Rabu, 12 Juni 2024

GAK PERLU SENJATA NUKLIR..! Rusia Mulai Kuasai Kota Strategis, Pasukan Chenchen Rebut Wilayah Ukraina

JAKARTA – Pasukan Rusia dilaporkan membuat kemajuan di kota Chasiv Yar. Moskow sendiri telah memiliki tujuan jangka panjang untuk merebut salah satu kota strategis di Ukraina tersebut.

Media Ukraina Ukrainska Pravda, mengutip sumber militer dan seorang blogger pada Minggu (9/6/2024), melaporkan bahwa pasukan Rusia telah mulai menduduki sebuah distrik di kota tersebut di sepanjang kanal.

“Selama seminggu terakhir, telah terjadi lebih dari 1.500 penembakan di pinggiran Chasiv Yar dari utara ke selatan,” lapor media tersebut, mengutip para sumbernya.

Sumber tersebut mengatakan pasukan Rusia menggunakan bom udara berpemandu untuk membersihkan area di sepanjang jalan utama “dan dengan dukungan sejumlah rudal jarak jauh dan pesawat nirawak, mereka mulai bergerak maju dan membangun pasukan mereka”.

Sementara Divisi Pasukan Terjun Payung ke-98 Rusia mengatakan melalui pesan Telegram bahwa pasukan Ukraina “melakukan segala yang mungkin untuk memastikan unit kami tidak bergerak melintasi kanal dan mengambil posisi di distrik ‘Baru’ di sisi lain”.

Video yang diunggah oleh kedua belah pihak menunjukkan tentara berjalan melalui area pusat kota yang hampir hancur, di mana mereka memeriksa gedung-gedung.

Chasiv Yar berada di dataran tinggi sekitar 20 km (12 mil) di sebelah barat Bakhmut, sebuah kota yang direbut pasukan Rusia setahun yang lalu setelah berbulan-bulan pertempuran yang meratakan hampir semua bangunannya.

Kota ini dipandang oleh kedua belah pihak sebagai titik persiapan potensial bagi Rusia untuk maju ke kota-kota penting Kramatorsk dan Sloviansk.

Pasukan Rusia telah membuat kemajuan bertahap di area front timur sejak kota Avdiivka jatuh ke tangan pasukan Rusia pada Februari lalu. Mereka juga telah meluncurkan serangan lintas perbatasan ke beberapa bagian wilayah Kharkiv timur laut, meskipun Ukraina mengatakan bahwa kemajuan telah dihentikan.

Tak Perlu Senjata Nuklir

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Jumat, 7 juni 2024, memastikan pihaknya tak perlu senjata nuklir untuk memenangi perang Ukraina. Jika diperlukan, Rusia bahkan bisa saja melakukan uji coba senjata nuklir, namun Putin tak mau pamer. Itu adalah ucapan paling keras Putin terkait perang Ukraina yakni konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.

Ucapan Putin itu, juga menjadi sinyalemen kalau Moskow tidak mau memperburuk perang Ukraina dengan menjadikannya perang nuklir. Perang Ukraina meletup pada Februari 2022.

Dalam St Petersburg International Economic Forum, moderator Sergei Karaganov yang juga analis senior dari Rusia melayangkan pertanyaan pada Putin apakah Rusia harus mengacungkan pistol nuklirnya ke negara-negara Barat atas nama Ukraina, Putin menjawab dia tidak melihat adanya alasan untuk menggunakan senjata-senjata semacam itu.

“Penggunaan senjata ini (nuklir) hanya dilakukan untuk kasus-kasus dengan pengecualian, seperti ancaman terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara. Saya tidak merasa kasus semacam ini akan muncul. Tidak perlu,” kata Putin.

Moskow menilai Krimea yang diambil dari Ukraina pada 2014 dan empat wilayah lainnya di Ukraina sekarang menjadi bagian tak terpisahkan dari teritorial Rusia. kondisi ini telah meningkatkan kemungkinan serangan nuklir jika Kyev bertekat merebut kembali wilayah-wilayah itu. Ukraina telah meningkatkan serangan drone dan rudal ke target-target Rusia, di antaranya Krimea dan berjanji akan memukul mundur seluruh pasukan Rusia dari teritorialnya.

Putin meyakinkan pihaknya tidak mengubah doktrin Rusia soal nuklir yang mengatur soal kondisi bagaimana senjata-senjata dapat digunakan. Putin juga menyebut jika diperlukan Rusia bisa saja melakukan uji coba senjata nuklir, namun dia melihat hal ini belum diperlukan saat ini. Rusia dan Amerika Serikat memiliki hampir 90 persen senjata nuklir dunia.

Sebelumnya, Putin pada 6 Juni 2024 mengkritik pengiriman senjata jarak jauh negara-negara Barat ke Ukraina, dengan alasan Moskow dapat mempersenjatai negara lain dengan senjata serupa untuk menyerang sasaran-sasaran di Barat.

Komentar tersebut – yang disampaikan Putin setelah beberapa negara Barat termasuk Amerika Serikat memberikan lampu hijau kepada Ukraina untuk menyerang sasaran di wilayah Rusia. Tindakan ini disebut Moskow sebagai salah perhitungan besar.

Pasukan Chenchen Rebut Wilayah Ukraina

Sementara itu dilaporkan, pasukan muslim Chechen pro-Rusia, mengklaim berhasil merebut sebuah wilayah di Ukraina.

Pemimpin Chechen, Ramzan Kadyrov, pada Minggu (9/6) mengatakan unit Akhmat telah mengambil kendali Ryzhivka, sebuah desa di wilayah Sumy Ukraina yang berseberangan dengan wilayah selatan Rusia, Kursk.

Dalam pesan di Telegram, ia menyebut “kemajuan terencana skala besar” telah menimbulkan “kerugian signifikan di pihak Ukraina, yang akhirnya terpaksa mundur” dari wilayah itu.

Kementerian Pertahanan Rusia sejauh ini belum memberikan komentar mengenai klaim Chechen.

Komandan unit Akhmat pada bulan ini sempat menyatakan bahwa pasukannya telah dikerahkan di wilayah perbatasan Belgorod Rusia.

Pada Mei, Kadyrov juga mengatakan saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa puluhan ribu prajuritnya siap berperang untuk Rusia di Ukraina. Menurutnya, ada 43.500 prajurit yang telah bertugas dalam perang Moskow di Kyiv.

Militer Ukraina telah mewanti-wanti bahwa ada penumpukan pasukan Rusia di sekitar wilayah Sumy dalam beberapa pekan terakhir. Mereka diduga kuat bersiap untuk melancarkan operasi militer. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru