANTAS..! Mentan Akui Minyakita Masih Mahal Meski RI Produsen Minyak Terbesar Dunia

JAKARTA – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas)/Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan harga rata-rata minyak goreng rakyat atau Minyakita di pasaran saat ini masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Hal ini diungkapkan usai Amran melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan. Menurutnya kondisi serupa juga ditemui saat dirinya berkunjung ke pasar-pasar di wilayah Jawa Timur.

“Siang ini kami mengecek langsung di Pasar Tebet. Minggu lalu, saya di Jawa Timur mengecek harga, yang pertama ini minyak goreng, ini naik sedikit di atas HET,” ucapnya saat mengunjungi Pasar Tebet Barat, Selasa (30/12/2025).

Untuk diketahui, dalam sidak di Pasar Tebet Barat siang ini, Amran menemukan harga jual Minyakita di pasar mencapai Rp 18.000/liter. Sementara harga jual di tingkat distributor berada di kisaran Rp 16.250/liter.

Padahal harga Minyakita telah diatur dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1028 Tahun 2024, dengan harga penjualan di tingkat D1 paling tinggi Rp 13.500/liter, tingkat D2 paling tinggi Rp 14.000/liter, dan tingkat pengecer paling tinggi Rp 14.500/liter. Terakhir, HET Minyakita di tingkat konsumen di Rp 15.700/liter.

“Kita adalah produsen minyak goreng terbesar di dunia, nggak ada alasan untuk naik. Harus ikuti HET yang ada,” tegasnya.

Bersama dengan, Amran mengaku sudah meminta jajaran Bapanas untuk segera berkoordinasi dengan Satgas Pangan untuk menindak lanjut temuan harga Minyakita yang masih tinggi ini.

“Kami sudah telpon Satgas, turun langsung, cek langsung produsennya di mana. Bila perlu, kalau memang dia sengaja untuk mencari keuntungan, itu disegel dan izinnya dicabut,” ucapnya.

“Ini harus dilacak sampai ke produsennya, Jangan diganggu pedagang pengecernya, tapi produsennya langsung. Kenapa? Tidak ada alasan harga minyak goreng naik. Walaupun harga sudah baik, relatif stabil, tetapi kami tidak ingin ada memanfaatkan situasi di saat Nataru, hari Natal dan Tahun Baru kemudian seenaknya menaikkan harga di atas HET,” terang Amran. (Calvin G. Eben-Haezer)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru