JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pemerintah tengah menyiapkan sistem skrining untuk mendeteksi kasus hantavirus menyusul munculnya kasus pada kapal pesiar MV Hondius.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat deteksi dini sekaligus menekan potensi penyebaran penyakit yang disebabkan virus Hanta.
Budi mengatakan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah berkoordinasi dengan World Health Organization guna memperoleh panduan terkait penanganan dan sistem skrining hantavirus.
“Yang kita lakukan, kita mempersiapkan agar screening-nya kita punya. Apakah itu dalam bentuk rapid test kayak kita Covid dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR,” ujarnya dikutip Bergelora.com di Jakarta , Minggu (10/5/2026).
Menurut Budi, Indonesia saat ini memiliki keuntungan karena infrastruktur mesin PCR sudah jauh lebih banyak dibandingkan sebelum pandemi COVID-19.
“Kita beruntung sekarang mesin PCR kita sudah banyak. Jadi untuk deteksi virus ini harusnya bisa lebih mudah,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan pemeriksaan hantavirus tetap membutuhkan reagen khusus yang saat ini masih dipersiapkan pemerintah.
“Cuma dipastikan reagennya masih khusus,” lanjutnya.
Pemerintah Waspadai Potensi Penyebaran
Budi menegaskan pemerintah memandang serius potensi penyebaran hantavirus karena penyakit tersebut tergolong berbahaya.
“Virus Hanta ini kan virus yang lumayan berbahaya. Kita sudah koordinasi dengan WHO. Kita minta guidance untuk bisa lakukan screening-nya,” ucapnya.
Namun demikian, berdasarkan informasi yang diterima pemerintah, kasus pada kapal pesiar MV Hondius sejauh ini masih terkonsentrasi di kapal tersebut dan belum menyebar luas ke berbagai negara.
“Memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu. Jadi belum nyebar ke mana-mana,” ujarnya.
Fokus Perkuat Surveilans
Saat ini pemerintah memprioritaskan penguatan sistem surveilans untuk memastikan potensi kasus dapat segera terdeteksi.
“Sekarang kita masih fokus ke surveillance supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat,” ungkap Budi.
Sebelumnya, Kemenkes mencatat terdapat 23 kasus positif hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, termasuk DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat.
Kemenkes juga memastikan strain hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan strain Andes yang ditemukan dalam kasus kapal pesiar MV Hondius.
Di Indonesia, kasus didominasi Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome yang dipicu Seoul Virus dan Hantaan Virus.
Sebelumnya, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan temuan kasus di tanah air. Indonesia telah melaporkan kasus hantavirus pada manusia sejak tahun 2025 lalu.
Data Kemenkes mencatat 10 kasus konfirmasi hingga 4 Agustus 2025. Kasus tersebut tersebar di Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Sulawesi Utara, dan NTT.
Hingga kini, pemerintah belum merilis pembaruan data resmi untuk perkembangan kasus sepanjang 2026. Hal ini menuntut kewaspadaan mandiri dari masyarakat.
Kematian di Indonesia Tertinggi
Tjandra menyoroti angka kematian akibat hantavirus di Indonesia yang mencapai 13 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata Asia yang di bawah 5 persen.
“Memang disebutkan yang meninggal di negara kita ada komorbid. Tetapi di negara lain mungkin juga ada komorbid,” ujar Tjandra.
Mantan Direktur WHO Asia Tenggara ini menegaskan pentingnya kewaspadaan lintas negara. Mobilitas manusia yang tinggi mempermudah perpindahan penyakit menular antarwilayah.
Karena belum ada obat spesifik, pencegahan menjadi langkah paling utama. Masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah secara rutin.
Warga diminta menutup akses masuk tikus dan menggunakan masker saat bersih-bersih. Penggunaan sarung tangan juga sangat disarankan saat menyentuh area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus. (Web Warouw)

