JAKARTA- Ketua Umum PSI, Grace Natalie menegaskan sekali lagi bahwa PSI berdiri adalah untuk menegaskan kembali Persatuan Indonesia. Musuh utama dari persatuan Indonesia saat ini adalah Intoleransi. Hal ini ditegaskan dalam Pidato Politik Ketua Umum PSI, Grace Natalie yang berjudul, ‘Musuh Utama Persatuan Indonesia’ di Yogyakarta, Senin (12/2) yang disiarkan langsung diberbagai televisi ke seluruh Indonesia dan dikutip Bergelora.com di Jakarta.
“Banyak yang bertanya kepada saya: “Kenapa PSI selalu bicara tentang isu-isu sensitif? Kenapa PSI menolak Perda Injil dan Perda Syari’ah yang diskriminatif? Tidakkah sebaiknya PSI hanya bicara tawaran kebijakan saja, ketimbang masuk ke isu-isu sensitif?” katanya.
Grace Natalie menegaskan, prioritas pertama yang harus diselesaikan hari ini oleh PSI dan segenap bangsa Indonesia adalah melawan segala bentuk ancaman bagi persatuan yang muncul akibat intoleransi.
“Ancaman itu datang dalam beragam bentuk ada yang ingin mengganti NKRI, ada yang ingin mengganti keberagaman dengan fahamnya sendiri dengan menyelundupkan regulasi diskriminatif,” tegasnya.
PSI menurutnya,–percaya bahwa untuk menyelesaikan persoalan ini harus ada pengakuan diri bahwa ada masalah besar yang sedang mengancam Persatuan Indonesia.
“Konsep kewarganegaraan — citizenship — mengandaikan semua warga negara setara. Tidak ada dikotomi mayoritas dan minoritas. Tidak ada pribumi dan non-pribumi. Tidak ada warga negara kelas satu dan kelas dua. Semua sama dan setara sebagai warga negara Indonesia,” tegasnya.
Ia mengingatkan, salah satu hak dasar, dijamin Pasal 28 E, bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya.
“Hak beragama dan beribadat menurut keyakinan dijamin oleh konstitusi kita! Tapi ironisnya, laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 2017 justru mengungkapkan, salah satu persoalan hak asasi paling menonjol selama lima tahun terakhir — adalah terkait tindakan melarang, merusak, atau menghalangi pendirian rumah ibadah,” ujarnya.
Peraturan Bersama Menteri mengenai Pendirian Rumah Ibadah — menurut Komnas HAM — pada praktiknya membatasi prinsip kebebasan beragama. Aturan itu justru dipakai untuk membatasi bahkan mencabut hak konstitusional dalam hal kebebasan beribadah.
Ia mengutip SETARA Institute,– selama sebelas tahun terakhir terjadi sebanyak 378 gangguan terhadap rumah ibadah di seluruh Indonesia.
“Situasi semakin memburuk karena pejabat, birokrat, dan politisi daerah, memanfaatkan menguatnya sentimen SARA dengan cara “meng-entertain” sikap intoleran masyarakat, dengan cara mengeluarkan kebijakan yang dianggap bisa menyenangkan umat tertentu saja,” katanya.
Menurut Grace Natalia, para pejabat, birokrat dan politisi juga cari aman ketika berhadapan dengan kelompok intoleran yang mengerahkan massa untuk menolak pendirian rumah ibadah.
“Saya ingin menegaskan kembali, bila partai ini diberi amanah, maka PSI akan berjuang agar tidak ada lagi penutupan rumah ibadah secara paksa. PSI bertindak dan berbicara atas dasar Konstitusi, kami ingin hak-hak dasar ini dipenuhi dan dijalankan secara penuh — tanpa syarat!
Yogyakarta Yang Toleran
Grace Natalie mengingatkan Yogyakarta adalah sejatinya adalah kota yang toleran namun saat ini dirusak oleh gerakan-gerakan intoleransi.
“Tapi sebagaimana terjadi di kota-kota lain, kelompok intoleran juga mencoba merusak ketenangan Yogja,” katanya.
Padahal menurutnya kota Yogja selalu bikin orang kangen. Itu mungkin yang membuat penyair Joko Pinurbo bilang “Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.
“Kita selalu ingin kembali ke kota ini karena ia menyimpan identitas kita — identitas Indonesia yang hidup dalam diri kita — dalam bentuk kesenian, tradisi, dan kuliner Nusantara. Itulah yang selalu mendorong kita untuk kembali “Pulang” ke Jogjakarta, seperti lagu KLA Project,” katanya.
Namun intoleransi semakin merajalela di Yogyakarta dan sangat mengkuatirkan seluruh masyarakat Indonesia bahkan internasional.
“Intoleransi tidak hanya mengancam kita yang masih hidup, bahkan yang sudah matipun menjadi sasaran,” katanya.
Ia mengingatkan, pertengahan Desember lalu, sebuah nisan kayu salib dipotong di Kotagede Jogjakarta, dan prosesi doa kematian gagal dilakukan karena mendapat penolakan massa.
Kelompok Intoleran juga menyasar upacara adat. Oktober tahun lalu, upacara ‘Sedekah Laut’ sebagai ekspresi rasa syukur — yang dilaksanakan nelayan Pantai Baron dan Kukup di Tanjungsari, Gunungkidul, diserang dan diteror oleh sekelompok orang yang menganggap upacara adat itu sesat.
Kelompok adat, penganut kepercayaan yang ribuan tahun hidup dalam damai di bumi Nusantara, kini menjadi sasaran kebencian. Dituduh sesat, dipersekusi, dan mengalami diskriminasi sosial.
“Hari ini, tepat setahun yang lalu, Gereja Santo Lidwina Bedog di Sleman, diteror. Seorang pemuda dengan samurai menghancurkan isi gereja, melukai pastor, dan jamaat yang sedang khusyuk beribadah. Inilah cermin persoalan besar kita hari ini,” ujarnya. (Web Warouw)

