.JAKARTA — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ( Mendikdasmen ) Abdul Mu’ti buka suara soal sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) di berbagai daerah sepi peminat dan hanya memiliki beberapa orang siswa baru.
Menurutnya, saat ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sedang mencatat jumlah SDN yang kekurangan murid.
“Kementerian sedang mendata sekolah yang jumlah muridnya kurang dari 60,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti seperti dikutip Bergelora.com di Jakarta, Jumat (17/7).
Mu’ti mengaku telah membicarakan masalah ini kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. Dia menyebut akan diadakan pertemuan khusus membahas sedikitnya peminat SDN tersebut.

“Secara nonformal saya sudah menyampaikan masalah menurunnya jumlah murid SD kepada Bapak Mendagri. Nanti akan diadakan pertemuan khusus membahas fenomena tersebut,” kata Abdul Mu’ti.
Sejumlah SDN di Pulau Jawa sepi peminat pada tahun ajaran baru ini. Ada sekolah yang tetap menyambut siswa dengan meriah, ada juga yang gagal menyambut karena tak ada siswa.
Seperti di SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Hanya ada tiga murid yang masuk.
Mereka tetap disambut maskot masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) tahun ini, Si Badut. Setelah itu, dua siswa dan satu siswi tersebut tampak bersemangat mengikuti materi MPLS yang diberikan guru maupun dari media pengajaran, seperti layar televisi.
Kepala SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang, Hajar Riatiani, mengungkap awalnya ada lima calon siswa yang mendaftar. Namun, dalam perkembangannya, doa tidak jadi daftar ulang.
“Yang mendaftar online ada lima. Tapi dua tidak mendaftar ulang, jadi yang fix masuk hanya tiga siswa,” kata Hajar di SDN Purwoyoso 01, Senin (13/7).
Hajar menegaskan, meski tahun ini hanya ada tiga murid yang masuk untuk tahun ajaran 2026/2027, sekolah tetap menyambutnya secara meriah.
“Berapa pun muridnya, tetap kita sambut dengan meriah. Setiap tahun kita ganti tema. Kali ini temanya sirkus, ada badutnya juga,” tegasnya.
Hal yang sama juga terjadi di Boyolali. Khanza menjadi satu-satunya siswa baru di SDN 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jateng.
Meski begitu, pihak sekolah tetap berupaya memberikan pendidikan yang terbaik karena orang tua siswa telah mempercayakan anaknya bersekolah di SDN itu.
“Ya awalnya merasa, apa ya, minder ada. Tapi balik lagi, kita harus, seberapa pun muridnya, harus tetap semangat, kita layani sebaik-baiknya,” kata guru kelas 1 SDN 2 Cepokosawit, Andiyani Mudrikah, saat ditemui di sekolah tersebut, Senin (13/7).
“Jadi harus optimal juga untuk mengajarnya,” ujar dia.
Sepinya peminat SDN juga terjadi di Tulungagung, Jatim. Di tengah khidmatnya apel pagi hari pertama masuk sekolah di SDN 2 Plandaan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, perhatian para guru tiba-tiba terdengar ke pintu gerbang belakang.
Seorang bocah laki-laki datang tanpa seragam diantar kakek dan neneknya. Namanya Candra Mohammad Saputra. Ia merupakan satu dari dua siswa baru yang diterima SDN 2 Plandaan pada tahun ajaran ini.
Ia datang hanya memakai kaus, celana pendek, dan sandal jepit, sambil memanggul tas ransel di belakangnya.
“ Ngapunten terlambat, wonten tamu niki wau (maaf terlambat, tadi masih ada tamu),” kata nenek Candra seraya masuk ke lingkungan sekolah, Senin (13/7).
DPR Minta Evaluasi
Dilapoekan, pada tahun ajaran baru kali ini, muncul fenomena Sekolah Dasar Negeri (SDN) sepi peminat. Misalnya di SDN 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung.
Hari pertama sekolah di sana hanya diikuti dua murid baru kelas I pada pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Tak tampak derap langkah siswa yang memenuhi halaman sekolah seperti lazimnya hari pertama masuk tahun ajaran baru.
Di sekolah yang memiliki delapan guru dan 40 siswa aktif itu, tak ada keramaian antrean orangtua maupun barisan panjang murid baru. Nasib serupa terjadi pada SDN 2 Plandaan, Desa Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Meski pihak sekolah sudah menjanjikan fasilitas seragam gratis, peralatan sekolah cuma-cuma, hingga uang saku, sekolah dasar negeri ini hanya berhasil menjaring dua orang siswa baru untuk tahun ajaran ini.
Sementara itu, di SDN 2 Wonosari, Gunungkidul juga hanya mendapatkan dua murid baru tahun ini.
MPLS pun digelar dengan melibatkan kakak kelas, agar suasana tidak sepi. Lantas, kenapa hal ini bisa terjadi?
Puan minta pemerintah evaluasi Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap peta layanan pendidikan dasar nasional. Hal tersebut menyusul fenomena sekolah negeri yang kekurangan murid baru pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.
“Munculnya sejumlah sekolah dasar negeri yang tidak memperoleh siswa baru di berbagai daerah harus menjadi alarm bagi Pemerintah untuk mengevaluasi kembali peta layanan pendidikan dasar nasional,” kata Puan, dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
Puan juga meminta pemerintah melakukan kajian mendalam terkait fenomena tersebut. Jika hanya kasuistis, kata dia, pendekatannya bisa lebih khusus sesuai dengan kriteria setiap daerah.
Namun, jika memang isu mengenai krisis murid ini merupakan persoalan yang terjadi secara nasional, Puan menilai hal tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan menutup atau menggabungkan sekolah.
“Karena ini menyangkut tanggung jawab negara dalam menjamin setiap anak memperoleh pendidikan dasar yang mudah dijangkau, berkualitas, dan sesuai kebutuhan masyarakat,” ucap dia.
Puan menambahkan, kekurangan siswa disebabkan oleh sejumlah faktor, salah satunya kemungkinan disebabkan penurunan jumlah anak usia sekolah.
Sementara di wilayah lain, persoalannya dapat berkaitan dengan perpindahan penduduk, distribusi sekolah yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan permukiman, atau menurunnya kepercayaan orangtua terhadap mutu dan karakter layanan sekolah negeri.
Oleh karena itu, Puan mengatakan pemerintah tidak boleh menerapkan satu solusi yang sama untuk seluruh daerah.
“Pemerintah perlu segera menyusun peta nasional kebutuhan satuan pendidikan, berbasis desa dan kecamatan dengan mengintegrasikan data jumlah anak usia sekolah, tren kelahiran, perkembangan permukiman, kapasitas sekolah, jarak tempuh, kondisi geografis, dan proyeksi penduduk sedikitnya untuk sepuluh tahun ke depan,” papar Puan.
Dugaan Komisi X DPR
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani (Ari) mengatakan, ketika SDN sepi peminat, bukan berarti minat masyarakat terhadap sekolah menurun.
Ari menduga, SDN baru-baru ini sepi karena faktor penurunan angka kelahiran hingga persebaran sekolah yang tidak proporsional.
“Fenomena sekolah negeri yang jumlah siswanya sangat sedikit, bukan semata-mata karena minat masyarakat terhadap sekolah tersebut menurun,” ujar Ari kepada wartawan, Kamis (16/7/2026).
“Faktor seperti penurunan angka kelahiran, perpindahan penduduk, persebaran sekolah yang tidak proporsional, hingga kualitas dan daya saing satuan pendidikan turut memengaruhi kondisi ini,” sambungnya.
Ari berpendapat, pemerintah perlu melakukan pemetaan yang akurat di setiap daerah, agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dari perspektif Komisi X DPR, kata Ari, pemerintah perlu menata kembali distribusi satuan pendidikan secara hati-hati dengan tetap mengutamakan hak anak untuk memperoleh akses pendidikan.
“Evaluasi terhadap kemungkinan penggabungan sekolah, peningkatan mutu pembelajaran, pemerataan guru, serta penguatan sarana dan prasarana, harus dilakukan secara terukur dan melibatkan pemerintah daerah serta masyarakat, sehingga solusi yang diambil tidak hanya efisien dari sisi anggaran, tetapi juga menjamin layanan pendidikan tetap optimal,” imbuh Ari. (Calvin G. Eben-Haezer)

