JAKARTA– Ketika malam tiba di puncak Gunung Bundar, Dusun Pujoraharjo, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, lampu-lampu mulai menyala dari rumah-rumah warga.
Anak-anak belajar, warga berbincang di ruang keluarga, dan telepon seluler mulai diisi daya. Namun, cahaya yang menerangi dusun itu bukan berasal dari jaringan listrik PLN.
Hingga kini, dusun yang dihuni 104 kepala keluarga (KK) atau 334 jiwa itu masih belum menikmati aliran listrik negara.
Di tengah keterbatasan tersebut, warga memilih membangun sumber listrik secara swadaya. Sebagian memanfaatkan turbin mikrohidro yang digerakkan aliran sungai pegunungan, sementara lainnya memasang panel tenaga surya di rumah masing-masing.
Semuanya dilakukan agar kehidupan di puncak gunung tetap diterangi cahaya.
Belajar dari Kampung Tetangga
Salah seorang warga, Turyanto, mengatakan kebutuhan listrik semakin penting seiring perkembangan teknologi.
“Sekarang ini zamannya sudah maju. Ada handphone yang butuh setrum, kita juga butuh penerangan. Kalau masih pakai lampu sentir seperti dulu rasanya sudah tidak mungkin lagi,” kata Turyanto dikutip Beegelora.com di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Keinginan memiliki listrik muncul setelah warga mengetahui kampung tetangga berhasil membangun pembangkit listrik mikrohidro secara mandiri.
Berbekal pengalaman itu, warga Pujoraharjo mulai belajar hingga akhirnya membangun turbin mikrohidro secara swadaya pada 2012.
“Kami belajar dari kampung tetangga yang sudah lebih dulu membuat turbin. Dari situ muncul keinginan masyarakat untuk membuatnya juga secara swadaya,” ujarnya.
Saat ini terdapat empat turbin mikrohidro yang dibangun secara gotong royong. Setiap turbin mampu melayani sekitar 11 hingga 15 kepala keluarga dengan kapasitas listrik yang terbatas.
Patungan Hingga Rp 20 Juta

Membangun satu turbin mikrohidro membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Menurut Turyanto, warga harus bergotong royong mengumpulkan dana hingga sekitar Rp 20 juta.
“Kalau misalnya satu kelompok ada 10 orang, ya kami patungan untuk membangun turbin itu. Ada yang Rp 5 juta sampai Rp 10 juta, tergantung kebutuhannya,” ujar Turyanto.
Setelah turbin berdiri, warga juga rutin mengumpulkan iuran sekitar Rp 20.000 per bulan untuk biaya perawatan. Mereka bergiliran membersihkan saluran air setiap hari agar aliran menuju turbin tetap lancar.
“Kami kontrol setiap hari. Kalau ada sampah dibersihkan. Kadang paralon juga pecah tertimpa kayu kalau musim hujan, jadi harus diperbaiki lagi,” katanya.
Namun, listrik yang dihasilkan belum sepenuhnya stabil karena bergantung pada debit air sungai.
“Kalau debit airnya kecil, ada beberapa rumah yang tidak bisa lagi menikmati listrik dari turbin,” ujarnya.
Sebagian Warga Beralih Ke Tenaga Surya
Tidak semua rumah dapat dijangkau turbin mikrohidro. Sebagian warga memilih memasang panel tenaga surya secara mandiri sebagai sumber listrik alternatif.
Taram, warga yang tinggal di Pujoraharjo sejak 1977, mengatakan penggunaan panel surya mulai berkembang sekitar satu dekade terakhir.
“Karena bikin kincir tidak menyukupi dan sungainya jauh, akhirnya ada ide supaya tiap rumah punya listrik sendiri pakai tenaga surya,” ujar Taram.

Untuk memasang satu paket panel surya, warga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, belum termasuk penggantian aki yang umumnya hanya bertahan sekitar satu tahun.
Meski begitu, listrik yang dihasilkan juga masih bergantung pada cuaca.
“Ya dibilang cukup ya cukup, dibilang tidak ya kadang kalau cuaca tidak bagus juga mati. Karena mengandalkan matahari,” katanya.
Listrik dari panel surya umumnya hanya digunakan untuk menyalakan lampu dan mengisi daya telepon seluler.
“Paling untuk lampu sama ngecas handphone saja,” ujarnya.
Menanti Listrik PLN
Kepala Dusun Pujoraharjo Maryadi berharap jaringan listrik PLN suatu saat dapat menjangkau wilayahnya.
Menurut dia, listrik mandiri yang dimiliki warga saat ini hanya cukup memenuhi kebutuhan dasar.
“Kalau penginnya sih listrik PLN bisa masuk ke sini. Karena selama ini kami pakai turbin itu sangat kecil sekali. Hanya cukup untuk lampu dan penerangan saja,” kata Maryadi.
Ia mengatakan, listrik dari turbin maupun panel surya belum mampu mengoperasikan berbagai peralatan elektronik yang dibutuhkan masyarakat.
“Kalau untuk alat-alat elektronik yang lain belum bisa. Jadi harapannya jaringan listrik PLN bisa masuk ke Dusun Pujoraharjo,” ujarnya.
Bertahun-tahun Maryadi menuturkan, Dusun Pujoraharjo telah dihuni masyarakat sejak sekitar 1968 hingga awal 1970-an. Meski telah lebih dari setengah abad berdiri, dusun tersebut hingga kini belum menikmati jaringan listrik PLN.
Di tengah penantian itu, warga terus menjaga turbin, merawat panel surya, dan bergotong royong agar cahaya tetap menyala di puncak Gunung Bundar. Mereka berharap suatu hari nanti, listrik dari jaringan negara benar-benar hadir menerangi dusun mereka.
Sejauh Mana Puncak Gunung Bundar?
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (17/7) dilaporkan, penting diketahui jarak dari Puncak Gunung Bundar, Dusun Pujoraharjo ke pusat Kecamatan Padang Cermin di Kabupaten Pesawaran, Lampung adalah sekitar 7 hingga 12 kilometer.
Wilayah ini berada di kawasan pegunungan Way Ratai, waktu tempuh dan jarak tempuh sangat dipengaruhi oleh medan geografis, sehingga perjalanan biasanya memakan waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam menggunakan kendaraan bermotor maupun berjalan kaki. Dusun Pujoraharjo itu sendiri secara administratif masih berada di wilayah Kecamatan Padang Cermin.
Sedangkan jarak berkendara dari Dusun Pujoraharjo (Padang Cermin) menuju pusat ibu kota Kabupaten Pesawaran di Gedong Tataan adalah sekitar 55 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 49 menit melalui Jl. Padang Cermin – Gedong Tataan.
Nah, jarak dari Dusun Pujoraharjo (kawasan Gunung Bundar) di Kecamatan Padang Cermin, Pesawaran ke Kota Bandar Lampung adalah sekitar 40 hingga 50 kilometer. Dengan estimasi rute tercepat melalui Jl. Way Ratai dan Jl. Laksamana R.E. Martadinata, perjalanan darat ini memakan waktu tempuh sekira 1,5 hingga 2 jam. (Enrico N. Abdielli)

