Selasa, 13 Januari 2026

CUAN BISNIS SENJATA..! Israel Tambah Kaya Raya Berkat Perang, Ini Mesin Uangnya

JAKARTA – Teknologi pertahanan milik Israel berkembang dengan pesat. Bukan hanya membuat negara itu lebih kuat di medan perang, tetapi juga jadi ladang uang baru.

Perkembangan industri ini juga mendorong pertumbuhan banyak startup teknologi pertahanan. Tercatat sepertiga startup yang terdaftar di Startup Nation Central berdiri setelah perang dengan Palestina pada 7 Oktober 2023 lalu.

Produk dari perusahaan rintisan itu ternyata diminati banyak negara. Begitu juga banyak investasi yang mengalir deras ke sana, termasuk munculnya modal ventura dalam negeri.

Salah satunya adalah Lital Leshem pendiri Protego Ventures yang juga prajurit cadangan Israel. Dia mendirikan perusahaan setelah mempelajari 160 perusahaan pertahanan.

Sejauh ini dia mengumpulkan US$100 juta. Reuters menuliskan perusahaan Leshem diperkirakan akan menyalurkan dana pada empat startup hingga akhir tahun.

Investasi dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa juga banyak bermunculan. Ini cukup mengejutkan, khususnya bagi AS, karena kerap menghindari industri pertahanan yang dinilai berisiko serta memiliki banyak regulasi.

Israel sendiri memandang AS sebagai cawan suci untuk bisnis, ungkap Leshem. Namun dia memastikan pandangan itu akan mulai berubah. Israel juga berharap banyak dengan Eropa, terkait pernyataan presiden AS Donald Trump yang meminta benua biru tak lagi membebani pertahanan ke negaranya.

Leshem mengakui industri pertahanan ini bukan sesuatu yang mudah digarap. Ada banyak tantangan untuk masuk ke pasar global, termasuk hambatan regulasi pada masing-masing negara yang ingin dituju.

Meski begitu, Leshem yakin industri itu bisa populer. Salah satunya terkait sektor siber.

Pasok Gas Alam ke Mesir

Kerusakan akibat serangan Israel di Jalur Gaza. (Ist)

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Perdana Menteri Israel, mengatakan pada Rabu, 17 Desember 2025, bahwa Israel telah menyetujui kesepakatan pasokan gas alam ke Mesir, seraya menggambarkan kerja sama sini sebagai kesepakatan gas terbesar dalam sejarah negara Israel.

Pada bulan Agustus, Israel menandatangani perjanjian ekspor senilai USD35 miliar yang bersumber dari ladang gas alam Leviathan.

“Kesepakatan dengan perusahaan Amerika, Chevron ini, dengan mitra Israel, akan memasok gas ke Mesir,” kata Netanyahu dalam pernyataan yang disiarkan televisi, seperti dikutip The National News, Kamis, 18 Desember 2025.

Ia menambahkan bahwa proyek yang sempat tertunda karena beberapa kendala teknis ini akan membantu menjamin stabilitas di kawasan Timur Tengah.

Menteri Energi Israel, Eli Cohen, juga menegaskan bahwa ini merupakan kesepakatan ekspor terbesar dalam sejarah negara.

Netanyahu mengatakan bahwa pendapatan dari hasil ekspor ini akan dialokasikan untuk memperkuat sektor pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, keamanan, serta masa depan generasi mendatang.

“Kesepakatan ini sangat memperkuat status Israel sebagai kekuatan energi regional, dan berkontribusi pada stabilitas di kawasan kita,” kata Netanyahu.

Di sisi lain, pasokan ini diharapkan dapat meredakan krisis energi di Mesir. Mesir diketahui telah menghabiskan miliaran dolar untuk mengimpor gas alam cair (LNG) sejak produksi domestiknya mulai menurun pada tahun 2022, yang memaksa negara tersebut meninggalkan ambisinya menjadi pemasok regional dan beralih ke Israel untuk menutupi kekurangan pasokan.

Berdasarkan keterangan dari NewMed Energy, salah satu mitra pengelola ladang gas tersebut, kontrak ini mencakup agregat ekspor sekitar 130 miliar meter kubik gas alam dari ladang Leviathan ke pasar Mesir. Kesepakatan ini melibatkan kemitraan antara NewMed Energy, pemegang saham lainnya, serta Blue Ocean Energy sebagai pihak pengambil (off-taker) di Mesir.

Sementara itu, pasokan gas ke Kairo direncanakan akan berlanjut hingga tahun 2040, atau hingga seluruh kuantitas kontrak terpenuhi. CEO NewMed Energy, Yossi Abu, menyebut hari ini sebagai momen bersejarah bagi sektor gas alam. Ia mengatakan hal ini menjamin investasi berkelanjutan di Israel dan menciptakan stabilitas untuk tahun-tahun mendatang.

Serangan Israel Tewaskan Komandan Hamas

Seorang anak Palestina duduk di dinding sekolah yang rusak akibat serangan Israel, di Gaza, Palestina pada Selasa (11/11/2025). (Ist)

 

Dilaporkam belakangan, Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengirimkan pesan pribadi yang keras kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa serangan Israel di Gaza merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Melansir Kantor Berita Anadolu pada Kamis (18/12/2025) seorang sumber menyebutkan pesan tersebut dikirim setelah Israel melancarkan serangan di Kota Gaza yang menewaskan Raed Saad, wakil komandan sayap militer Hamas, pada akhir pekan lalu.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan total empat orang. Menurut laporan itu, seorang pejabat senior AS menyampaikan pesan Gedung Putih kepada Netanyahu dengan nada tegas.

“Jika Anda ingin merusak reputasi sendiri dan menunjukkan bahwa Anda tidak mematuhi kesepakatan, silakan. Namun kami tidak akan membiarkan Anda merusak reputasi Presiden Trump setelah dia memediasi kesepakatan di Gaza,” ujar pejabat tersebut.

Pejabat AS juga menyatakan pemerintah Israel tidak memberikan pemberitahuan maupun melakukan konsultasi dengan Washington sebelum melancarkan serangan tersebut.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Kepala Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, mengonfirmasi bahwa Raed Saad tewas akibat serangan Israel.

Saad diketahui telah menjadi target sejumlah upaya pembunuhan oleh Israel sebelum akhirnya tewas dalam serangan udara pada Sabtu lalu.

Serangan itu terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata di Gaza telah berlaku sejak 10 Oktober. Sejak perjanjian tersebut diberlakukan, militer Israel dilaporkan berulang kali melanggarnya, dengan menewaskan sedikitnya 391 warga Palestina dan melukai 1.063 lainnya.

Secara keseluruhan, Israel disebut telah menewaskan lebih dari 70.600 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.100 orang dalam serangan di Gaza sejak Oktober 2023.

Aksi militer tersebut terus berlanjut meskipun telah disepakati gencatan senjata. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru