Minggu, 19 April 2026

KEREEEN….! Dolo dan Para Lelakinya: Potret Dalam Karya Dolorosa Sinaga

Dolorosa Sinaga dan Patung Gus Dur ciptaannya. (Ist)

JAKARTA- Ratusan  seniman, budayawan, politisi dan aktivis berkumpul. Siang itu itu ada ‘Diskusi Peluncuran Buku Dolorosa Sinaga: Bentuk, Tubuh, Substansi di Ruang Serbaguna Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu (18/1).

Diskusi ini mengawali rangkaian acara dalam rangka peluncuran buku biografi 40 tahun berkarya Dolorosa Sinaga berjudul ‘Dolorosa Sinaga: Bentuk, Tubuh, Substansi’. Rangkaian acara ini diselenggarakan oleh Somalaing Art Studio pimpinan Dolorosa Sinaga dan Beranda Rakyat Garuda.

Diskusi pertama ini dimulai dengan pembahasan mengenai figur-figur lelaki Dolorosa, satu hal yang merupakan anomali dari karyanya yang terutama mengangkat isu-isu perempuan.

Di dalam katalog pameran Have You Seen A Sculpture from The Body? tahun 2008, Lisabona Rahman menuliskan kemunculan figur-figur lelaki di antara karya-karya Dolorosa. Dia mengutip pernyataan Dolorosa pada 2001.

“Gue nggak bisa bikin cowok. Cuma dia [Widji Thukul] dan Dalai Lama yang cowok di sini. Gue mulai bikin lempung untuk jadi cowok, tapi pasti jadinya cewek dan tiba-tiba ada sanggulnya.”

Dolarosa memang seorang pematung feminis dan tidak pernah membuat patung laki-laki selain 5 patung yang akan dipamerkan nanti. Mulai 2001, lahir potret seorang lelaki dari tangan Dolorosa yaitu: Dalai Lama. Sejak itu ada pula, walau terbilang sangat jarang mengingat produktivitas tinggi pematung ini, empat potret lelaki yang lain yakni (berturut-turut), penyair Widji Thukul, kyai Abdurrahman Wahid, pendiri bangsa Ir. Soekarno dan penggugat kolonialisme/penggagas politik etis Multatuli,–nama pena Douwes Dekker, penulis buku Max Havelaar.

Patung Wiji Thukul karya Dolorosa Sinaga. (Ist)

Boleh jadi, saat Dolo tidak bisa membayangkan (dan mencipta) lelaki, dia menggambarkan mereka. Dalam penggambaran atau potret ada panduan, yaitu orang-orang yang digambarkan. Melalui karyanya ia menerjemahkan wajah, gestur, kostum khas dan pose yang nyata dari para tokoh yang mewakili suatu hal yang langsung dipahami banyak orang: kemanusiaan.

Para pembahas mengungkapkan tanggapannya terhadap karya patung potret karya Dolorosa. Dalai Lama ditanggapi Yori Antar dan Oscar Motuloh. Widji Thukul ditanggapi Danial Indrakusuma. KH Abdurrahman Wahid ditanggapi Muhammad Sobary dan Abdon Nababan. Ir. Soekarno ditanggapi Sukmawati Soekarnoputri dan Seno Gumira Ajidarma. Multatuli ditanggapi Bonnie Triyana.

“Badan penyair muda yang hilang misterius dalam kasus penculikan 1998 itu tipis melengkung dengan muka mengayun ke depan. Sorot matanya tajam, tangan kirinya meninju langit. Sedangkan tangan kanannya menggenggam bait-bait puisi dan mulutnya mengaum, menembakkan ribuan peluru kata-kata pada penguasa diktator,” demikian Dolorosa Sinaga menggambarkan Wiji Thukul.

“Dia enggak sekolah lho, darimana dapat kata-kata itu, tentu dari hati. Dia berbahaya makanya dihilangkan. Dia menggalang opini, ancaman bagi penguasa,” kata Dolorosa mengenai sosok penyair rakyat yang puisi-puisinya membakar semangat gerakan pro-demokrasi.

Kontroversial

Kepada Bergelora.com dilaporkan, sementara itu perdebatan dan masukan terjadi pada sosok patung Ir. Soekarno, Dalai Lama, Gus Dur dan Multatuli. Patung KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur) yang paling kontroversial. Dolorosa menggambarkan patung sosok Gus Dur yang sedang tiduran bersarung dengan santai dan tertawa terbahak-bahak diatas sajadah.

Muhammad Sobary memastikan gambar patung karya Dolorosa Sinaga sudah tepat menggambarkan Gus Dur melihat kehidupan.

“Gus Dur tidak pernah takut melihat persoalan. Gus Dur selalu menghadapai persoalan secara substansial, sehingga membuat dirinya rileks bahkan menjadikan persoalan sebagai candaan,” papar Muhammad Sobary.

Kontroversi juga dalam menterjemahkan patung Soekarno karya Dolorosa. Dr. Thamrin Tamagola mempertanyakan gesture patung Soekarno yang ditidak lazim sebagai pengobar semangat kemerdekaan.

Dolo menggambarkan Soekarno dalam gesture sedang mengambil ancang-ancang tenaga dalam.

“Seharusnya Soekarno digambarkan sebagai pengobar semangat,” ujar Thamrin Tamagola.

Seno Gumira Ajidarma menjelaskan bahwa tangan Soekarno dalam patung ciptaan Dolorosa,–mewakili passion.

Sukmawati Sukarnoputri menjelaskan bahwa Soekarno dimanapun tidak pernah melepaskan diri sebagai sebagai seniman. Sehingga humanisme menjadi landasan berpikir politisi Soekarno.

“Tangan yang mengepal adalah tekad kuat membangun kemerdekaan sebagai jembatan emas yang ingin diperjuangkan bersama,” jelas Sukma

Selain patung Gus Dur tertawa tiduran bersantai dan Patung Ir. Soekarno yang sedang mengambil nafas tenaga dalam,–Dalai Lama juga digambarkan secara unik, sedang tertidur sambil tersenyum. Multatuli digambarkan sedang asik membaca Max Havelar. Wiji Thukul sedang membacakan puisi  mengobar semangat. Workshop dan Pemeran Patung 5 Laki-laki, karya Dolorosa Sinaga akan diselenggarakan Jumat, 31 Januari 2020 nanti. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles