Sabtu, 25 April 2026

Menukar Cinta Dengan Api

Ilustrasi bakar diri. (Ist)

KUDUS- ADA lelaki yang berani menukar cintanya dengan api. Kusari Mahender melakukannya di India. Dia membakar diri setelah orang tua kekasihnya menolak cintanya. Dia tidak sedang melakukan “ritual” Sati bagi janda yang tulus berkobar api mengikuti jalan surga suaminya. Tapi, oleh karena putus asa. Mahendar meniru adegan aktor utama Kartikeya dalam film “RX 100” (2018), dan membakar tubuhnya karena cinta. Hebohlah India.

“Kami artis, bukan teroris. Mari pastikan ini tidak akan terulang lagi pada generasi muda untuk tidak memiliki pengaruh negatif terhadap apa pun,” seru Kartikeya.

Herald Hasibuan menyusul Kusari di Medan, awal Nopember ini. Mahasiswa ini kesetanan diputus cinta kekasihnya, lalu memaksa perempuan itu membakar tubuhnya bersama. Ia datangi kos mantan kekasihnya itu, menyiram bensin dirinya, lalu perempuan itu, dan api berkobar menyulut keduanya. Bensin telah beralih fungsi jadi kemenyan untuk “ritual” kematian atas nama cinta.

Cinta sungguh paradoks: harusnya membahagiakan, tetapi selalu menyediakan air mata. Mestinya mendamaikan, tetapi sering jadi sumber petaka. Lalu apa makna cinta? “Adalah seberapa pandai kau menghapus airmata,” ujar Helvy Tiana Rosa dalam “Mata Ketiga Cinta”.

Makin membuat kita mengerti belati cinta yang runcing dalam syair Kahlil Gibran yang menusuk itu, “Pabila cinta memanggilmu/ikutilah dia walau jalannya berliku/dan pabila sayapnya merengkuhmu/pasrahlah serta menyerah/walau pedang tersembuyi di sela sayap itu melukaimu.”

Mengapa keberanian muncul justru ketika seseorang berada di puncak ketakutannya? Tak mudah memahami ini. Kita melihat seseorang yang menangis terlalu sedih lalu tertawa, dia tidak sedang gila, tapi sedang di puncak paradoks keterbalikan rasa. Sebagaimana seseorang yang mencurahkan rasa bangga yang memuncak dengan lelehan air mata. “Si vis pacem, para bellum”, jika kau mendambakan perdamaian, bersiaplah menghadapi perang, demikian pribahasa Latin berkata.

Yang penting dari peristiwa itu adalah memahami revolusi jalan pintas. Anak-anak muda hari ini lebih sering memilih jalan ini untuk menyelesaikan problemnya. Membakar diri seperti Mahender dan Hasibuan. Dalam memenuhi kebutuhan, anak-anak muda lebih sering menemui jalan yang mudah, praktis dan instan. Berlangsung bertahun-tahun atas nama modernitas. Tersudut jadi konsumen yang terpimpin oleh produsen kemudahan. Semua tinggal meminta. Semudah memutar saklar, sepraktis memencet tombol “on”, lalu tercapai semua yang kita mau, tersedia dalam baki waiters dengan cepat saji.

Perilaku kita sebagai konsumen juga begitu. Ada mesin cuci di belakang menggantikan suara kucekan pakaian, sehingga tak ada lagi keringat yang bisa membakar lemak. Ada sepeda motor yang manja mengantar kita hanya dalam 100 meter jarak, sehingga kaki kita tak pernah lagi dilatih bergerak. Ada HP canggih yang bisa memperpendek jarak bicara, sehingga tak perlu lagi tatap muka, saling peluk dan tertawa.

Pendek kata, tak banyak tersedia jalan sulit di sekitar kita untuk belajar, bahwa tidak semua yang diinginkan di dunia ini semudah seperti di surga.

Demikian dalam politik. Tak ada jalan pintas bagi siapapun yang memimpin negeri ini untuk membalikkan fakta semudah bicara. Yang terpenting tidak ada upaya melemahkan penduduk dan mencuri haknya. Hari ini kita melihat di ruang publik politisi menggonggong, beradu mulut, menawarkan kebijakan selaju spidometer mobil melaju, kemudian dia berlalu.

Sambil empati pada dua pemuda yang menyulut api cinta itu, kita selalu diingatkan untuk belajar pada paradoks kehidupan. Jika keberanian bisa muncul di puncak ketakutan, pada rakyat yang dilemahkan kekuatan bisa menjelma di puncak ketidakberdayaannya. The power of the powerless. Kekuatan orang-orang yang kalah, yang bisa bergerak membekuk penguasa. Terjadi di beberapa negara di Amerika latin dalam puluhan tahun ini.

Pada anak-anak kami di Omah Dongeng Marwah (ODM), kami menerapkan filosofi “Story behind The Shrimp”, kisah di balik “udang”, benchmark dari pribahasa “ada udang di balik batu”. Mereka perlu tahu proses di balik alat yang mereka pakai, di balik makanan yang mereka konsumsi. Supaya tahu, yang tampak mudah itu sulit membuatnya. Supaya mereka menghargai business process.

So, ada banyak jalan cinta dan damai yang bisa dilakukan. Sajikan saja semua jalan itu, yang mudah, juga yang sulit. Tapi, beri mereka kesempatan untuk mengerti risikonya. Supaya anak muda kita tidak menjadi lelaki yang hanya berani menukar cintanya dengan api. Bukan, bukan itu! (Hasan Aoni)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles