Senin, 1 Juni 2026

MELIMPAH DI KALBAR..! BRIN Ungkap Potensi Mineral Tanah Jarang Skandium, Harta Karun Baru dari Limbah Bauksit

JAKARTA – Kalimantan Barat berpeluang memainkan peran penting dalam rantai pasok mineral strategis dunia. Di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk kendaraan listrik, pemeliharaan industri, dan teknologi energi bersih, residu pengolahan bauksit atau lumpur merah di Kalbar disebut menyimpan potensi skandium, salah satu logam kritis yang kini menjadi perhatian banyak negara.

Potensi tersebut diungkap Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Setiawan, dalam forum Indonesia Miner 2026, 7 Mei di Jakarta.

Menurutnya, skandium banyak berkaitan dengan residu pengolahan bauksit yang selama ini dihasilkan industri alumina di Kalimantan Barat.

“Skandium banyak berkaitan dengan residu pengolahan bauksit ( lumpur merah ) di Kalimantan Barat,” ujar Iwan dikutip Bergelora.com dari pernyataan resmi BRIN di Jakarta, Senin (6/1).

Nama skandium mungkin belum sepopuler nikel, tembaga, atau emas. Namun di dunia industri maju, mineral ini menjadi salah satu bahan baku yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan material ringan dan berkekuatan tinggi.

Encyclopaedia Britannica mencatat skandium merupakan bagian dari kelompok Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements bersama itrium dan 15 unsur lantanida lainnya. Ini banyak digunakan sebagai campuran paduan aluminium untuk menghasilkan material yang lebih ringan, kuat, tahan korosi, dan stabil pada suhu ekstrem.

Karakteristik tersebut membuat skandium diminati industri pesawat terbang, teknologi antariksa, manufaktur presisi, hingga kendaraan listrik.

Bahkan kantor berita Reuters melaporkan Departemen Pertahanan Amerika mendukung pengembangan paduan aluminium-skandium untuk berbagai kebutuhan strategis, termasuk pesawat tempur dan peralatan militer modern. Hal ini menunjukkan bahwa skandium kini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi geopolitik dan perlindungan.

Meski sering disebut logam tanah jarang, skandium sebenarnya tidak lebih langka dibandingkan emas jika dilihat dari keberadaannya di kerak bumi

Data Survei Geologi Amerika Serikat,– United States Geological Survey (USGS) menunjukkan skandium tersebar cukup luas di alam, bahkan lebih melimpah dibandingkan beberapa logam lain. Namun mineral tersebut hampir selalu hadir dalam kadar rendah sehingga jarang ditemukan dalam konsentrasi yang ekonomis untuk ditambang.

Britannica menyebut sebagian besar hanya mengandung skandium dalam jumlah yang sangat kecil. Akibatnya, proses klarifikasi dan pemurnian memerlukan teknologi khusus dengan biaya tinggi.

Kondisi tersebut membuat produksi skandium dunia relatif terbatas. Para ahli mineral menilai nilai strategi skandium bukan semata-mata karena kelangkaannya, melainkan karena pasokan global yang masih minim di tengah meningkatnya kebutuhan industri berteknologi tinggi.

Bagi Kalimantan Barat, temuan ini membuka peluang ekonomi baru yang selama ini belum banyak diperhitungkan.

Sebagai salah satu daerah penghasil bauksit terbesar di Indonesia, Kalbar menghasilkan residu pengolahan bauksit dalam jumlah besar. Bahan tersebut selama bertahun-tahun lebih dikenal sebagai limbah industri dibandingkan sumber daya bernilai ekonomi.

Namun perkembangan teknologi menunjukkan pandangan tersebut mulai berubah.

Reuters melaporkan perusahaan tambang global Rio Tinto di Kanada berhasil memproduksi skandium oksida dari limbah industri titanium tanpa membuka tambang baru. Keberhasilan itu menjadi contoh bahwa limbah industri dapat berubah menjadi sumber bahan baku strategis apabila didukung penelitian dan teknologi yang tepat.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat, peluang tersebut berpotensi menghadirkan nilai tambah baru dari sektor pertambangan yang selama ini bertumpu pada penjualan bahan baku dan produk antara.

Iwan menegaskan tantangan terbesar saat ini bukan hanya membangun industri hilir, tetapi juga mempercepat eksplorasi dan penguasaan teknologi pengolahan logam di tanah jarang.

Menurut data yang dipaparkannya, Indonesia memiliki sumber daya menghasilkan LTJ sekitar 136,3 juta ton. Namun sekitar 95 persen di antaranya masih berstatus sumber daya tereka sehingga memerlukan eksplorasi lanjutan untuk meningkatkan kepastian cadangan.

Selain keterbatasan eksplorasi data, Indonesia juga masih menghadapi tantangan pada aspek teknologi pengolahan dan ketersediaan sumber daya manusia yang menguasai bidang mineral kritis.

“Penguasaan teknologi penyimpanan mineral itu penting, tetapi yang lebih mendasar adalah memastikan ketersediaan bahan baku. Perlu eksplorasi dan pengembangan teknologi yang berkesesuaian dengan karakteristik keterdapatan bahan baku di alam Indonesia,” kata Iwan.

Jika pengembangan teknologi ekstraksi berhasil dilakukan, Kalimantan Barat tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil bauksit. Daerah ini berpeluang menjadi bagian penting dari rantai pasok mineral strategis dunia yang memenuhi kebutuhan industri pesawat terbang, pengamanan, kendaraan listrik, dan energi bersih.

Dengan kata lain, yang tersimpan di balik limbah bauksit Kalbar mungkin bukan “emas baru”. Nilainya memang tidak lebih mahal dari emas. Namun bagi masa depan industri berteknologi tinggi, skandium bisa menjadi salah satu mineral yang paling dibutuhkan dunia. (Calvin G. Eben-Haezer)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles