JAKARTA- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menegaskan bahwa musuh utama Persatuan Indonesia adalah Intoleransi. Hal ini ditegaskan dalam Pidato Politik Ketua Umum PSI, Grace Natalie yang berjudul, ‘Musuh Utama Persatuan Indonesia’ di Yogyakarta, Senin (12/2) yang disiarkan langsung diberbagai televisi ke seluruh Indonesia dan dikutip Bergelora.com di Jakarta.
“Lebih dari empat tahun lalu, PSI didirikan atas kecemasan terkait meluasnya intoleransi di negeri ini. Itulah alasan kenapa salah satu Perjuangan Pokok PSI adalah melawan intoleransi,” tegasnya.
Menurutnya inteloleransi adalah fenomena berbahaya yang disebut aktivis peneliti perempuan Sandra Hamid sebagai ‘Normalisasi Intoleransi’.
“Pembiaran penyerangan atas kelompok yang berbeda keyakinan, penutupan tempat ibadah, meluasnya ceramah kebencian, lama-lama menjadi sesuatu yang kita anggap biasa,” ujar Grace Natalie.
PSI mengingatkan bahwa gejala inteloransi sudah menjadi umum dan dianggap wajar di masyarakat sehingga kalau dibiarkan akan merusak Persatuan Indonesia.
“Gejala dimana masyarakat semakin menganggap intoleransi sebagai sesuatu yang normal akibat meluasnya kampanye kultural yang mengajak orang hanya berpikir secara biner: hitam – putih. Kaum kita – musuh kita,” jelasnya
Grace Natalie menyesali selama ini partai-partai politik bungkam dan membiarkan intoleransi berkembang karena takut kehilangan pendukung dan pemilihnya.
“Dan menghadapi gelombang yang semakin besar itu, kaum Nasionalis-Moderat di partai politik, lebih memilih cara aman, agar lolos dari stigma anti umat, demi kepentingan elektoral semata,” jelasnya.
Ia mengingatkan berbagai peristiwa intoleransi yang menyerang perayaan-perayaan agama minoritas diberbagai daerah yang sampai sekarang belum bisa dihentikan.
“Tidak ada protes dari satu partai politikpun — kecuali PSI — ketika ada perayaan keagamaan diserang, ketika ada tempat ibadah ditutup paksa, ketika massa membakar rumah di mana Ibu Meliana sedang berada di dalamnya. Ke mana mereka ketika Ibu Meliana dimasukkan ke penjara?”
Ia mengajaks seluruh anggota dan kader PSI untuk bangkit berjuang menghadapi normalisasi intoleransi yang sudah menggoyang Persatuan Indonesia.
“Tidak cukup suara menentang itu semua, karena kita mulai menganggapnya sebagai hal biasa. Inilah Normalisasi Intoleransi! Apakah kita akan diam saja melihat ini semua terjadi? “ ujarnya. (Web Warouw)

