JAKARTA – Polemik besaran Rp 10.000 per porsi untuk Makan Bergizi Gratis ditanggapi oleh dokter spesialis gizi klinis, Dr. Widjaja Lukito. Menurutnya besaran tersebut relatif cukup
“Ini tergantung harga bahan pokok di darah yang harus dijaga oleh pemerintah daerah pemerintah daerah,” jelasnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (14/12).
Yang kedua menurutnya harga Rp 10.000 per porsi cukup untuk anak yang sehat. Tapi untuk anak yang tidak sehat pasti memerlukan tambahan.
“Kalau anak terkena infeksi memerlukan perawatan dan penambahan gizi secara khusus. Angka itu pasti memerlukan penambahan,” jelasnya
Namun yang terpenting menurutnya niat pemerintah untuk meningkatkan gizi anak harus dikawal jangan dikorup lagi.
Ia mengingatkan bahwa ekonom Kwik Kian Gie pernah menyampaikan tingkat kebocoran APBN itu sebesar 30 persen. Hal yang sama pernah disampaikan oleh Profesor Soemitro DjojohadiKoesoemo, ayah Presiden Prabowo.
“Jadi jangan sampai niat politik Presiden Prabowo ini gagal karena dikorup. Ini kesempatan kita memperbaiki kualitas kesehatan generasi muda kita,” tegasnya.
Cak Imin Menjawab Megawati
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyatakan, anggaran program makan bergizi gratis senilai Rp 10.000 per porsi adalah perhitungan minimal yang digunakan sebagai dasar awal implementasi program tersebut.
Penjelasan ini disampaikan Muhaimin menjawab Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang menyarankan anggaran makan bergizi gratis ditinjau ulang agar lebih sesuai dengan harga kebutuhan pokok saat ini.
“Nah, Rp 10.000 itu sebagai fondasi awal, anggarannya itu mungkin bisa jadi perhitungan yang minimalnya,” ujar Muhaimin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (13/12/2024) malam.
Cak Imin, sapaannya, menjelaskan bahwa pemerintah masih melakukan simulasi untuk memastikan program ini dapat memberikan asupan gizi yang optimal dengan anggaran tersebut. Dengan anggaran Rp 10.000 per porsi, menu program makan bergizi gratis bisa jadi fokus terhadap kandungan tertentu.
“Minimalnya itu Rp 10.000, nanti bisa melibatkan banyak pihak. Kalau baru (misalnya) pada level empat sehat saja, selama ini diprioritaskan proteinnya, misalnya begitu,” ujar Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa tersebut.
Ia juga menyebutkan bahwa evaluasi terus dilakukan bersama pihak terkait, termasuk Badan Gizi Nasional, untuk memastikan program ini berjalan efektif dan sesuai harapan.
“Tentu Badan Gizi yang lebih tahu, tapi semua sampai 1 Januari ini (masih) simulasi,” sambung dia.
Sebelumnya, Megawati Soekarnoputri mengemukakan bahwa angka Rp 10.000 mungkin masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan makan bergizi lengkap. Penilaian itu mempertimbangkan harga-harga bahan pokok di pasaran.
“Jadi ya gitu, sorry ya Mas (Prabowo) saya mesti kritik. Lah saya bener kok. Saya suruh ibu-ibu hitung, Rp 10.000 dapat opo to yo? Baru ibu-ibu bilang, ‘Lha yo opo, paling tempe.’ Lha iya bener. Saya bisa masak kok,” ucap Megawati alam acara peluncuran buku Pilpres 2024: Antara Hukum, Etika dan Pertimbangan Psikologis, Kamis (12/12/2024).(Web Warouw)

