Sabtu, 1 Agustus 2026

EROPA BISA LUMPUH NIH..! Trump Nyinyir ke Spanyol Soal 50 Ribu Migran Serbu Ceuta

JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan komentar nyinyir kepada pemerintah Spanyol terkait lebih dari 50 ribu migran dari Maroko serbu Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara.

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (1/8) dilaporkan,  Trump menggambarkan penayangan migran di Ceuta sebagai peringatan bagi Amerika jika lawan-lawannya Partai Republik berkuasa di AS.

Sekitar 60.000 migran telah melintasi Maroko ke wilayah Ceuta yang kecil di Spanyol dalam 24 jam terakhir, kata presiden Ceuta pada hari Jumat. Jumlah tersebut merupakan angka yang setara dengan 70% dari populasi kota di Afrika Utara tersebut.

Para pendatang dari Maroko ikepergok oleh penjaga perbatasan Spanyol. Akhirnya sekitar 6.000 imigran, termasuk 2.700 anak-anak, dipulangkan. (Ist)

Meski demikian, pemerintah Spanyol memastikan bahwa lebih dari separuh migran ilegal telah kembali secara sukarela ke Maroko. Serbuan puluhan ribu migran dari Maroko itu secara tiba-tiba memicu kekacauan dan krisis kemanusiaan.

Trump kemudian menyampaikan ikut krisis migrasi yang terjadi di Ceuta, Spanyol.

“Saya melihat Spanyol kemarin, dan saya menyaksikan bencana yang terjadi,” kata Trump dalam pertemuan kabinetnya di tempat peristirahatan kepresidenan Camp David di Maryland, Jumat (31/7), dikutip dari France24 .

Imigran Maroko menepi di Spanyol. (Ist)
Imigran Maroko menepi di Spanyol. (Ist)

“Ini tampak seperti invasi ke suatu negara oleh ratusan ribu orang, dan hal yang sama akan terjadi pada kita jika Partai Republik tidak terpilih, kecuali lebih buruk, jauh lebih besar,” tuturnya lagi.

Trump tampaknya memanfatkan krisis migrasi di Ceuta untuk mendongkrak kembali elektabilitas dirinya dan Partai Republik di tengah tren yang terus menurun jelang pemilu paruh waktu pada bulan November.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan dukungan Trump telah memperkirakan kisaran 30 persen dan oposisi Demokrat berharap untuk memenangkan setidaknya sebagian kendali Kongres dalam pemilihan paruh waktu.

Seorang imigran ditangkap di Pantai Spanyol. Menurut aparat keamanan setempat, sebanyak 85 orang pendatang gelap, terdiri dari laki-laki dan perempuan berhasil memanjat pagar pembatas dan masuk ke wilayah itu. (Ist)

Rekaman berita tentang migran yang membanjiri pembatas untuk masuk ke Ceuta, wilayah kecil Spanyol di pantai Maroko, ditayangkan berulang kali di sejumlah media AS dan menjadi viral di akun media sosial sayap kanan pendukung Trump.

Muncul pula reaksi serupa dari berbagai pemimpin sayap kanan dan yang terkait dengan Trump di Eropa.

Pemimpin partai bersama sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD), Alice Weidel, mengeklaim dalam sebuah unggahan X bahwa “Ceuta hancur dalam semalam” oleh masuknya migran massal dari Maroko.

Ia berpendapat bahwa Jerman “kemungkinan besar menjadi tujuan sebagian besar migran ini.”

“Jerman harus mempersiapkan diri: perbatasan harus diamankan dan persetujuan harus ditegakkan secara ketat,” tulis Weidel, yang partainya didukung oleh pejabat tinggi Trump.

Kenapa Puluhan Ribu Migran dari Maroko Serbu Ceuta Spanyol?

Mibil dan bus dibakar, puluhan ribu migran Maroko serbu Eropa. (Ist)
Mibil dan bus dibakar, puluhan ribu migran Maroko serbu Eropa. (Ist)

Puluhan ribu migran mencoba memasuki Ceuta, Spanyol, dalam kekacauan. Penyebabnya diduga disinformasi dan faktor politik.

Puluhan ribu migran mencoba memasuki Ceuta, wilayah otonomi khusus Spanyol, dalam beberapa hari terakhir. Situasi di perbatasan Maroko-Spanyol itu berubah menjadi kekacauan setelah pengawasan perbatasan diduga melemah.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat sekitar 50.000 orang melintasi perbatasan sejak Kamis pagi, sementara pemerintah daerah Ceuta memperkirakan jumlahnya mencapai 60.000 orang.

Aksi penyeberangan massal ini dianggap merupakan pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol. Gelombang migran ini diduga dipicu oleh disinformasi yang disebarkan oleh penyelundup manusia pascaputusan Mahkamah Agung.

Lebih dari 37.500 orang telah dikembalikan ke sisi Maroko. Ratusan orang lainnya terus kembali setiap jam, pada Jumat (31/7).

Krisis tersebut juga menimbulkan korban jiwa. Sejumlah orang dilaporkan meninggal dalam upaya menyeberangi perbatasan melalui jalur yang berbahaya.

Apa itu Ceuta?

Puluhan ribu migran mencoba memasuki Ceuta, Spanyol, dalam kekacauan. Penyebabnya diduga disinformasi dan faktor politik. (Ist)
Puluhan ribu migran mencoba memasuki Ceuta, Spanyol, dalam kekacauan. Penyebabnya diduga disinformasi dan faktor politik. (Ist)

Melansir The Guardian, Ceuta merupakan wilayah Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara. Bersama Melilla yang terletak sekitar 400 kilometer di sebelah timur, Ceuta menjadi satu-satunya wilayah yang memiliki perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika.

Berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak 1580, Ceuta dihuni masyarakat dengan latar belakang Kristen dan Muslim. Penduduk Spanyol dan Maroko, serta para pekerja harian di sana umumnya hidup berdampingan dengan relatif rukun.

Namun, Maroko tidak mengakui Ceuta dan Melilla sebagai bagian dari wilayah Spanyol. Pemerintah Maroko kerap menyebut keduanya sebagai wilayah yang diduduki.

Posisi geografis tersebut membuat Ceuta menjadi salah satu jalur penting bagi orang-orang yang ingin memasuki Eropa dari Afrika.

Mengapa Ceuta Menjadi Titik Rawan Migrasi?

Spanyol merupakan salah satu pintu masuk utama ke Eropa bagi orang-orang yang mencari peluang ekonomi lebih baik atau melarikan diri dari konflik dan kekerasan di negara asal.

Ceuta dan Melilla memiliki sistem keamanan perbatasan yang ketat karena keduanya menjadi tujuan migran dari Maroko maupun wilayah Afrika lainnya.

Untuk mencapai Ceuta, sebagian migran mencoba berenang dari kota Fnideq di Maroko dengan jarak sekitar 5 kilometer. Sebagian lainnya mencoba masuk melalui wilayah Belyounech yang lebih dekat.

Kenapa tiba-tiba puluhan ribu orang mencoba masuk?

Belum ada penjelasan pasti mengenai mengapa begitu banyak orang dapat melewati perbatasan Ceuta dalam waktu singkat.

Pemerintah Maroko juga belum memberikan pernyataan resmi mengenai kejadian tersebut. Karena itu, belum diketahui seberapa jauh otoritas Maroko berupaya mencegah para migran menyeberang.

Salah satu dugaan mengarah pada hubungan politik Maroko dengan Aljazair dan Spanyol.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez baru saja melakukan kunjungan ke Aljazair pada Senin (20/7) lalu. Kunjungan tersebut menjadi yang pertama bagi kepala pemerintahan Spanyol ke negara itu dalam empat tahun dan dianggap sebagai tanda membaiknya hubungan Madrid-Aljazair.

Hubungan Spanyol dan Aljazair sebelumnya sempat memburuk setelah Madrid pada 2022 mengubah kebijakan terkait sengketa Sahara Barat dan mendukung rencana Maroko atas wilayah tersebut.

Maroko dan kelompok Polisario Front sama-sama mengklaim Sahara Barat. Kelompok tersebut didukung Aljazair.

Peneliti migrasi dari Italian Institute for International Political Studies, Matteo Villa, menilai faktor politik kemungkinan berperan dalam lonjakan migrasi kali ini.

Villa membandingkan situasi tersebut dengan gelombang migrasi pada Mei 2021, ketika ribuan orang berhasil memasuki Ceuta setelah Maroko melonggarkan pengawasan perbatasan di tengah perselisihan diplomatik dengan Spanyol.

“50.000 orang tidak datang dalam semalam ketika biasanya jumlahnya hanya ratusan per bulan. Sánchez pergi ke Aljazair adalah sesuatu yang tidak terlalu disukai Maroko,” kata Villa.

Menurut Villa, Maroko mungkin sengaja melonggarkan pengawasan sebagai cara menunjukkan bahwa mereka masih memiliki posisi kuat dalam hubungan dengan Spanyol dan negara-negara Eropa.

Pemerintah Spanyol kemudian mengerahkan pasukan militer dan tambahan polisi untuk mengendalikan situasi serta memulihkan keamanan di perbatasan.

Sánchez yang berada di Ceuta pada Jumat (31/7) menyebut masuknya puluhan ribu migran tersebut sebagai pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles