JAKARTA- Kemunculan beberapa kelompok yang mengklaim atas nama kerajaan dibeberapa tempat menjadi perhatian publik. Sebagian besar tanggapan adalah menertawakan, mencemooh dan menghakimi fenomena munculnya Kraton Agung Sejagat (KAS), di Bayan Purworejo, Sunda Empire di Bandung dan Jipang di Blora. Kemungkinan jumlah kelompok semacam ini akan bertambah. Fenomena ini menarik jika dipandang dari sisi kebudayaan. Ini mungkin ‘kode’ atas sengkarut persoalan kehidupan umat manusia yang semakin rumit. Hal ini disampaikan oleh Agus ‘Jabo’ Priyono, Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (20/1)
“Kode tersebut antara lain KAS menganggap bahwa sekarang kekuasaan dunia berada di titik nol. Versi mereka,– setelah selesainya perjanjian Portugis sebagai imperium Barat dan Majapahit sebagai imperium Timur. Ini perlu diteliti,” ujarnya.
Titik nol ini menurut Jabo, bisa dipahami dalam konteks bahwa dunia sudah berganti rupa. Perkembangan tehnologi informasi telah mengubah wajah dunia, akan ada jungkir balik peradaban umat manusia, hubungan produksi berubah, batas negara runtuh, lembaga politik dan lembaga formal tergantikan oleh sosial media.
“Pertaruhan masa depan umat manusia dalam kesetaraan dan kemakmuran,” jelasnya.
Dunia jagat raya menurutnya saat ini sedang menghadapi goncangan, akibat krisis kapitalisme, baik antar negara maupun internal negara. Sudah saatnya dunia ditata kembali dengan konsep baru yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan dan kedamaian.
“Ingat. Bung Karno pernah menawarkan Pancasila sebagai konsep dunia. Awalnya seperti isapan jempol, tapi sekarang menjadi kenyataan dan terus diperjuangkan sampai ditingkat internasional,” ujarnya.
Menurut Jabo, dibeberapa kalangan memang ada pandangan bahwa Indonesia Merdeka berdiri atas dukungan 27 Kerajaan di Nusantara.
“Ada filosofi bahwa untuk membangun masa depan yang gemilang, caranya dengan membangkitkan kebesaran masa lampau, Majapahit konon adalah negara besar dan kuat di dunia,” ujarnya.
Menurutnya, yang jelas fenomena belakangan ini mendorong bangsa ini harus kembali mau meniliti lebih dalam perkembangan sejarah. Karena tidak bisa dipungkiri sejarah Indonesia masih dipengaruhi oleh kepentingan Belanda dan Inggris.
“Sehingga pola pikir kita belum independen, cenderung menganut Holland Denken, kebarat-baratan dan liberal. Konon Nusantara yang besar dan agung, sejajar dengan Persia dan Tiongkok, memiliki kearifan adiluhung, gotong royong, yang mestinya menjadi landasan membangun konsep dalam berbangsa dan bernegara, dilupakan oleh anak bangsanya sendiri,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa, situasi sekarang yang belum memberikan tanda-tanda ke arah yang baik untuk masa depan bangsa ini, menyebabkan kerinduan dari sebagian orang terhadap kebesaran masa lalu, Majapahit misalnya.
“Perkembangan dunia yang semakin rumit ini harus dijawab dengan konsep besar, jiwa besar, yang menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, setelah Komunisme runtuh dan Kapitalisme tidak bisa membangun kedamaian hidup umat manusia, Pancasila yang menurut penggalinya merupakan jati diri bangsa, yang lahir sebagai alternatif dari idiologi perang dingin pada waktu itu, harus diuji untuk menjawab persoalan dunia sekarang ini,” ujarnya.
Setiap ada persoalan yang berhubungan dengan bentuk ekspresi masyarakat serta gagasan baru, sebagai negara demokrasi menurutnya, harus menggunakan pendekatan yang demokratis serta menjunjung tinggi kebebasan sipil sesuai UUD.
“Jangan latah menggunakan pendekatan hukum serta kekuasaan semata. Zaman edan, mana yang waras dan mana yang edan, sudah sulit dibedakan,” tegasnya.
Terakhir muncul klaim Negara Rakyat Nusantara yang dideklarasikan oleh Yudi Syamhudi Suyudi. Dirinya mendaku sebagai Presiden Negara Rakyat Nusantara. Lewat sebuah video konferensi press yang hanya dihadiri tiga orang, yaitu Yudi dan 2 orang pengawal dan satu orang lagi yang pegang kamera), mereka menyatakan sebagai ‘perwakilan’ dari kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara. (Web Warouw)

