Minggu, 26 April 2026

Andai Aku Cina

Ramai merayakan Imlek 2019. (Ist)

Tahun Baru Cina dirayakan diseluruh belahan dunia. Tak ketinggalan di Indonesia. Walaupun sekelompok orang berupaya menghembuskan kebencian anti-cina, namun tenggelam oleh semangat kebhinnekaan yang sudah mengakar kuat dalam sanubari rakyat Indonesia. Hassan Aoni dari Omah Dongeng Marwah di Kudus menuliskannya untuk pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Hassan Aoni

Ijin saya menggunakan kata “Cina” untuk mengambalikan makna itu pada tempat dan martabatnya yg luhur, bukan “stigma” yang selama ini ada. Seperti penumpang KA yang tanpa stigma menyebut “Pocin” setiap turun di Stasiun “Pondok Cina”, Depok.

Membayangkan aku bersuku Cina, ribuan ucapan Gong Xi Fa Cai akan memenuhi halaman sosmedku di hari imlek ini. Datang dari berbagai suku dari 1.340 suku di Nusantara.

Apa yang kurang dariku? Nama sudah mirip. Diplesetkan sedikit jadi Han Shan. Semangat kerjaku juga lumayan. Temanku yang super slow-mo bahkan menganggapku workaholic (gila kerja) seperti orang Cina. Benar saja kalau pembandingnya dia. “Jangan “ngoyo” (kerja keras) kayak orang Cina,” katanya. Dan seperti kebanyakan mereka yang suka bergadang, istirahatku juga jarang. Kalau libur lebih memilih membanting kartu meski tanpa taruhan.

Temanku dari suku Cina bercerita, “Orang Cina yang tua-tua itu menganggap anak sahabatnya seperti anaknya sendiri”. Kalau musim sekolah sibuk mencari sekolah terbaik untuk anak-anak sahabatnya. Bahkan mencarikan pasangan hidup anak itu seperti anaknya sendiri.

Aku mencoba begitu. Kepada sahabatku, anaknya kuanggap seperti anakku sendiri. Kalau dia mantu, aku jadi seksi yang paling sibuk. Datang rapat paling dulu. Kontak tukang masak, tukang tratag, tukang shooting sampai rias pengantin. Dan ikut menyumbang sepantas-pantasnya sahabat.

Tapi, ada saja yag kurang. Aku tidak punya toko dan tak bisa dagang. Bisa menghitung, tapi tak bisa sempoa. Bisa menghapal cuma gotun, jigo, ceban. Mataku pun tak sipit seperti mereka. Kulitku coklat seperti suku Jawa-Sunda umumnya.

Di Indonesia anak-anak keturunan Cina banyak yang hidup berada. Punya usaha dagang dan pabrik dengan ribuan karyawan. Sebagian besar pegawainya pasti suku di luar dia. Tapi, bukan tanpa kerja keras mereka mendapatkan itu semua. Sebuah video pendek Bruce Lipton menjawab keraguan itu. Menurutnya, 95 persen hidup ditentukan oleh tujuh tahun kehidupan kita. Bagaimana hidup ditentukan dari tujuh tahun pertama kehidupan itu? Lipton mengatakan, “Itulah mengapa orang kaya tetap kaya, dan orang miskin tetap miskin.”

Dan kita tahu, sejak kecil suku Cina terdidik hidup hemat di keluarganya. Sedang, kita kurang terdidik melakukan itu di keluarga. Jawa boleh punya filsafat “gemi nastiti”, tapi suku Cina yang mempraktekkannya. Cina gemar menabung dan investasi, sedang kita lebih suka menghamburkan harta. Suku Cina melakukan itu baik punya maupun tidak punya. Hanya alam bawah sadar dan latihan yang terus-menerus, ujar Lipton, yang bisa mengubah semua karma itu.

Maka, membayangkan menjadi Cina, aku harus memastikan dulu cara berpikir dan sikapku, bukan mataku yang tak sipit dan kulitku yang coklat ini. Biarpun cuma bisa menghitung gotun dan jigo, yang penting pakaianku bersih dari debu yang bisa menghalangiku menjadi “mereka”.

Tidak ada yang salah menjadi “mereka”. Bahkan wajib bagi yang masih berhambur harta dan hidup slow-mo. Tidakkah kita diperintah mencari ilmu sampai ke negeri Cina? Bukan karena jauhnya Cina disebut dalam hadits itu, masih ada tempat lain lebih jauh dari Cina waktu itu. Pasti karena keunggulan ilmu dan kerja keras suku ini dibanding suku-suku yang lain.

Tapi, mengapa suku yang unggul ini distigma negatif dalam alam bawah sadar kita? Apa yang salah dari mereka? “Ini akibat politik!” kata Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, USA, dalam “Political Institutions and Ethnic Chinese Identity in Indonesia,” (2003). Kebencian terhadap Cina adalah dampak politik pecah-belah Soeharto selama puluhan tahun, yang memaksa Cina berasimilasi dan mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi.

Sentimen-sentimen itu selalu dipanggil kembali seperti stigma komunisme dalam kekejian peristiwa G-30S-PKI yang ditulis di buku sejarah sekolah. Maka, Kejari perlu menarik buku-buku berbau komunisme-sosialisme itu akhir-akhir ini. Tak perduli sumber ideologi komunisme-sosialisme sebagai lawan kapitalisme justru dipraktekkan oleh negara-negara kapitalisme maju hari ini. Kita mengenal social solidarity economy, ekonomi berbasis solidaritas sosial. Kapitalisme sedang berubah baju menuju sosialisme, segairah sosialisme mengawini kapitalisme di negeri Cina sendiri.

Tapi, di tahun politik ini, sentimen itu berdering kembali. Pesan-pesan bertengger di berbagai sosmed, “Jangan ucapkan hari raya imlek, karena sama artinya mengakui kebenaran Budha,” katanya. Orang NU melakukan ritual barzanjain tidak otomatis menjadi Syiah, meski ada tradisi Syi’i dalam ritual itu. Ada sekelompok orang yang memaksa untuk kembali ke “yang asli”, baik dalam kultur maupun ibadah, seperti mereka yang paling benar saja.

Jangankan tradisi Cina, bahkan wayang kulit karya Sunan Kalijogo yang Jawi saja ingin mereka basmi. Tak kenal kompromi dan toleransi. Mereka pikir kita sedang hidup di tanah Arab? Tidakkah di negeri sana dulu Nabi menerima Kristiani Najran di dalam masjid dan menyilahkan mereka beribadah? Bahkan Amerika yang kapitalis sudah tukar cincin dengan sosialisme. Mana yang asli?

Menjadi “Cina” tak perlu harus operasi mata supaya sipit. Yang penting bisa memicingkan mata mewaspadai syahwat konsumerisme, yang serba ingin membeli yang tak perlu. Tak usah pergi ke salon untuk whitening, yang penting dapat menjernihkan pikiran supaya bisa membedakan kapan waktu bekerja dan waktu untuk membanting kartu.

Selayaknya justru mengucapkan kamsia kepada mereka. Bukankah tetangga dan sodara-sodara kita sudah diberi kesempatan belajar dan bekerja karena keunggulannya? Soal stigma, lihat saja catatan di kepolisian, banyak dari suku kita yang melakukannya. Jadi, tidak ada ketetapan suku dalam soal ini kecuali karena cap.

Aku ingin menjadi seperti “mereka”, dengan tetap menjadi diriku yang muslim, yang Jawa-Sunda, yang modern-tradisional, yang enteng mengucapkan “Gong Xi Fa Cai” pada sodara-sodara Cina-ku dan pada diriku sendiri.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles