Sabtu, 15 Juni 2024

Waduh! Wirausaha Indonesia Rendah, Hanya 1,65 Persen

JAKARTA- Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih menjelaskan kondisi pengangguran di Indonesia saat ini cukup memprihatinkan. Sebaliknya wirausaha di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Berdasarkan data Bank Indonesia, dari total penduduk Indonesia sebesar 237,64 juta jiwa atau sekitar 1,65 persen yang berwirausaha sebesar 3,9 juta jiwa.

Tercatat, hingga Februari 2012 angka pengangguran mencapai 7 juta orang. Hal itu tertuang dalam RPD dengan Komite III DPD dengan Kementerian Perindustrian di Gedung DPD, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (22/11).

Kepada Bergelora.com dilaporkan, angkatan kerja mencerminkan jumlah penduduk yang secara aktual siap memberikan kontribusi terhadap produksi barang dan jasa di suatu wilayah. Data menyatakan, pada awal 2016  terdapat 127,7 juta orang angkatan kerja, terdiri dari 120,7 juta orang penduduk bekerja dan 7 juta orang pengangguran.

“Untuk mengurangi jumlah pengangguran tersebut, Ditjen IKM memiliki suatu kegiatan penumbuhan wirausaha baru,” ucap Gati.

Gati menambahkan jumlah wirausaha di Indonesia masih relatif rendah. Hal itu dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Berdasarkan data Bank Indonesia, dari total penduduk Indonesia sebesar 237,64 juta jiwa atau sekitar 1,65 persen yang berwirausaha sebesar 3,9 juta jiwa.

“Angka itu jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura yang mencapai di atas 4 persen,” kata Gati.

Gati menilai bangsa yang makmur di suatu negara harus memiliki minimum 2 persen wirausaha dari total penduduknya.

“Hal itulah yang masih terus diupayakan oleh pemerintah. Jadi negara kita harus memiliki minimun 2 persen wirausaha dari total jumlah penduduk,” lontar dia.

Saat tanya jawab, Anggota DPD RI Provinsi Banten, Ahmad Sadeli Karim mempertanyakan tentang sulitnya membuka industri kecil atau menengah. Sehingga pemerintah seolah-olah mengabaikan kemampuan masyarakat menengah kebawa untuk membuka usaha baru.

“Apa lagi saat ini Indonesia telah dibanjir oleh produk impor dari Cina. Bahkan harganya jauh lebih merubah ketimbang produk dalam negeri,” papar dia.

Ia menilai, banjirnya produk impor di Indonesia mengakibatkan persaingan tidak sehat. Tentunya harus ada campur tangan pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

“Kenapa pemerintah tidak menekan impor? Apa lagi sekarang sudah masuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Ini sangat merugikan usaha kecil dan menengah kita,” papar Sadeli.

Selain itu, Anggota DPD Provinsi Kalimantan Timur Muslihuddin Abdurrasyid upaya pemerintah untuk memperdayakan siswa-siswa dari SMK guna mengurangi angka pengangguran. Lantaran, SMK mempunyai potensi daya usaha untuk kepentingan bangsa.

“Lulusan SMK perlu layak dipertimbangkan untuk dunia usaha dan perekonomian kita,” sarannya.

Menjawab pertanyaan itu, Gati kembali menjelaskan bahwa saat ini pemerintah telah menggabungkan sektor usaha secara konvensional. Konvensional dimaksud yaitu menggabungkan sektor usaha dengan digitalisasi dalam bentuk marketing.

“Sehingga produk-produk kita bisa segera terangkat seperti program E-Smart IKM,” tutur dia.

Sedangkan untuk produk impor seperti dari Cina. Pihaknya telah melakukan uji produk seperti Mocin (motor Cina) yang saat ini sudah tidak beredar di Indonesia. “Kamis sudah melakukan uji produk,” terang Gati. (Enrico N. Abdielli)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru