JAKARTA – Indonesia bersiap menerima pasokan minyak mentah dari Rusia hingga 150 juta barel sampai akhir 2026 di tengah ketidakpastian pasar energi global. Dari total tersebut, sebanyak 100 juta barel ditawarkan dengan harga khusus yang lebih kompetitif.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pengiriman minyak akan segera dimulai dalam waktu dekat.
“Pengiriman akan segera dimulai, dengan 100 juta barel tersedia dan tambahan 50 juta barel jika diperlukan,” ujar dia dikutip dari Atlas Press, Selasa (5/5/2026).
Kesepakatan impor minyak mentah ini merupakan tindak lanjut pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 13 April 2026.
Utusan khusus Indonesia Hashim Djojohadikusumo menyebut kerja sama ini menjadi bagian dari penguatan hubungan energi kedua negara. Langkah Indonesia menambah pasokan dari Rusia terjadi di tengah terganggunya distribusi energi global akibat penutupan Selat Hormuz.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah negara di Asia mencari sumber pasokan alternatif di tengah lonjakan harga minyak dunia. Situasi ini juga memberikan keuntungan bagi Rusia sebagai eksportir energi utama.
Berdasarkan perhitungan Reuters, pendapatan pajak minyak Rusia diproyeksikan mencapai sekitar USD9 miliar pada April, didorong kenaikan harga minyak mentah Urals yang mencapai rata-rata USD77 per barel pada Maret, meningkat dari USD44,59 per barel pada Februari.
India dan China tercatat menjadi pembeli utama minyak mentah Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Pengiriman ke India mencapai sekitar 2,1 juta barel per hari, sementara China turut meningkatkan impor seiring berkurangnya pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Departemen Keuangan Amerika Serikat pada 17 April memperpanjang lisensi umum yang membebaskan pengiriman minyak Rusia dari sanksi hingga 16 Mei.
Kebijakan ini mencerminkan dinamika geopolitik energi global yang semakin kompleks di tengah kebutuhan pasokan yang tinggi. (Calvin G. Eben-Haezer)

