Minggu, 26 April 2026

INSPIRATIF….! Rodia, Korban Rektor Perampas Tanah ‘Ngajar Keadilan’ Di Unila

Rodia, korban perampasan tanah mengajar di kelas Sosiologi, FISIP Unila, Bandarlampung, Lampung, Rabu (4/12). (Ist)

BANDARLAMPUNG- Rodia, korban perampasan tanah oleh mantan Rektor Unila, Mat Akin berbicara dihadapan 100 mahasiswa kelas sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unila, Rabu (4/12). Orang tua ini memastikan akan melaporkan penyerobotan atas tanah yang dilakukan oleh mantan Rektor Mat Akin beberapa waktu lalu.

“Saya orang gak punya kekuasaan, gak punya uang. Sementara dia orang punya uang dan berkuasa. Saya tidak akan berhenti menuntut keadilan,” ujarnya dihadapan kelas kelas.

Rodia juga menasehati mahasiswa agar tidak seperti mantan Rektor Mat Akin dan seharusnya membela orang tidak mampu.

“Saya sedih mahasiswa diam, melihat rektornya jadi perampas tanah rakyat yang tidak mampu. Apakah biarkan kalau rumah orang tua kalian dirampas? Apakah kalian akan diam. Dimana nurani mahasiswa sekarang?” ujarnya.

Ratusan mahasiswa dari 3 kelas mata kuliah sosiologi itu terkejut mendengar kesaksian Rodia. Rodia memberikan testimoni atas penganiayaan rektor dan menjawab pertanyaan mahasiswa. Semua mahasiswa yang mendengarkan kesaksian Rodia marah karena selama ini rektor mengatakan masalahnya sudah selesai.

“Saya sempat dipukuli rektor dipicu masalah tanah. Rektor membeli tanah 140 m2 tapi dalam sertifikat berubah menjadi 162 m2. Kelebihan tanah 22 m2 yang membuat rektor berang dan melakukan penganiayaan,” katanya.

Maruly Hendra Utama, dosen Sosiologi Politik, Fisip Unila mengatakan, ini adalah pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk mengetahui realita di rakyat.

“Biar mahasiswa gak hanya belajar dari buku dan baca dari internet saja. Sudah saatnya mahasiswa belajar kenyataan,” ujar Maruly.

“Besok jumat Rodia akan hadir lagi di Fisip Unila mengajarkan 3 kelas komunikasi yang mengambil mata kuliah pengantar sosiologi,” ujarnya.

Setelah mengajar di kelas, Rodia diundang minum kopi di ruang dosen Fisip Unila. Kedatangan Rodia ini membuat para dosen terkejut dan menunjukkan simpati.

“Sudah saatnya para civitas akademis di Unila menunjukkan sikap atas penindasan pada rakyat. Karena mahasiswa calon pemimpin bangsa, kita dosen dibayar rakyat untuk mengajar keadilan, bukan membela ketamakan,” tegas Maruly. (Salimah)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles