Kamis, 25 April 2024

Artemucin Untuk Malaria Belum Resisten

JAKARTA- Sehubungan dengan publikasi ilmiah “Spread of Artemisinin Resistance in Plasmodium falciparum Malaria”  yang di muat New England Journal of Medicine akhir bulan yang lalu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI Tjandra Yoga Aditama menegaskan bahwa di Indonesia belum ditemukan masalah resistensi terhadap obat anti malaria artemucin.

“Data yang tersedia merupakan data in-vivo dengan indikator efikasi yaitu adequate clinical and parasitological response (ACPR) pada hari-42,” ujarnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (18/8).

Menurutnya, dari data hasil penelitian in vivo Balitbangkes Kemenkes RI di Sulawesi Utara,Kalimantan dan Papua, belum ditemukan penurunan efikasi dihydroartemisinin-piperaquine, dan hanya ditemukan beberapa kasus dengan prolonged parasite clearance yaitu masih terdeteksi pada hari ke 3 setelah dosis pengobatan lengkap diberikan.

“Tetapi semua kasus prolongedparasite clearance tersebut dengan asexsual parasitemia sangat rendah dan sembuh atau ACPR pada hari-42. Indikator yang digunakan untuk artemisinin resisten di artikel New England Journal adalah parasite clearance half-life dengan menggunakan cut off  lebih dari 5 jam dengan atau tanpa Kelch13 Polymorphisms at or beyond amino acid position 441 yang belum lama ditemukan genotyping P. falciparum tersebut yang berhubungan dengan artemisinin resisten di Pailin, Kamboja,” ujarnya.

Menurutnya untuk memantau maka setiap tahun dilakukan uji efikasi pada berbagai daerah. ACT masih sangat efektif untuk pengobatan malaria di Indonesia. Obat malaria yang sudah resistan di Indonesia adalah Klorokuin dan sudah dilaporkan oleh seluruh propinsi Indonesia pada tahun 2003 dan sudah tidak digunakan lagi di Indonesia.

Resistensi

Enam faktor terkait terjadinya resistensi terhadap obat anti malaria adalah karena pada vektor nyamuk terjadi mutasi genetik, imunitas, pengendalian vektor yang mati, umurnya pendek dibanding siklis parasit. Resistensi terjadi bila Plasmodium mengalami mutasi genetik, resistensi alamiah, dan cross resistance.

“Kualitas obat juga bisa menyebabkan resistensi, termasuk kepatuhan standar pengobatan, dosis obat, monitoring dan pengawasan pengobatan,” jelasnya.

Hal lain yang menyebabkan resistensi menurutnya adalah imunitas pasien, kepatuhan dan tuntas terhadap pengobatan juga ketersediaan ketersediaan obat dan akses layanan. (Calvin G. Eben-Haezer)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru