MEDAN- Tantangan terbesar di era digitalisasi ini adalah media online dijadikan alat untuk memproduksi kebohongan secara terus menerus yang menimbulkan kebencian, kekerasan dan perpecahan. Hal ini disampaikan oleh Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Antonius Benny Susetyo dalam Seminar Nasional ‘Deradikalisasi dan Moderasi Beragama’ di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Selasa (26/11).
“Salah satu tantangan terbesar di era digitalisasi ini adalah kebohongan yang diproduksi secara terus menerus tanpa henti dan menyebar begitu cepat,” jelasnya.
Selain itu, Romo menegaskan tindak radikalisme juga marak terjadi dengan menganut ideologi kematian yang diakibatkan rasa putus asa dan keterasingan seseorang.
“Ideologi kematian adalah orang takut untuk hidup dan memilih mati. Ideologi ini tidak mengenal agama, seseorang merasa terasingkan dan putus asa. Akhirnya memilih pada kekerasan yang menghacurkan dirinya dan kemanusiaan,” ungkap Romo.
Untuk menghadapi persoalan-persoalan ini Romo menegaskan harus ada aktualisasi dan habituasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Untuk mengatasi persoalan ini harus ada kesadaran untuk mengkatualisasikan dan menghabituasikan Pancasila dan kehidupan sehari-hari. Sejak anak harus ditanamkan dan dibiasakan,” tegas Romo.
Hal senada juga dijelaskan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan HAM Republik Indonesia Mohammad Mahfud MD. Dirinya menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah bangsa yang ada dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila.
“Nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan dan diperkuat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terciptanya kedamaian dan nemperkuat persatuan,” jelasnya.
Selain itu, Mahfud MD juga menegaskan bahwa Pluralisme di Indonesia adalah keindahan perberbedaan dalam persatuan.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, acara ini juga di hadiri Guberbur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Gubernur lembaga Pertahanan Nasional Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo, Rektor UIN SU TGS Saidurrahman, dan Pengasuh Pondok Persulukan Babussalam TGB. Ahmad Sabban El-Rahmani yang memberikan paparan terkait deradikalisasi di Indonesia. (Sugianto)

