Rabu, 3 Juni 2026

AMBRUK NIH..! Dampak Tarif Trump pada Pergerakan IHSG Hari Ini

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini akan mulai bergulir sejurus dengan pembukaan pasar modal setelah libur Nyepi dan Lebaran 2025. Sepanjang liburan, berbagai peristiwa ekonomi terjadi dan berpotensi menjadi sentimen buruk bagi pasar modal Indonesia.

IHSG hari ini diproyeksikan akan melemah pada sesi awal pembukaan nanti. Hal itu dipengaruhi oleh kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada 4 April 2025.

Tarif Trump ini merupakan kebijakan proteksionis AS yang menetapkan bea masuk setara terhadap negara-negara yang selama ini menerapkan tarif tinggi terhadap produk asal AS. Implikasi kebijakan ini begitu luas dan cepat, memicu kepanikan pasar global, terutama karena pasar khawatir akan eskalasi perang dagang, disrupsi rantai pasok, dan potensi perlambatan ekonomi dunia.

Lantas, apa saja dampak kebijakan tarif Trump pada IHSG?

1. Berpotensi Buat IHSG

Trading Halt Lagi Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengingatkan, kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Trump menyebabkan bursa global menghadapi volatilitas yang kencang.

Tentunya, itu juga akan berimplikasi pada pergerakan IHSG yang akan mulai diperdagangkan hari ini. Bahkan, Nafan tak heran ketika banyak pihak memproyeksikan pergerakan saham pada hari pertama setelah libur panjang dikaitkan dengan penghentian perdagangan saham sementara atau trading halt.

“Jadi wajar saja nanti dalam pembukaan IHSG akan ada potensi gap. Kita harus melihat nanti bagaimana perkembangan dari pergerakan indeks global pada hari Senin, karena itu juga sangat menentukan,” terang dia.

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan sebelumnya, Pengamat sektor keuangan Ibrahim Assuaibi memproyeksikan, perdagangan saham di hari pertama setelah libur Lebaran 2025 nanti akan terkena suspend atau penghentian sementara perdagangan. Ia memproyeksikan pelemahan IHSG akan berkisar antara 2-3 persen.

Namun demikian, dengan kondisi pelemahan rupiah yang terus terjadi di pasar luar negeri atau Non-Deliverable Forward (NDF), bukan tak mungkin pasar modal akan terkena suspend atau trading halt yang berarti IHSG melemah di atas 5 persen.

“Dibuka, lalu kemungkinan sekitar jam 11.00 atau 12.00 WIB, ketika melemah 2 persen, itu sudah ada pengawasan. Itu berdasarkan Undang-Undang di bursa ini kan dalam pengawasan. Nah, di (pelemahan) 3-5 persen itu sudah mendapatkan warning sebenarnya, itu akan di-suspend,” kata dia, Selasa (8/4/2025).

2. Tekan Kinerja Emiten Berorientasi Ekspor

Kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menimbulkan gejolak secara global. Emiten-emiten berorientasi ekspor ke AS pun terancam mengalami perlambatan kinerja akibat pemberlakuan tarif impor tersebut.

Kebijakan ini membuat harga jual barang-barang hasil produksi Indonesia yang dikirim ke Negeri Paman Sam bakal lebih mahal. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, mengatakan, emiten-emiten yang berorientasi ekspor, terutama ke AS, tentu bakal merasakan efek negatif dari pemberlakuan tarif impor dari negara tersebut.

Misalnya, emiten dari sektor makanan-minuman (mamin), komoditas, furnitur atau mebel, dan lain-lain. Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan, pada dasarnya emiten-emiten tersebut perlu mendapat dukungan sesegera mungkin dari pemerintah dalam menghadapi dampak kebijakan tarif impor AS. Dalam hal ini, pemerintah mesti melakukan negosiasi dan diplomasi perdagangan baik dengan AS maupun negara-negara lain agar akses pasar ekspor Indonesia makin terbuka. “Indonesia bisa meningkatkan kerja sama bilateral dan multilateral dengan negara-negara sahabat di bidang perdagangan,” tutur dia, Minggu.

3. Modal Asing Keluar, Kurs Rupiah Melemah

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menjelaskan, kebijakan ini dapat membuat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS atau kurs rupiah berlanjut. Investor akan mencari aset yang aman dan keluar dari negara berkembang. Tekanan rupiah wajib diwaspadai efeknya ke imported inflation atau harga barang impor jadi lebih mahal.

Kalau sampai terjadi, hal itu akan menekan daya beli masyarakat lebih lanjut, terutama untuk pangan. Hal ini juga kemungkinan menekan kebutuhan sekunder seperti perlengkapan rumah tangga hingga elektronik. “Pasca libur Lebaran, pasar saham bersiap hadapi capital outflow. Trading halt bukan tidak mungkin terjadi lagi,” kata dia, Kamis (3/4/2025).

Demikian adalah tiga efek utama yang berpotensi akan memengaruhi kinerja IHSG hari ini. (Enrico N. Abdielli)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles