JAKARTA – Sejumlah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempertanyakan realisasi janji pemerintah pusat terkait 19 juta lapangan pekerjaan.
“Mana janjinya yang bilang akan ada 19 juta lapangan pekerjaan? Sampai sekarang orang pendek pun belum dapat keadilan untuk bisa masuk kerja,” ujar salah satu lulusan SMK bernama Friska (18), dikutip Bergelora.com di Jakarta Selasa (26/5/2026).
Wanita dengan tinggi 148 sentimeter (cm) itu bilang, masih banyak lulusan SMK yang menganggur seperti dirinya.
Syarat fisik menjadi tantangan utama yang kerap kali membuatnya gagal ketika melamar pekerjaan.
Ia mengaku, sudah berkali-kali gagal diterima kerja hanya karena tinggi badannya yang kurang atau tidak memenuhi syarat dari perusahaan. Padahal ia yakin posisi pekerjaan sebagai barista coffee shop yang dilamarnya, tidak terlalu membutuhkan tinggi badan. Orang yang tinggi badannya kurang sekalipun tetap bisa membuat kopi enak, asalkan memiliki kemampuan dan diarahkan.
Lulusan SMK lain, Rina (22), juga mengaku masih kesulitan mendapatkan pekerjaan sampai saat ini.
“Lumayan susah sih, karena saingannya juga banyak. Terus juga persyaratannya kadang apa yang misalnya menurut kita bagiannya gampang, cuma untuk persyaratannya ada yang tidak sesuai sama kita,” kata dia
Sama seperti Friska, persyaratan fisik seperti tinggi badan juga menjadi penghambat untuk dirinya mendapat pekerjaan.
Dengan tinggi 145 cm, lamaran Rina di restoran, minimarket, bahkan perkantoran sekalipun seringkali diabaikan begitu saja. Selain itu, syarat harus memiliki pengalaman bekerja juga semakin mempersulit dirinya mendapatkan peluang. Pasalnya, pengalaman magang ketika di sekolah seringkali masih dianggap kurang oleh perusahaan.
Industri saat ini dinilai lebih senang menerima karyawan yang memang sudah memiliki pengalaman bekerja secara langsung, dibandingkan hanya magang. Bahkan, ia kerap kali kalah saing dengan kandidat lulusan SMP, karena mereka memenuhi syarat fisik dan sudah memiliki pengalaman bekerja.
“Ingin banget sih persyaratan fisik dan minimal pengalaman dihapus,” ucap dia.
Faktor “Orang Dalam”
Lulusan SMK lain Naouval (21) juga berharap, agar pemerintah segera menepati janjinya untuk membuka 19 juta lapangan pekerjaan. “Banyak-banyakin lapangan pekerjaan makin lama pengangguran di Indonesia makin banyak.
“Rata-rata kerja susah masuk karena banyak ngandelin ‘orang dalam’,” ucap dia.
Ia menilai, faktor ‘orang dalam’ kerap kali mempersulit lulusan SMK untuk mendapat peluang pekerjaan, terutama di bidang industri.
Banyak pabrik, kata Nouval, lebih mengutamakan pelamar yang memang direkomendasikan oleh karyawan internalnya saja. Oleh karena itu, banyak lulusan SMK yang sebenarnya punya keterampilan, tapi tetap kalah dengan mereka yang mengandalkan ‘orang dalam’.
Bahkan, keberadaan ‘orang dalam’ dinilai membuat sertifikat pelatihan yang didapatkan dari sekolah tak ampuh untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah.
Persaingan Pengalaman
Menurut salah satu guru SMK Negeri di Jakarta, Adam (bukan nama sebenarnya, 25), tantangan terbesar yang harus dihadapi para lulusan SMK untuk mencari kerja adalah ketatnya persaingan dan pengalaman yang dimiliki.
Saat ini persaingan di dunia kerja bukan hanya sesama lulusan SMK atau SMA, tapi D3 hingga S1 pun ikut memperebutkan posisi pekerjaan yang sama.
“Banyak perusahaan juga minta pengalaman minimal, padahal fresh graduate belum punya pengalaman kerja,” ucap Adam,
Di sisi lain, perkembangan industri begitu cepat, sehingga membutuhkan tenaga kerja yang memiliki banyak keterampilan.
Industri cenderung mencari karyawan yang tidak hanya mampu mengerjakan tugas utamanya, tapi juga dituntut memiliki kemampuan lain, seperti komunikasi, kerja sama tim, problem solving, sampai kemampuan pakai teknologi digital dan AI dasar.
Padahal dulu, kata Adam, para lulusan SMK bisa dengan mudah masuk ke industri hanya dengan kemampuan dasar.
Terbentur Biaya
Adam mengatakan, idealnya SMK melakukan penyesuaian kurikulum terhadap kebutuhan industri setiap tahun.
“Tapi kenyataannya banyak sekolah agak lambat menyesuaikan karena terbentur biaya, alat praktik, dan pelatihan guru,” jelas dia
Di tengah perkembangan industri yang cepat, sekolah justru membutuhkan waktu lama untuk memperbarui fasilitas atau materi pembelajaran.
Selain itu, kolaborasi antara sekolah dan industri dalam mencetak lulusan yang kompeten dan siap untuk kerja kerap kali tak optimal dan sebatas formalitas. Sekolah yang memiliki relasi bagus dengan industri siswanya lebih mudah mendapatkan kesempatan magang dan lebih besar peluang untuk direkrut kerja langsung setelah lulus sekolah.
“Tapi di beberapa daerah, kerja sama masih terbatas, jadi siswa kurang dapat pengalaman kerja nyata. Padahal link dengan industri itu penting banget buat lulusan SMK,” tegas dia.
Disorientasi Kurikulum Dan Miskinnya Fasilitas
Pengamat Pendidikan dari Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (Kornas JPPI) Ubaid Matraji, juga sepakat kurikulum yang tak relevan dan miskinnya fasilitas menyebabkan lulusan SMK minim keterampilan yang berujung sulit mendapatkan pekerjaan.
“Faktor utamanya adalah disorientasi kurikulum dan kemiskinan fasilitas. Konsep ‘siap kerja’ itu berubah menjadi ‘siap menganggur’ karena sekolah dipaksa meluluskan siswa tanpa dibekali keahlian yang relevan,” kata Ubaid ketika dihubungi, Selasa.
Ditambah lagi, mayoritas SMK membuka jurusan teknik atau kejuruan tapi pembelajarannya teoritis karena tidak punya alat praktik.
Hal itu lah yang membuat banyak lulusan SMK belum siap kerja, karena tak mahir dalam dunia industri. Kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi lulusan SMK kini semakin luas dan sangat dalam. Ubaid bilang, industri saat ini sudah berfokus pada otomatisasi tingkat tinggi, digitalisasi, dan teknologi hijau.
“Sementara itu, banyak SMK kita masih berkutat dengan modul-modul usang dan mesin-mesin tua peninggalan dekade lalu. Kompetensi yang diajarkan di sekolah sudah kedaluwarsa sebelum siswanya lulus,” ucap Ubaid.
Link and match antara dunia pendidikan dan industri dinilai hanya menjadi jargon semata dari pemerintah selama ini.
Staff Khusus Gubernur Jakarta Chico Hakim, juga sepakat banyaknya lulusan SMK yang menganggur karena mismatch kompetensi.
“Banyak jurusan SMK belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri Jakarta yang semakin bergeser ke sektor digital, teknologi hijau, logistik, pariwisata berkualitas, dan layanan berbasis teknologi,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin.
Di sisi lain, jumlah lulusan SMK sangat lah tinggi, sementara penyerapannya masih terbatas di sektor formal. Kemudian, banyak pula lulusan yang masuk pasar kerja tanpa pengalaman praktis yang memadai atau sertifikasi yang diakui industri.
Persoalan banyaknya lulusan SMK yang menganggur, kata Chico, bukan hanya dihadapi Jakarta, tapi juga secara nasional.
Pengurangan Pengangguran Sebagai Prioritas
Chico melihat persoalan mismatch tersebut sebagai sesuatu yang serius dan harus ditangani sesegera mungkin. Pengurangan pengangguran kini disebut menjadi prioritas utama Gubernur Jakarta Pramono Anung.
Hari Ini Pemprov Jakarta tengah menyusun Grand Design Strategi Penanggulangan Pengangguran di Jakarta yang komprehensif, termasuk dashboard terpadu yang mengintegrasikan data lowongan kerja, investasi, UMKM, dan kebutuhan industri. Kemudian, revitalisasi pendidikan dan pelatihan juga menjadi pilar utama untuk menekan angka pengangguran dari lulusan SMK.
“Kami terus mendorong link and match yang lebih kuat antara SMK dengan dunia usaha atau industri agar kurikulum, praktik, dan sertifikasi langsung relevan dengan pasar kerja Jakarta,” ujar Chico. (Web Warouw)

