Oleh: Toga Tambunan *
GUS DUR, Guru Bangsa itu, ketika menjabat kedudukan Presiden RI, posisi no 1 di NKRI ini, bertepatan berada di Prancis, beliau tanpa rikuh membawa emblem kepresidenannya itu mengunjungi (jika diplesetkan bisa dianggap menghadap), bung A. Umar Said di Restoran Indonesia, di Paris. Restoran itu yang dikelola beberapa orang berdarah Indonesia meski passport mereka sudah dibunuh penguasa sebelumnya. A. Umar Said itu pimpinan suatu sekolah SMA, di Jakarta, yakni sekolah bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Nasional, yaitu sekolahnya Gus Dur dididik, sebelum beliau memilih kuliah di Irak dan sempat mampir di Al Azhar di Kairo.
Sosok A.Umar Said, strata sosial berjarak amat jauh terhadap Gus Dur yang ayahnya adalah Wahid Hasyim, tokoh sentral NU pun penyandang pahlawan nasional sekaliber dengan Ki Bagus Hadikusumo dan Ki Mas Mansur. Dua tokoh disebut terakhir, juga pahlawan nasional ini pemuka tinggi Muhammadiyah, bersama ayahnya Gus Dur turut mengesahkan Piagam Jakarta yang memungkin Pancasila itu eksis dan menjadi ideologi bangsa Indonesia. Beliau semua nasionalis. Selanjutnya selain berbekal kearifan dari tokoh para penyandang pahlawan nasional disebut diatas itu, kepribadian Gus Dur seirama dengan cendekiawan papan atas Nurcholis Madjid dan Buya Syafii Ma’arif; yang kesemuanya sama pendirian pluralisme.

Strata sosial amat tinggi menyertai Gus Dur, Guru Bangsa tersebut, RI 1 pula, teramat berjarak amat jauh terhadap bung A.Umar Said, karena posisi kelompoknya di barisan paling buntut. Gus Dur bukan menemui posisinya melainkan karakternya A.Umar Said, selaku pencerahi batin. Jarak jauh struktur civil itu dieleminasi Gus Dur tanpa rikuh. Menyanjung karakter arif, cerdas, pandai yang dicurahkan pendidik pembangun pluralisme.
Gus Dur mewariskan karakter pluralis bhinneka tunggal ika yang arif, cerdas, pandai bagi bangsa ini.

Menunjuk warisan Gus Dur tersebut terhadap aksi sekelompok berperangai intoleran, penolak bantuan kemanusiaan dari komunitas non muslim di Cianjur untuk para korban bencana gempa. Bantuan sangat urgen menolong korban, berupa tenda bernaung pelindung panas, hujan, angin, atau cuaca dingin, makanan, air minum, selimut, obat-obatan, dll Para korban sangat butuh material tersebut.
Seseorang dokter yang rela sumbang profesionalis medisnya, ditanyai agama dan ditolak karena dokter itu non muslim. Sedang korban mengerang kesakitan disekitarnya gemas akan pertolongan segra. Ironis. Petugas negara/pemerintah pengkomentari aksi intoleran itu beranggapan wajar saja, karena tenda itu tetap digunakan juga hanya label tertulis saja dicopot. Label tertulis bagi kelompok intoleran itu, ternyata lebih penting diurus dari pada pragmatis tolong si korban penderita. Tidak ada ambulans pembawa ke RS terdekat. Agama dokter tersebut jadi perintang layanan tindak medis. Astaga!
Aparat negara/pemerintah itu cendrung membiarkan aksi kelompok intoleran itu. Lambang Garuda Pancasila yang megah di kantor, baginya tanpa resonansi, (astaga!) bahwa biang radikalisme itu adalah pembiaran aksi intoleran.
Wejangan Ki Bagus Hadikusuma maupun Ki Mas Mansur pendekar utama Pancasila, tokoh awal Muhammadiyah itu, apakah dikualifikasi? Apakah cendekiawan Nurcholis Madjid yang pandangannya “Sekularisasi dan Islam, Yes,” itu, dan cendekiawan Buya Syafi’i Ma’arif, apakah dikualifikasi?

Perilaku kelompok intoleran itu, apakah karakternya perikemanusian atau sebaliknya berkarakter anti-kemanusian yang bermakna melecehkan Pancasila?
Gus Dur memang memformulasi :
“Tidak penting apapun agamamu atau suku mu, kalo kamu bisa melakukan yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”
Ternyata komunitas non muslim turut menuruti formula Gus Dur. Mereka dimusuhi kelompok intoleran di Cianjur itu.
Aparat negara/pemerintah di lokasi bencana itu kok cendrung membiarkan aksi kelompok intoleran itu.
Bukankah petuah Gus Dur pengagum A.Umar Said itu, dibawah ini amat mencerahkan?
“Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca Al-Quran, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Al-Quran. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.”
Berpadanan petuah Gus Dur itu, cendekiawan Buya Syafi’i Ma’arif mengingatkan :
“Planet Bumi ini tidak hanya dimonopoli oleh orang Islam, orang tidak beriman saja boleh tinggal di sini.”
Lebih lanjut Buya Syafii Maarif yang terus ajarkan multikulturalisme, terhadap aksi hoaks saja, apalagi terhadap aksi brutal intoleran, beliau mendesak orang-orang baik jangan diam.
Seirama Buya Syafii Maarif, petuah Gus Dur :
“Sebenar apapun tingkahmu, sebaik apapun perilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.”
Camkan.
* Penulis Toga Tambunan, pengamat sosial

