Rabu, 14 Januari 2026

UDAH SIAP BELOM..! RI Dikepung Megathrust, Profesor Jepang Beri Warning

JAKARTA – Risiko gempa megathrust menjadi perhatian komunitas ilmiah global. Pemahaman tentang pergerakan kerak bumi, tanda-tanda awal sebelum gempa besar, serta upaya mitigasi bencana.

Prof. Kosuke Heki dari Hokkaido University sebagai Visiting Researcher di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN memberikan insight mengenai “Nankai Trough Earthquake in Southwest Japan: What can we learn to mitigate disasters in Indonesia?.”

Menurutnya, gempa besar di zona Nankai Trough di Jepang bukan sekadar ancaman lokal, namun juga sumber pembelajaran global bagi negara rawan megathrust seperti Indonesia. Ia menjelaskan dasar mengenai siklus megathrust.

“Kami memahami bahwa gempa bumi berkekuatan 8 terjadi dalam interval yang jauh lebih pendek sekitar 50 hingga 100 tahun. Jadi, ini adalah pandangan klasik kami sebelum gempa bumi,” jelas Heki dalam keterangannya dikutip dari website BRIN, Minggu (14/12/2025).

Menurut Heki, potensi gempa besar tetap menjadi perhatian serius, meskipun waktu pastinya sulit diprediksi. Ia menekankan pentingnya pengamatan deformasi jangka panjang melalui Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran dasar laut.

“Kemudian kita dapat melihat bahwa kopling antar-seismik yang saling mengunci terjadi hampir di sumbu palung. Jadi, bahkan di bagian batas besar yang sangat dangkal, terdapat regangan yang terakumulasi untuk gempa berikutnya,” tuturnya.

Heki juga menjelaskan, slow slip event (SSE) atau preslip, meskipun gerakannya kecil, dapat menjadi indikator penting sebelum terjadinya gempa besar.

“Fenomena ini telah diamati berulang di Nankai Trough dan bagian lain Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini mungkin memicu gempa palung Nankai berikutnya,” katanya.

Penjelasan ini sangat relevan bagi Indonesia, yang memiliki zona subduksi aktif seperti Mentawai, Jawa, Bali, Lombok, hingga Maluku. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan jaringan GNSS guna mendeteksi deformasi jangka panjang dan preslip sebelum gempa.

“Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ucap Heki

Dengan kombinasi data GNSS di darat dan teknologi geodesi dasar laut, Heki menekankan bahwa Indonesia dapat mulai memetakan akumulasi tegangan yang berpotensi memicu gempa besar di masa depan.

Sebagai catatan, para ahli akhirnya memetakan 14 zona megathrust baru yang ada di Indonesia. Data tersebut terdapat dalam laporan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024.

Jumlah ini berubah dari 13 megathrust dari peta yang diluncurkan 2017. Di Pulau Jawa sendiri, ada 3 megathrust yaitu Megathrust Jawa berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 9,1, Megathrust Jawa bagian barat berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9, dan Megathrust Jawa bagian timur berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.

14 Zona Megathrust

Kepada Bergelora.com di Jakarta, (15/12) dilaporkan berikut ini 14 zona megathrust merujuk Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024:

  1. Zona Megathrust Aceh-Andaman berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 9,2.
  2. Zona Megathrust Nias-Simelue berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,7.
  3. Zona Megathrust Batu berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 7,8.
  4. Zona Megathrust Mentawai-Siberut berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
  5. Zona Megathrust Mentawai-Pagai berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
  6. Zona Megathrust Enggano berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
  7. Zona Megathrust Jawa berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 9,1.
  8. Zona Megathrust Jawa bagian barat berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
  9. Zona Megathrust Jawa bagian timur berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
  10. Zona Megathrust Sumba berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
  11. Zona Megathrust Sulawesi Utara berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,5.
  12. Zona Megathrust Palung Cotobato berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,3.
  13. Zona Megathrust Filipina Selatan berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,2.
  14. Zona Megathrust Filipina Tengah berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,1

Ancaman Gempa Dengan Magnitudo Maksimal 9,2

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 mengungkap peningkatan potensi ancaman gempa bumi di sejumlah wilayah Tanah Air.

Salah satu zona yang paling disorot adalah Megathrust Aceh-Andaman yang berpotensi memicu gempa dengan magnitudo maksimal 9,2. Angka ini menempatkannya sebagai salah satu sumber gempa terbesar yang berpotensi terjadi di wilayah Indonesia.

Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sekaligus Guru Besar ITB, Iswandi Imran, menjelaskan bahwa peta tahun 2024 menunjukkan tingkat bahaya yang lebih tinggi dibandingkan peta 2017.

Hal ini terlihat dari kontur bahaya gempa yang semakin rapat, yang mengindikasikan peningkatan potensi kegempaan di beberapa wilayah.

“Antara yang sebelumnya 2017 dengan 2024 yang paling atas ya kalau kita lihat kontur lebih rapat ya yang pada 2024 yang mengindikasikan sebenarnya adanya peningkatan bahaya gempa di daerah-daerah tertentu di Indonesia,” ujarnya dalam acara Sosialisasi dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Terkini ke Ketahanan Indrastruktur, dikutip Minggu (14/12).

Menurutnya, perubahan tersebut merupakan hasil pembaruan data geologi dan seismik yang semakin detail, sehingga pemetaan risiko gempa kini menjadi lebih akurat dan komprehensif.

Selain Zona Aceh-Andaman, peta itu juga mencatat terdapat zona megathrust Jawa dengan potensi gempa berkekuatan maksimal 9,1. Beberapa zona tercatat memiliki potensi gempa hingga 8,9, seperti Enggano dan Mentawai-Pagai.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, dua zona megathrust tengah menunggu waktu melepas energinya. Keduanya adalah Megathrust Selat Sunda dengan gempa terakhir pada 1757 dan Mentawa-Siberut pada 1797.

BMKG menjelaskan kondisi ini disebut seismic gap. Artinya secara geologis, wilayah itu masih menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energinya.

Namun, BMKG menambahkan tidak ada pihak manapun yang bisa meramal kapan kedua zona megathrust melepaskan energi yang kemudian memicu bencana hingga tsunami besar.

“Tinggal menunggu waktu bukan ramalan. Kalimat ini sering disalahartikan. Yang dimaksud adalah zona tersebut menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energi. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG dalam unggahan di akun Instagram resminya beberapa saat lalu.

“Istilah ilmiah ini digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi, bukan untuk menimbulkan kepanikan. Dalam Undang-Undang No 31/2009, BMKG bertanggung jawab atas pengamatan, pengelolaan data, pelayanan informasi, termasuk gempa bumi dan tsunami,” jelas BMKG. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru