JAKARTA – Gelombang panas yang melanda sejumlah negara Eropa mendorong permintaan terhadap pendingin ruangan (Air Conditioner/AC) dan kipas angin buatan China meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Di tengah kenaikan penjualan, media pemerintah China memanfaatkan momentum tersebut untuk menyindir kebijakan tarif Uni Eropa terhadap produk-produk asal Negeri Tirai Bambu.
Beijing bahkan mengungkap kapasitas industri China justru menjadi “penyelamat” bagi Eropa saat menghadapi cuaca ekstrem.
Ekspor AC Dan Kipas China Melonjak

Menurut laporan media pemerintah China, yang dilansir The Telegraph, Kamis (9/7/2026), nilai ekspor pendingin udara ke Uni Eropa melonjak 43 persen pada paruh pertama tahun ini menjadi 3,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 68 triliun.
Sementara itu, ekspor kipas angin listrik—yang hampir seluruhnya diproduksi di China—naik antara 20 hingga 97 persen di pasar dengan permintaan tertinggi dari Belgia, Perancis, Jerman, Belanda, Portugal, Spanyol, dan Inggris.
Analisis independen dari China Data Portal juga menunjukkan bahwa impor unit dan komponen pendingin udara Inggris meningkat 74 persen dalam lima bulan hingga Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan di pasar utama Eropa lainnya yang berada di kisaran 27 hingga 63 persen.
Beijing Sindir Tarif Uni Eropa

Media pemerintah China menggunakan data tersebut untuk mengkritik rencana tarif Uni Eropa yang bertujuan melindungi industri dalam negeri, seperti sektor otomotif dan panel surya, dari membanjirnya produk murah asal China.
China selama ini memberikan subsidi besar kepada pabrik-pabriknya sehingga produksi melampaui kebutuhan pasar domestik. Kelebihan produksi itu kemudian diekspor dengan harga yang sangat murah, yang kemudian dinilai mengancam produsen di Eropa.
Namun, media pemerintah China justru berpendapat bahwa tingginya minat konsumen Eropa terhadap pendingin udara murah asal China membuktikan kapasitas industri negara tersebut membawa manfaat, bukan ancaman bagi Eropa.
“Selama bertahun-tahun, sejumlah politikus Eropa menyerang China atas apa yang mereka sebut sebagai kelebihan kapasitas produksi. Ketika gelombang panas datang, pasokan tambahan bukanlah ancaman, melainkan penyelamat,” tulis harian China Daily, surat kabar utama Partai Komunis China.
Surat kabar bisnis milik pemerintah, Securities Times, juga menyatakan bahwa ketika negara-negara Eropa masih memperdebatkan tarif dan teknologi hijau, perusahaan-perusahaan China telah menawarkan solusi melalui produk inovatif yang berorientasi pada pasar.
China News Service bahkan mengunggah ulang sebuah video yang menyoroti rendahnya kepemilikan AC di Eropa, sekaligus memperlihatkan kandang babi di China yang sudah dilengkapi pendingin ruangan.
Media China lain turut menampilkan wawancara dengan warga Eropa yang memasang pendingin udara tipe single-split, yakni unit portabel yang memenuhi aturan ketat Eropa terkait kebisingan dan pelestarian bangunan bersejarah.
Platform grosir daring Joybuy, yang banyak digunakan importir Eropa, melaporkan penjualan pendingin udara single-split melonjak 42 kali lipat pada pekan 19–25 Juni.
Penjualan kipas angin berdiri meningkat 80 kali lipat, sedangkan kipas angin portabel naik hingga 120 kali lipat. Produsen elektronik China, Midea, juga menyebut penjualan pendingin udara PortaSplit di Eropa Barat meningkat 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Media China bahkan melaporkan sejumlah toko di Eropa kehabisan stok PortaSplit. Salah seorang pembeli asal Eropa yang dikutip media tersebut menyebut produk itu kini lebih langka daripada kartu Pokemon.
Ketergantungan Eropa Meningkat
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, produk yang sesuai kebutuhan konsumen dan memiliki harga kompetitif secara alami akan diminati pasar.
Sementara itu, General Manager Luckyway Home Appliances, Li Mingyang, mengatakan bahwa penjualan kipas angin perusahaannya ke Eropa telah meningkat 20 persen sejak Februari.
“Cuaca di Eropa sangat panas, sesuatu yang tidak kami perkirakan. Kami memperkirakan pesanan akan terus meningkat tahun depan,” ujarnya kepada situs berita Yicai.
Menurut Zhao Yiwen dari situs komentar China Academy, apabila tren tersebut berlanjut, negara-negara Eropa kemungkinan harus semakin terbiasa bergantung pada rantai pasok China.
Ia juga berpendapat bahwa Eropa perlu mengesampingkan prasangka geopolitik dan lebih terbuka terhadap rantai industri global.

