Selasa, 9 Juni 2026

Aksi Penabur Berbagi: Pemulihan Bukan Hanya Tanggap Darurat

Dalam masa pemulihan juga terbangun masyarakat tangguh yang bisa mendefinisikan pengurangan risiko bencana berbasis dari ancaman dan dampak yang mereka alami

Oleh: Pdt. Victor Rembeth *

“Terima kasih untuk malaikat malaikat kecil yang masih menjadi teman kami menghadapi masa pemulihan bencana”, demikian suara hati seorang ibu dari desa yang paling terdampak Siklon Senyar 25-26 November 2026 ketika menyambut tim Penabur Berbagi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Desa Hutanabolon di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah adalah desa yang mengalami bencana berulang dan dalam keadaan yang belum selesai pasca masa tanggap darurat bencana. Kabupaten Tapanuli Tengah juga merupakan Kabupaten yang paling terdampak di Sumatera utara dengan total kerusakan rumah sebanyak 17.991 rumah.

Suara hati ibu tersebut merupakan representasi ribuan penyintas bencana yang merasa seakan “ditinggalkan” setelah 2-3 bulan pertama keriuhan media sosial, viralnya bencana Siklon Senyar. Minggu minggu awal hampir tiap hari media menayangkan berita tiga provinsi terdampak bencana: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Bantuan Penyandang Disabilitas RBM-HKBP Sibolga. (Ist)

Pertarungan narasi di media sosial disertai dengan mobilisasi sumber daya berbagai organisasi, hadirnya banyak “ahli” bencana memenuhi ruang publik kita hampir setiap saat. Sudah tentu perlu diapresiasi berbagai perhatian yang diberikan, namun penanggulangan bencana sejatinya tidak berhenti hanya pada respon tanggap darurat.

Penabur Berbagi yang merupakan unit pelayanan dari Yayasan Badan Pendidikan Kristen Penabur juga melakukan mobilisasi sumber daya pada masa masa awal bencana Siklon Senyar.

Serupa dengan banyak organisasi masyarakat dan lembaga lembaga, BPK Penabur berupaya mengetuk Nurani kemanusiaan semua bagian dari sivitas akademika, murid, orangtua murid, guru dan pengurus Yayasan.

Pembedanya adalah pihak BPK Penabur berkonsultasi dengan Unsur Pengarah dan penanggung jawab lapangan BNPB untuk “menunda” penyaluran bantuan setelah masa transisi darurat dan pemulihan awal. Sebuah kesepakatan untuk berbagi dengan penyintas direncanakan agar dilakukan pasca respon tanggap darurat.

Bantuan Penyandang Disabilitas RBM-HKBP Sibolga. (Ist)

Hasilnya adalah aksi kemanusiaan PENABUR BERBAGI dilakukan di 4 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga dan Tapanuli Utara. Perencanaaan agar bantuan terfokus kepada sasaran yang tepat dikoordinasikan dengan BNPB, Pemerintah Daerah dan Organisasi Masyarakat Sipil Lokal.

Di Tapanuli Selatan bekerja sama dengan pemerintah Desa didukung oleh Karitas Keuskupan Sibolga dan Rumah Zakat membangun aula desa di Tolang Julu. Di desa Hutanabolon menyediakan 10 sumur bor dengan LSM Toba Initiative.

Di Kota Sibolga dengan RBM HKBP memberikan alat bantu 400an penyandang disaabilitas. Di Tapanuli Utara bekerjasama dengan Penanggungjawab BNPB dan Pemerintah Kabupaten menyediakan token listrik untuk Huntara di desa Sibalanga.

Aksi aksi tersebut adalah sikap yang tepat menyapa masyarakat penyintas bencana dengan dukungan pemulihan awal. Ketika banyak organisasi sudah tidak lagi berada di daerah terdampak bencana, kehadiran Penabur Berbagi memberikan model yang bisa dimultiplikasi oleh berbagai organisasi, yaitu pentingnya kehadiran bantuan pada masa pemulihan.

Bantuan Penyandang Disabilitas RBM-HKBP Sibolga. (Ist)

Kendati tidak menjadi sorotan media, tidak juga terhisab dalam adagium 𝙣𝙤 𝙫𝙞𝙧𝙖𝙡 𝙣𝙤 𝙖𝙘𝙩𝙞𝙤𝙣, pendampingann yang diberikan pada masa pemulihan sangat berdampak secara psikologis pada masyarakat terdampak.

Ketika anak anak disapa dengan tempat bermain yang hadir lagi, ibu ibu bisa mendapatkan air bersih yang terjangkau, penyandang disabilitas merasa dimanusiakan kendati dalam bencana, dan keluarga memperoleh listrik tanpa berfikir harus membayar dalam keterbatasan mereka.

Tidaklah terlalu berlebihan ketika semua pihak yang mendapat perhatian memberikan penghargaan tinggi kepada BPK Penabur. Wakil Bupati Tapanuli Selatan, Jafar Ritonga, menyebutkan BPK Penabur sudah membangkitkan asa penduduk terdampak seara khusus di desa Tolang Julu.

Bupati Tapanuli Utara, JTP Hutabarat bersama dengan Wakil Bupati, Deni Lumbantoruan, khusus mengundang makan malam sebagai bentuk penghargaan yang tulus. Sudah tentu perwakilan ibu ibu tangguh di desa Hutanabolon serta penyandang disabilitas di RBM HKBP Sibolga juga menjadi penanda betapa bersyukurnya penyintas bencana atas kehadiran pelayanan di masa pemulihan.

Peresmian 10 Sumur Bor di desa Hutanabolon Tapanuli Tengah. (Ist)

Seorang ibu di Hutanabolon menyiapkan sebuah puisi “Malaikat Kecil” dan seorang gadis penyandang disabilitas di Sibolga memberikan Bahasa isyarat yang mengatakan “𝙄 𝙇𝙤𝙫𝙚 𝙮𝙤𝙪”

Dalam karya kemanusiaan menanggulangi bencana, memang tindakan respon pada masa tanggap darurat sangat diperlukan, namun tidak memperhatikan masyarakat terdampak pada masa pemulihan bukanlah sifat yang tepat.

Dalam masa pemulihanlah masyarakat disapa sebagai manusia manusia yang perlu dipulihkan secara fisik dan psikis. Dalam masa pemulihan juga terbangun masyarakat tangguh yang bisa mendefinisikan pengurangan risiko bencana berbasis dari ancaman dan dampak yang mereka alami.

Aksi nyata para “malaikat kecil” Penabur Berbagi yang di”resmi”kan dalam perjalanan mereka ke lokasi terdampak merupakan manifestasi dari pelaksanaan siklus bencana yang mendekati ideal.

Undang undang no 24 tahun 2007 mensyaratkan tanggungjawab tiga pihak, yaitu Pemerintah, Masyarakat dan Lembaga Usaha. BPK Penabur sudah membuktikan bahwa sinergi Pemerintah dan Masyarakat adalah sebuah kolaborasi yang indah dan efektif.

Kerjasama dengan Pemerintah pusat melalui konsultasi dengan BNPB, koordinasi dengan pemerintah daerah Kabupaten dan Desa, serta kepercayaan bekerja sama dengan Organisasi Sipil Masyarakat lokal menjadikan Perhatian dan kasih BPK PENABUR melalui Penabur Berbagi menjadikan kehadiran “Malaikat Kecil” dalam Pemulihan dapat memanusiakan komunitas yang terdampak bencana.

Dalam semua karya kemanusiaan maka apa yang dikatakan Maya Angelou menjadi sangat baik bila kita camkan bersama, “𝙄’𝙫𝙚 𝙡𝙚𝙖𝙧𝙣𝙚𝙙 𝙩𝙝𝙖𝙩 𝙥𝙚𝙤𝙥𝙡𝙚 𝙬𝙞𝙡𝙡 𝙛𝙤𝙧𝙜𝙚𝙩 𝙬𝙝𝙖𝙩 𝙮𝙤𝙪 𝙨𝙖𝙞𝙙, 𝙥𝙚𝙤𝙥𝙡𝙚 𝙬𝙞𝙡𝙡 𝙛𝙤𝙧𝙜𝙚𝙩 𝙬𝙝𝙖𝙩 𝙮𝙤𝙪 𝙙𝙞𝙙, 𝙗𝙪𝙩 𝙥𝙚𝙤𝙥𝙡𝙚 𝙬𝙞𝙡𝙡 𝙣𝙚𝙫𝙚𝙧 𝙛𝙤𝙧𝙜𝙚𝙩 how you made 𝙩𝙝𝙚𝙢 𝙛𝙚𝙚𝙡.”

Salam Kemanusiaan dan Salam Tangguh untuk semua penyintas Siklon Senyar dan sahabat pelaku kemanusiaan pemerintah, masyarakat dan lembaga usaha.

—————

*Penulis Pdt Victor Rembeth, Unsur Pengarah BNPB

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles