Kamis, 23 April 2026

Aristides Katoppo: Eling Lan Waspodo, Jangan Menyerah!

Pertemuan terakhir dengan Aristides Katoppo. Dari kiri kekanan, Tutut Herlina, Ibu Mimis, Maya Handini, Aristides Katoppo, Daniel Dhuka Tagukawi. (Ist)

JAKARTA- Wartawan Aristides Katoppo, disaat-saat terakhirnya berkali-kali mengingatkan falsafah Jawa, ‘Eling Lan Waspodo’ dan tentang ‘Sakratul Maut Orde Baru’. Dua hal ini yang belum sempat ditulis sampai kepergiannya Minggu (29/9) lalu.

Aristides Katoppo terlahir dari keluarga Minahasa tapi sangat mengenal kekayaan budaya dan filsafat berbagai suku di Indonesia. Berdiskusi dengannya perlu konsentrasi penuh. Untuk menjelaskan sesuatu, maka tides akan secara ketat mengecek data dan berbagai opini. Kemudian menyorotinya dengan berbagai perumpamaan dan pendekatan yang selalu mewarnai alam pikiran Wartawan Senior Sinar Harapan ini. Perumpamaan sering dari pewayangan atau cerita-cerita rakyat nusantara. Pendekatannya bisa dari kanan, tengah sampai kiri.

Tides,–semua kawan memanggilnya demikian,–sangat egaliter. Cara berdiskusi selalu sangat demokratis, seperti berada di dalam balon besar,–kadang melelahkan sebagian orang yang tidak sabar.

“Opo toh Karepe?” Demikian Fransisca Ria Susanti, kader kesayangannya berbisik kalau sudah mulai bingung mendengar Tides menjelaskan soal peristiwa G-30S 1965. Melihat kebingungan Fransisca, Tides hanya senyum-senyum. Wajahnya penuh kasih sayang melihat anak didiknya kebingungan. Fransisca sempat ditugaskan memimpin Harian Sore Sinar Harapan.

Lain lagi buat kader Tutut Herlina, yang saat ini memimpin Sinar Harapan. Bagi Tutut, selain sebagai bapak yang dicintai, Tides adalah kawan berdebat. Terutama soal pertarungan soal China dan Amerika.

“Sudah jelas China menggantikan kekuasaan ekonomi Amerika, Koq Tides masih ngotot Amerika masih berjaya,” ujar Tutut suatu saat. Tides memang pernah mengajar di Amerika sebelum kembali ikut mendirikan Sinar Harapan pada tahun 2001 lalu.

Tapi Tides juga gak sungkan-sungkan memukul mejanya, untuk meluruskan cara berpikir lawan bicara. Kalau sudah begini wajahnya akan berubah merah dan suaranya cukup menggelegar membuat hati ciut.

Sejak kontroversi Gubernur Ahok beberapa tahun lalu sampai diskusi terakhir, Tides berkali-kali menekankan falsafah Jawa, Eling Lan Waspodo,–setelah diskusi panjang dalam berbagai topik tentang situasi nasional terakhir. Tides juga kerap mengingatkan tentang Sakratul Maut Orde Baru setiap saat akan mencari kesempatan bangkit tapi memakan korban.

Tides mengingatkan bahwa saat ini, dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi, Indonesia sedang menuju perubahan yang sangat mendasar secara demokratis.

Perubahan ini menyebabkan tarik menarik antara yang mendukung dengan yang menolak dalam berbagai bentuk dan cara. Nah, menurutnya sisa-sisa Orde Baru saat ini sedang menghadapi sakratul maut. Berupaya lepas dari Sakratul maut, maka berbagai peristiwa terjadi. Setelah sentimen agama, ditebar,– belakangan sentimen rasis juga dihembuskan,–mengadudomba masyarakat yang sangat bhinneka. Provokasi rasisme asrama mahasiswa Papua terbukti membakar kemarahan rakyat Papua dan mengganggu konsolidasi pemerintahan Jokowi.

Tides tidak sepakat pandangan kerentanan pada kebhinekaan Indonesia yang mendasari berdirinya Republik Indonesia ini. Ia mengingatkan agar wartawan harus mulai membuka sejarah kembali, untuk mengingatkan kesepakatan-kesepakatan yang melandasi berdirinya Republik Indonesia.

“Ngana (Kamu-red) baca ulang risalah rapat dari PPKI sampai BPUPKI tahun 1945. Sangat dinamis dan bijaksana. Kalau Indonesia Timur yang mayoritas non-muslim berkeras, bertentangan dengan kehendak Syariah Islam dalam konstitusi, maka Republik Indonesia tidak akan pernah ada. Suruh dorang (mereka-red) baca ulang,” tegasnya mengarahkan pemberitaan yang belum sempat dibikin juga.

Ia mengingatkan di atas kesepakatan-kesepakatan dalam sidang-sidang BPUPKI itulah Republik Indonesia berdiri dan tidak bisa diruntuhkan.

“Jangan menyerah yang penting Eling Lan Waspodo,” ujarnya sambil tersenyum.

Belakangan Tides mendukung upaya Presiden Jokowi memperkuat Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan menyetujui revisi Undang-Undang KPK.

“Apakah korupsi sudah berkurang? Bagaimana dengan yang besar-besar? Bagaimana dengan yang sudah tersangka tapi tidak ada tindak lanjut? Siapa yang akan mengingatkan KPK untuk konsisten, kalau tidak ada pengawas,” ujarnya mengarahkan pemberitaan yang belum sempat dibikin juga.

“Ingatlah, media massa adalah alat perjuangan rakyat,” terngiang pesan Tides dalam pertemuan terakhir yang dihadiri kader-kader terbaiknya, Tutut Herlina, Daniel Dhuka Tagukawi dan Maya Handini, dipertengahan September lalu. Pesan ini mungkin sudah dilupakan semua oleh wartawan.

Daniel Dhuka Tagukawi, kader Tides yang lain di Sinar Harapan asal dari Sumba Jumat (25/9) malam masih sempat mengingatkan bahwa Tides ingin segera berjumpa kembali. Rencananya Senin (30/9) dirinya bersama beberapa kawannya akan menemuinya.

“Kawan, kita selalu telat memenuhi panggilan Tides. Kita tidak punya pilihan sekarang selain melanjutkan semua perjuangan Tides dengan Sinar Harapan,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang sempurna. Krisman Kaban, Fransiska Ria Susanti dan Tutut Herlina tercenung mendengar kesimpulan.

“Yak, kita semua Sinar Harapan,” tegas Tutut Herlina kembali membakar semangat. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles