Kamis, 13 Juni 2024

Mendorong Perdamaian Di Ukraina Dengan Diplomasi “Go Nuclear For Peace”

Oleh: Dr. Kurtubi *

INISIATIF Presiden Indonesia untuk mendamaikan sekaligus menghindari penggunaan senjata nuklir pemusnah massal dala perang di Ukraina patut kita dukung. Selain karena Indonesia adalah pendiri Gerakan Non Blok juga langkah tersebut sejalan dengan Konstitusi.

Untuk itu saya sarankan Strategi Diplomasi Energi ke Rusia dan Amerika dengan menggunakan “Strategi Nuclear For Peace” yang saling menguntungkan.

Kita ketahui bahwa Rusia punya senjata Nuklir yang siap diledakkan di Ukraina versus Amerika sebagai Pemimpin NATO yang memback up Ukraina juga punya senjata nuklir.

Indonesia sebaiknya menawarkan kepada Rusia dan Amerika kerjasama Energi Nuklir Untuk Tujuan Damai dengan Indonesia dalam bentuk, pertama, kerjasama teknologi energi nuklir dengan Rusia untuk membangun armada kapal laut sipil bertenaga nuklir.

Data pertumbuhsn ekonomi 4 negara yang sudah bebas dari jebakan middle income country. (Ist)

Alasan saya adalah teknologi Energi Nuklir Rusia terbukti unggul dibidang kapal laut bertenaga nuklir pemecah es di Siberia.

BUMN Nuklir Rusia (Rosatom) sudah lama menawarkan kerjasama dengan Indonesia dibidang energi nuklir.

Sebagai negara kepulauan terbesar didunia, saatnya kita mulai merencanakan untuk membangun kapal laut sipil bertenaga energi nuklir yang bersih dan efisien, sebagaj pengganti kapal laut berbahan bakar BBM.

Kedua, untuk mengimbangi kerjasana energi nuklir dengan Rusia, perlu segera kerjasama energi nuklir dengan Amerika Serikat untuk membangun PLTN Generasi ke 4 berbasis Thorium ( Molten Salt Reactor) bebas emisi karbon dan pollutants yang sangat aman dan dengan biaya produksi listrik (LCOE) yang murah. Serta tidak menghasilkan limbah Plutonium seperti PLTN Berbasis Uranium.

Justru selama ini semua PLTN yang dibangun oleh Amerika yang berjumlah sekitar 90 unit semuanya berbasis URANIUM, dimana limbahnya yang berupa Plutonium oleh Amerika selama ini dipakai sebagai bahan baku pembuatan senjata nuklir !!!!.

Meskipun sebenarnya disekitar tahun 1960an Amerika sudah membangun PLTN berbasis Thorium. Tapi tidak dilanjutkan karena limbah PLTN nya tidak mengandung Plutonium yang sangat dibutuhkan oleh Amerika Serikat sebagai negara adidaya.

Sebagaimana kita ketahui, dalam KTT G20 di Bali, termasuk Amerika sudah memutuskan untuk membantu Indonesia dengan dana $20 milyar membangun pembangkit listrik dari energi terbarukan (tdk termasuk untuk PLTN) dimasa transisi energi hingga tahun 2060.

Diluar program tersebut, penggantian PLTU Batubara yang disuntik mati lebih tepat digantikan dengan PLTN Generasi ke4 atas kerjasama bilateral dengan Amerika Serikat, sehingga Amerika Serikat tidak akan memperoleh penentangan dari pihak Rusia, karena PLTN Generasi ke 4 berbasis Thorium tidak menghasilkan bahan baku senjata nuklir.

Ketiga, sesuai dengan keinginan Presiden untuk membangun Industri hilir dari semua jenis Sumber Daya Alam di dalam negeri (hilirisasi), dibutuhkan listrik bersih non-intermitten yang bisa nyala non stop 24 jam untuk mendukung Industri Terintegrasi Hulu Hilir Berbasis Tambang agar dapat beroperasi non stop 24 jam dengan listrik murah dan aman.

Sehingga ekonomi bisa tumbuh diatas 8% sebagai syarat untuk dapat terlepas dari jebakan Middle Income country sebagaimana yang pernah dialami secara empirik oleh negara-negara yang sudah terlepas dari jebakan Middle Income Trap, seperti Jepang, Korea Selatan, Hongkong dan Singapura.

Dengan Energi Nuklir masuk menjadi bagian dari Sistem Kelistrikan Nasional, Indonesia optimis bisa menjadi negara industri maju di tahun 2045.

Tanpa Energi Nuklir yang dihasilkan oleh Industri nuklir yang terintegrasi dari hulu sampai hilir di tanah air, mustahil ekonomi Indonesia bisa tumbuh diatas 8%.

Karena kalau hanya mengandalkan energi terbarukan yg bersifat intermitten dengan biaya produksi listrik yang lebih mahal karena butuh storage baterai (power bank) yang besar dan sangat mahal, sehingga ekonomi hanya akan mampu tumbuh sekitar 5%. Mustahil Indonesia menjadi negara industri maju di tahun 2045.

Energi terbarukan seperti tenaga surya, tenaga angin, kita butuhkan utk listrik di perkantoran dan rumah tangga yang tidak butuh listrik full 24 jam. Listrik dari energi intermitten tidak tepat untuk menjadi menopang industrialisasi.

Listrik dari energi intermitten tidak tepat untuk menjadi menopang industrialisasi dan bisnis yang beroperasi 24 jam.

*Penulis Dr, Kurtubi, mantan Pengajar Diplomasi Energi di Program Pasca Sarjana Universitas Paramadina dan Ekonomi Energi di Pasca Sarjana FEUI. Alumnus CSM, IFP dan UI.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru