JAKARTA – Pengguna Gmail perlu waspada terhadap modus baru peretasan yang kian marak. Google bahkan memberikan peringatan langsung di blog resminya soal beberapa modus penipuan yang kerap terjadi di layanan mereka.
Salah satu penipuan sering terjadi adalah e-mail palsu dengan judul ‘Online Reward Program’ atau ‘Penghargaan Program Online’.
Bagi pengguna Gmail, jangan buru-buru senang atau merasa beruntung, sebab e-mail tersebut dirancang untuk mencuri data Anda. Pesan palsu tersebut akan meyakinkan Anda bahwa perusahaan sudah berhasil melakukan pencarian sebanyak 18,25 miliar kali di Google..
Pencapaian itu berkat pengguna yang setidaknya sudah melakukan 10 juta kali pencarian. Biasanya bunyinya seperti ini: “Selamat, Anda adalah pengguna Google yang beruntung. Setiap 10 juta kali pencarian di seluruh dunia, kami akan mengirimkan hadiah tanda terima kasih. Anda adalah pengguna yang beruntung!”
Bersamaan dengan pesan menggugah tersebut, e-mail palsu juga menyisipkan sebuah tautan (link). Jangan sampai Anda membuka link tersebut, karena itulah tujuan sebenarnya si pelaku kejahatan.
Hacker bisa langsung mengakses dan mencuri data pribadi Anda segera setelah Anda mengklik link tersebut. Pada dasarnya, jangan pernah membuka link yang mencurigakan di internet karena biasanya berisi malware atau virus pengintai.
Tidak hanya identitas yang dicuri, pelaku kejahatan juga dimungkinkan mencuri uang pengguna, dikutip Bergelora.com dari Gizchina, Selasa (30/12/2025).
Untuk itu, Google mengimbau pengguna agar terus waspada dengan jenis penipuan serupa.
Oleh karena itu, Google kini mengimbau semua pengguna untuk waspada terkait jenis penipuan serupa. Sama halnya dengan penipuan berbasis push-notification yang kerap muncul tiba-tiba dan menawarkan sejumlah hadiah. Google menegaskan pihaknya tidak pernah membagi-bagi hadiah dengan meminta informasi pribadi.
“Jadi, Anda tidak akan memenangi hadiah dengan mengisi survei atau memasukkan data pribadi. Tutup jendela notifikasi tersebut dan jangan memasukkan data personal Anda,” kata Google.
Lebih lanjut, Google mengatakan ada 3 kunci utama yang harus diketahui pengguna agar tak tertipu oleh penipu online. Berikut selengkapnya.
- Perhatikan secara saksama. Penipuan biasanya dirancang untuk menciptakan perasaan darurat bagi pengguna. Jangan langsung terbuai dan bertindak terburu-buru.
- Lakukan riset. Ketika mendapat pesan yang mencurigakan, coba riset dan pikirkan kembali apakah penawaran yang diberikan masuk akal.
- Jangan ikuti perintah, apalagi yang berkaitan dengan pemberian data pribadi. Tak ada perusahaan dengan kredibilitas tinggi yang akan meminta detil informasi pribadi dan pembayaran.
Ramai Modus Penipuan Gmail
Google mengingatkan pengguna email untuk semakin waspada terhadap maraknya modus penipuan yang memanfaatkan layanan Gmail, seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Meski sistem keamanan terus diperkuat, ancaman penipuan digital masih membayangi jutaan pengguna.
Google mengklaim telah memblokir lebih dari 99,9% email phishing yang mengandung malware. Namun, penyebaran modus penipuan yang semakin canggih membuat sekitar 2,5 juta pengguna Gmail tetap berpotensi menjadi sasaran serangan.!
“Dengan lebih dari 2,5 juta pengguna Gmail, kami kini menyebarkan model AI untuk memperkuat pertahanan keamanan, termasuk menggunakan large language model (LLM) baru yang dilatih untuk memerangi phishing, malware, dan spam,” kata Google, dikutip dari Forbes, Sabtu (27/12/2025).
Namun, firma keamanan siber McAfee menilai AI ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi membantu perusahaan teknologi memberantas penipuan, tetapi di sisi lain juga dimanfaatkan penjahat siber untuk menciptakan serangan yang semakin meyakinkan dan sulit terdeteksi.
“Dengan AI yang makin mudah diakses, penipu dapat membuat scam yang lebih personal dan realistis,” ungkap McAfee.
Masalah spam pun belum mereda. Data Mailmodo menunjukkan pesan spam menyumbang 46,8% dari total trafik email global, mendorong banyak perusahaan beralih ke platform komunikasi lain seperti Slack, Microsoft Teams, hingga WhatsApp dan Telegram untuk mengurangi risiko.
Salah satu cara menghindari penipuan adalah dengan tidak membagikan alamat email utama secara sembarangan. Apple lebih dulu menghadirkan fitur Hide My Email yang memungkinkan pengguna memakai alamat email acak yang diteruskan ke inbox utama, sehingga email asli tetap tersembunyi.
Google pun mengikuti langkah serupa. Pada November lalu, raksasa teknologi itu terdeteksi mengembangkan fitur Shielded Email untuk Gmail. Fitur ini memungkinkan pengguna membuat alamat email alias untuk penggunaan sekali atau terbatas, yang kemudian diteruskan otomatis ke email utama tanpa perlu membagikan alamat asli.
Meski kemampuan AI Google diklaim mampu mendeteksi spam 20% lebih baik dan memproses laporan pengguna hingga 1.000 kali lebih banyak per hari, perlindungan teknologi saja dinilai belum cukup. McAfee menekankan perlunya pelabelan email berbahaya yang lebih agresif dan pembaruan sistem keamanan berkelanjutan.
Di sisi pengguna, langkah pencegahan tetap krusial. Selain memanfaatkan fitur Hide My Email atau Shielded Email, pengguna disarankan memiliki alamat email terpisah untuk keperluan publik, serta tidak sembarangan mengklik tautan di inbox, meski tampak berasal dari institusi resmi. Langkah sederhana ini dinilai masih menjadi benteng terkuat menghadapi penipuan digital. (Muff)

