Hilang tanpa jejak, tanpa kuburan, tanpa nama di buku sejarah yang dibaca anak-anak sekolah.
Oleh: Desas Desus Cerdas *
MALAM 15 Agustus 1945, pukul 22.30, di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, seorang pemuda kurus berkacamata berdiri berhadapan langsung dengan sang proklamator. Ia diutus rekan-rekannya dari Menteng 31 untuk menyampaikan satu tuntutan yang tidak bisa ditolak.
Dengan suara tegas, Wikana memperingatkan Soekarno: jika proklamasi tidak diumumkan malam itu juga, esok hari akan terjadi pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran.
Soekarno tidak gentar. Ia berdiri, maju ke arah Wikana, dan berkata, “Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!”
Para pemuda terdiam. Soekarno menguasai ruangan malam itu — namun Wikana dan kawan-kawannya belum selesai.
Wikana lahir pada 18 Oktober 1914 di Sumedang, Jawa Barat, sebagai anak ke-14 dari 16 bersaudara dari keluarga menak — bangsawan lokal yang mendapat privilege pendidikan di era kolonial. Ayahnya, Raden Haji Soelaiman, pendatang dari Demak, Jawa Tengah.
Dari keluarga inilah kesadaran politiknya bermula: kakaknya, Winanta, pernah dibuang ke kamp tahanan Boven Digoel oleh pemerintah Belanda akibat terlibat pemberontakan 1926, dan kisah itu kemudian diabadikan dalam buku yang disunting oleh Pramoedya Ananta Toer. Wikana mewarisi bara yang sama.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Europeesch Lagere School — sekolah dasar kolonial berbahasa Belanda — lalu melanjutkan ke MULO di Bandung, Wikana belajar bahasa Jerman, Prancis, dan Inggris secara autodidak. Penguasaan bahasa asingnya itulah yang kelak membukakan pintu bagi dirinya ke jaringan pergerakan internasional.
Ia bergabung dengan Partai Komunis Indonesia yang saat itu bergerak di bawah tanah setelah dilarang kolonial pasca pemberontakan 1926. Bersama Adam Malik dan Pandu Kartawiguna, ia pernah ditangkap Belanda karena menyebarkan koran ilegal Menara Merah di Jawa Barat, sebelum akhirnya dibebaskan saat Jepang menggantikan kekuasaan Belanda.
Di masa pendudukan Jepang, Wikana bergerak cerdas. Ia bergabung di Asrama Indonesia Merdeka — sekolah kader pemuda yang dibentuk oleh kalangan intelijen Angkatan Laut Jepang, di bawah naungan Laksamana Tadashi Maeda.
Dengan menggunakan nama samaran Raden Sunoto, Wikana menjalin kedekatan personal dengan Maeda. Hubungan inilah yang kemudian memainkan peran menentukan: ketika proklamasi harus dirumuskan dalam semalam, Wikana-lah yang membuka pintu rumah dinas Maeda di Menteng sebagai tempat yang aman dari pengawasan militer Jepang.
Ketika kabar kekalahan Jepang menyebar pada 15 Agustus 1945, para pemuda Menteng 31 tidak mau menunggu. Mereka mengirim Wikana bersama Darwis untuk menemui Soekarno dan Hatta, menuntut proklamasi dikumandangkan malam itu juga — tanpa menunggu sidang PPKI, tanpa menunggu restu Jepang, tanpa menunggu apapun.
Soekarno menolak. Pertemuan itu berakhir panas. Esok subuhnya, 16 Agustus 1945 pukul 03.00, bersama Chaerul Saleh dan Sukarni, Wikana ikut dalam rangkaian aksi yang membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok — sebuah kota kecil di Karawang, Jawa Barat, jauh dari pengaruh garnisun Jepang di Jakarta.
Di sana Soekarno dan Hatta diamankan di rumah seorang petani Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong.
Ironisnya, Wikana pula yang tanpa sengaja menjadi penyebab berakhirnya peristiwa itu. Didesak oleh Ahmad Subardjo, ia akhirnya membocorkan lokasi persembunyian kedua pemimpin bangsa. Subardjo segera menjemput Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta, dan malam harinya teks proklamasi dirumuskan di rumah Maeda — berkat koneksi yang dibangun Wikana sendiri.
AM Hanafi, rekan sesama Menteng 31, mengaku marah besar atas kebocoran itu. Wikana hanya bisa menerima dengan muka pucat sambil mengakui kesalahannya.
Namun sejarah tidak berhenti di sana. Pada 17 Agustus 1945, proklamasi yang diperjuangkan mati-matian itu akhirnya berkumandang dari Jalan Pegangsaan Timur 56.
Wikana-lah yang mengatur seluruh logistik upacara, termasuk membujuk aparat militer Jepang agar tidak mengganggu jalannya pembacaan teks proklamasi.
Pasca kemerdekaan, Wikana dipercaya menjabat Menteri Negara Urusan Pemuda dalam Kabinet Sjahrir II dan III, kemudian berlanjut di Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II — menjadikannya Menteri Urusan Pemuda pertama dalam sejarah Republik Indonesia.
Ia juga sempat ditunjuk sebagai Gubernur Militer wilayah Surakarta. Namun setelah peristiwa Madiun 1948, posisinya dilucuti dan digantikan oleh Gatol Subroto. Kariernya terus merosot.
Ketika DN Aidit memimpin kebangkitan PKI di era 1950-an, Wikana tersisih dari lingkaran dalam partai — dianggap terlalu dekat dengan dunia intelijen untuk dipercaya sepenuhnya.
Wikana kemudian hidup di kawasan padat di Jalan Dempo Nomor 7A, Matraman, Jakarta Timur.
Chairul Saleh — teman seperjuangannya di Menteng 31 yang kini menjabat Ketua MPRS — masih sempat mengangkatnya sebagai anggota MPRS. Itu satu-satunya tali penghubung yang tersisa antara Wikana dan panggung kekuasaan.
Ketika peristiwa G30S meletus pada 1 Oktober 1965, Wikana sedang berada di Beijing bersama sejumlah tokoh PKI lainnya untuk menghadiri perayaan hari nasional Tiongkok.
Setelah situasi di tanah air memanas, ia memilih kembali ke Indonesia. Itu keputusan yang tidak pernah bisa diralat. Kurang dari setahun setelah G30S, sekelompok tentara yang tidak dikenal mendatangi rumahnya di Jalan Dempo dan membawanya pergi. Tak ada surat penangkapan yang diketahui publik. Tak ada pengadilan. Tak ada kabar.
Wikana — pemuda yang pernah membuat Soekarno naik pitam, yang membuka pintu rumah Laksamana Maeda agar proklamasi bisa dirumuskan dengan aman, yang menjadi Menteri Urusan Pemuda pertama republik ini — hilang tanpa jejak, tanpa kuburan, tanpa nama di buku sejarah yang dibaca anak-anak sekolah.
Nasibnya diduga serupa dengan ribuan korban pembantaian massal 1965-1966. Tapi berbeda dari kebanyakan korban, Wikana adalah salah satu orang yang ikut memastikan Indonesia punya tanggal 17 Agustus untuk diperingati — sebuah ironi yang sejarah tampaknya belum selesai menanggungnya.
***
#WikianaSejarahIndonesia #ProklamasiKemerdekaan #RengasdengklokBercerita #PahlawanTerlupakan #SejarahBangsaIndonesia
——–
* Artikel ini diterbitkan ulang di Bergelora.com dari artikel di akun FB Desas Desus Cerdas yang berjudul asli “Pemuda Ini Ancam Soekarno Dengan Kata-kata Yang Membuat Proklamasi Terjadi, Akhirnya Dijemput Serdadu Tak Dikenal Dan Lenyap Selamanya”

