Selasa, 28 April 2026

SULIT DIBENDUNG ..! NATO-Eropa Kini Terlibat, Perang Iran Bisa Meluas Nih

JAKARTA – Perang Iran yang bermula dari serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran kini meluas ke berbagai kawasan di luar Timur Tengah. Sejumlah negara mulai meningkatkan kewaspadaan setelah rudal dan drone Iran menghantam atau mencapai wilayah Turki, Azerbaijan, dan Siprus.

Kondisi ini mendorong negara-negara Eropa memperkuat kehadiran militernya di kawasan. Inggris, Perancis, dan Italia mengumumkan pengerahan tambahan kapal perang, jet tempur, serta sistem pertahanan udara ke Mediterania timur dan negara-negara Teluk.

Pengerahan tersebut dilakukan setelah serangkaian insiden, termasuk rudal yang mengarah ke wilayah udara Turki serta serangan drone yang merusak pangkalan militer Inggris di Siprus pada awal pekan ini.

Awalnya, Inggris menolak permintaan AS menggunakan pangkalan militer mereka dalam serangan terhadap Iran. Namun, London kemudian memberikan akses terbatas untuk operasi pertahanan.

Inggris juga mengirim jet tempur ke kawasan tersebut, termasuk ke Qatar, guna melindungi pangkalan militer sekutu.

Perancis turut mengambil langkah serupa dengan mengizinkan kehadiran sementara pesawat Amerika di beberapa pangkalan militer mereka.

Selain itu, Paris mengerahkan jet tempur Rafale untuk membantu melindungi fasilitas militer Perancis di Uni Emirat Arab.

Keterlibatan NATO turut meningkat setelah sistem pertahanan udara aliansi tersebut mencegat rudal balistik Iran yang mengarah ke wilayah udara Turki.

Di saat yang sama, Uni Eropa dan Inggris memperketat langkah-langkah kontra-terorisme karena kekhawatiran Iran dapat mengaktifkan jaringan rahasia di luar negeri.

Di Qatar, otoritas setempat mengumumkan penangkapan dua sel yang mengaku memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Iran.

Menurut pejabat setempat, mereka ditugaskan untuk menjalankan misi spionase dan sabotase.

Potensi Terbukanya Garis Depan Konflik Baru

Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan lingkungan Al Lailaki di pinggiran selatan Beirut, dengan bandara internasional kota terlihat di latar belakang, pada 4 Maret 2026. (Ist)

Sejumlah analis memperingatkan bahwa perang Iran berisiko memicu ketegangan lama di kawasan, mulai dari militansi Kurdi hingga separatisme Azeri dan Baloch.

Direktur program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies (CSIS) Washington, Mona Yacoubian, menilai Iran telah menjalankan strategi memperluas konflik.

“Mereka berupaya memperbesar konflik, melibatkan semakin banyak negara dan menuntut dampak yang lebih besar bagi komunitas internasional atas perang ini,” kata Yacoubian, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (6/3/2026).

Ia juga menilai, konflik berpotensi merambah ke Laut Merah jika kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Teheran memutuskan ikut campur.

“Pertanyaan lainnya adalah apakah Iran memilih mengaktifkan sel-sel teroris di Eropa atau Amerika Serikat, yang akan berujung eskalasi lebih lanjut,” ujar Yacoubian.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Giorgio Cafiero, kepala eksekutif konsultan risiko Gulf State Analytics yang berbasis di Washington.

Menurut Cafiero, terdapat alasan kuat untuk khawatir perang dapat meluas jauh di luar Timur Tengah. Ia memprediksi, Iran dapat menargetkan aset-aset Amerika Serikat dan Israel di berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara, Afrika sub-Sahara, Asia Tengah, Amerika Latin, hingga Eropa Barat dan Timur.

“Aset-aset tersebut dapat termasuk, tetapi tidak terbatas pada kedutaan dan konsulat,” kata Cafiero.

“Iran jelas berfokus untuk membuat AS dan Israel membayar akibat sangat besar atas perang yang mereka lancarkan,” tambahnya.

Peran Kurdi dan Tekanan Bagi Turki

Para anggota kelompok bersenjata Kataeb Hezbollah saat mengotong peti mati rekan mereka yang tewas dalam serangan udara Amerika Serikat, ketika dimakamkan di Bagdad, 26 Desember 2023. Kataeb Hezbollah menyatakan akan mendukung Iran dalam risiko perang terbaru melawan AS. (Ist)

Di tengah ketegangan yang meningkat, Presiden AS Donald Trump juga memicu kekhawatiran baru setelah menyatakan dukungan terhadap kemungkinan invasi ke Iran, oleh kelompok oposisi Kurdi yang berbasis di Irak. Trump bahkan menyebut “akan sangat bagus” jika koalisi Kurdi melancarkan invasi ke Iran, dalam wawancara dengan Reuters.

Sebelumnya, Trump sempat berbicara dengan pemimpin koalisi kelompok oposisi Kurdi Iran yang telah mengumpulkan pasukan di Irak utara.

Peneliti senior non-residen untuk urusan Kurdi dan Irak di Foreign Policy Research Institute, Mohammed Solih, mengatakan bahwa percakapan tersebut meningkatkan status dan pentingnya Kurdi di Iran dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

Menurut Solih, langkah tersebut menunjukkan kemungkinan Washington mempertimbangkan strategi seperti yang digunakan dalam penggulingan Taliban di Afghanistan pada 2001 dan rezim Saddam Hussein di Irak pada 2003.

Sebelum pernyataan Trump itu, Iran telah melancarkan serangan udara lintas perbatasan terhadap fasilitas yang digunakan kelompok Kurdi.

 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan (kiri) dalam pertemuan di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 25 September 2025. (Ist)

Situasi ini menempatkan Turki dalam posisi sulit. Ankara telah memperingatkan Iran agar tidak lagi menyerang wilayahnya, sedangkan Turki juga memiliki komitmen perjanjian pertahanan dengan Azerbaijan.

Di sisi lain, Pemerintah Turki khawatir konflik dapat memicu kembali pemberontakan Kurdi di wilayah tenggara negara tersebut dan Suriah.

Analis yang berbasis di Istanbul sekaligus editor senior TRT World, Yusuf Erim, mengatakan bahwa sejumlah “garis merah” Turki telah atau hampir dilanggar.

“Tiga garis merah” tersebut mencakup serangan terhadap Turki, pemberian senjata kepada kelompok yang berafiliasi dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), serta potensi pembantaian terhadap etnis Turki Azeri di Iran.

Erim mengaku memiliki “firasat buruk” jika perang terus berlanjut.

“Jika perang tidak segera berakhir, akan sulit bagi Turki untuk tidak terlibat dalam perang ini,” ujarnya.

Menjalar ke Asia Selatan

Kapal fregat kelas Moudge, IRIS Dena, milik Iran saat dioperasikan pada 2021. IRIS Dena diserang torpedo kapal selam AS pada Rabu (4/3/2026) dan tenggelam di perairan dekat Sri Lanka. (Ist)

Kekhawatiran juga muncul di Asia Selatan setelah kapal selam Amerika menenggelamkan fregat Iran di lepas pantai Sri Lanka pada Rabu (4/3/2026).

Kapal tersebut sebelumnya diketahui berangkat dari pelabuhan di India timur. Menanggapi perkembangan ini, Angkatan Udara Pakistan meningkatkan patroli di sepanjang perbatasan tenggara negara itu dengan Iran untuk memantau aktivitas pesawat tempur Israel.

Seorang pejabat keamanan senior di Islamabad menyatakan, setiap pelanggaran wilayah akan mendapat respons militer. Pakistan juga mencermati kemungkinan upaya AS dan Israel memicu pemberontakan di antara kelompok minoritas, termasuk Kurdi dan Baloch yang tinggal di kedua sisi perbatasan Iran-Pakistan.

Militan Baloch sendiri telah meningkatkan pemberontakan di Pakistan selama dua dekade terakhir, dan berpotensi memanfaatkan melemahnya otoritas negara Iran.

Jika situasi tersebut terjadi, Islamabad kemungkinan terpaksa melakukan intervensi militer untuk mencegah instabilitas meluas ke wilayah perbatasannya.

Seorang pria memegang bendera Iran di tengahnya mendokumentasikan bangunan yang hancur setelah serangan udara di pusat Teheran pada Rabu (4/3/2026). (Ist)

Para analis menilai banyaknya negara yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan risiko konflik semakin meluas.

Yacoubian menggambarkan skenario terburuk sebagai eskalasi eksponensial, yakni ketika eskalasi awal memicu konflik baru di berbagai kawasan. Risiko tersebut juga meningkat apabila perang berlangsung lama. Menteri Inggris untuk Timur Tengah Hamish Falconer mengatakan, konflik ini kemungkinan tidak akan selesai dalam waktu singkat.

“Situasinya terus berkembang, tetapi ada indikasi bahwa ini adalah krisis, bukan krisis beberapa hari tetapi krisis beberapa minggu dan mungkin beberapa bulan,” kata Falconer kepada parlemen Inggris. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles