Sabtu, 25 April 2026

TEPAAT…! Jaga Sentralitas Kawasan, Presiden Kembali Angkat Konsep Indo-Pasifik di KTT ke-33 ASEAN

Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana disambut oleh PM Singapura dan istri pada KTT ke-33 ASEAN di Singapura, Selasa (13/11). (Ist)

SINGAPURA- Indonesia kembali menyampaikan perkembangan konsep kerja sama di kawasan Indo-Pasifik dalam KTT ke-33 ASEAN di Singapura.

Presiden Joko Widodo yang berbicara dalam sesi pleno KTT tersebut mengatakan, konsep Indo-Pasifik sangat penting artinya bagi ASEAN untuk tetap relevan dan menjaga sentralitasnya.

“Agar sentralitas tetap terjaga maka tidak ada jalan lain bagi ASEAN kecuali menggunakan KTT Asia Timur sebagai platform utama pembahasan konsep ini,” ujarnya.

Ketidakpastian dan besarnya tantangan yang dihadapi kawasan Indo-Pasifik, tambah Presiden, berpotensi untuk menimbulkan ancaman bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan tersebut dalam kaitannya dengan tarik-menarik konstelasi kekuatan dunia.

Menurut Presiden, ASEAN yang berada di tengah kawasan Indo-Pasifik harus mampu menjadi poros, memainkan peranannya, dan mengubah potensi ancaman itu menjadi sebuah peningkatan kerja sama.

“Dunia kita dipenuhi banyak ketidakpastian. Tarik menarik kepentingan juga kita rasakan di kawasan kita. ASEAN harus tetap menjadi motor bagi perdamaian dan kesejahteraan. ASEAN harus dapat mengubah potensi ancaman menjadi kerja sama, potensi ketegangan menjadi perdamaian,” tuturnya.

Lebih jauh, Presiden mengatakan konsep Indo-Pasifik dapat dikembangkan dengan peningkatan kerja sama dengan mengedepankan prinsip keterbukaan dan penghormatan terhadap hukum internasional.

“Pada KTT April lalu, saya telah menjelaskan pentingnya ASEAN mengembangkan kerja sama di kawasan Indo-Pasifik yang mengedepankan prinsip-prinsip keterbukaan, inklusivitas, transparan, menghormati hukum internasional, dan menghargai sentralitas ASEAN,” kata Presiden.

Selain itu, Presiden Joko Widodo juga menyambut baik tanggapan positif negara ASEAN terhadap konsep Indo-Pasifik tersebut dan dijadikan konsep bersama ASEAN. Negara-negara ASEAN memberikan dukungan penuh bagi konsep tersebut.

“Saya gembira draf konsep bersama tersebut telah dibahas dan insyaallah dapat segera disepakati. Konsultasi informal juga telah dilakukan dengan negara mitra ASEAN,” ucapnya.

Dirinya menekankan, konsep tersebut akan memberikan arah baru bagi kerja sama ASEAN dengan negara-negara mitranya. Melalui konsep tersebut, Presiden percaya bahwa kesatuan dan sentralitas ASEAN di kawasan akan tetap terjaga.

“Wawasan yang inovatif ini akan memberikan arah kerja sama ke depan bagi ASEAN dengan menekankan Indo-Pasifik sebagai single geo-strategic theatre, mengedepankan kerja sama bukan persaingan, memajukan pembangunan, dan mewujudkan kesejahteraan untuk semua,” ujarnya.

Soal Palestina

Sementara itu kepada Bergelora.com dilaporkan, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menjelaskan, dalam pertemuan itu kedua kepala pemerintahan membahas secara intensif mengenai kerja sama yang dilakukan kedua pihak dalam beberapa bulan belakangan. Salah satu di antaranya ialah mengenai kerja sama di bidang penanggulangan terorisme.

“Indonesia dan Australia dalam pertemuan bilateral tadi membahas kemajuan kerja sama yang dilakukan sejak bulan Agustus lalu. Termasuk di antaranya ialah penyelenggaraan subregional meeting on counter terrorism yang diselenggarakan di Jakarta pada 6 November 2018 lalu,” kata Menlu usai mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan itu.

Selain Menlu Retno Marsudi, dalam pertemuan dengan PM Australia itu, Presiden Jokowi juga

didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Presiden Jokowi dan PM Morrison juga membahas soal peningkatan kerja sama mengenai dialog antarumat beragama untuk mendorong hubungan kedua negara ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini, Indonesia dijadikan sebagai sebuah percontohan mengenai kerukunan di tengah keragaman yang dimiliki Indonesia.

“Keduanya juga membahas soal interfaith dialogue di mana Indonesia dinilai sebagai contoh  bagi kemajemukan,” tutur Retno.

Selain itu, pihak Indonesia kembali menegaskan posisinya terutama mengenai upaya menciptakan perdamaian Palestina-Israel berdasarkan prinsip two-state solution.  Retno menegaskan, Indonesia memandang bahwa solusi dua negara (two-state solution) merupakan cara yang tepat untuk menyelesaikan konflik secara adil.

“Presiden Republik Indonesia kembali menyampaikan posisi Indonesia dan mengharapkan Australia dapat membantu mewujudkan perdamaian Palestina dan Israel berdasarkan two state solution,” ujarnya.

Dalam pertemuan, PM Australia juga menyampaikan kembali dukungan Australia terhadap pengembangan konsep kerjasama Indo-Pasifik, yang diprakarsai Indonesia, dengan mengedepankan sentralitas ASEAN.

“Indonesia menyampaikan penghargaan atas dukungan Australia terhadap pengembangan Indo-Pasifik yang mengedepankan sentralitas ASEAN,” pungkas Menlu.

Pembukaan KTT

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo menghadiri Pembukaan KTT ke-33 ASEAN di Suntec Convention Centre, Singapura pada Selasa (13/11) petang.

Tiba di Suntec Convention Centre pukul 17.30 waktu setempat (WS), Presiden dan Ibu Iriana langsung menuju ruang tunggu utama. Sebelum memasuki ruang tunggu, Presiden dan Ibu Iriana berfoto bersama PM Singapura Lee Hsien Loong dan Ibu Ho Ching.

Dari ruang tunggu utama, Presiden dan Ibu Iriana bersama para kepala negara/kepala pemerintahan ASEAN menuju Ceremony Hall, Suntec Convention Centre, Singapura untuk mengikuti acara upacara pembukaan KTT ASEAN.

Selepas mengikuti pembukaan, seluruh kepala negara/kepala pemerintahan ASEAN menuju Plenary 2 untuk menghadiri Presentasi ASEAN Business Advisory Council kepada Kepala Negara/Kepala Pemerintahan ASEAN.

Para kepala negara/kepala pemerintahan ASEAN itu adalah PM Singapura Lee Hsien Loong, PM Thailand Prayut Chan-o-cha, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, PM Kamboja Hun Sen, PM Laos Thongloun Sisoulith, PM Malaysia Mahathir Mohamad, State Counsellor Myanmar Aung San Suu Kyi, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, dan PM Vietnam Nguyen Xuan Phuc. (Sartika)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles