Minggu, 19 April 2026

Prosa Untuk Wiji Thukul

Penyair Wiji Thukul dalam Deklarasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) Juli 1996. (Ist)

Pematung Dolorosa Sinaga mengenang Wiji Thukul, dalam ‘Pameran Dolo dan Para Lelakinya: Potret dalam Karya Dolorosa Sinaga Rangkaian’. Selain Wiji Thukul rangkaian buah tangan Dolorosa yang diulas adalah Patung Ir. Soekarno, Patung Dalai Lama, Patung Gus Dur dan Patung Multatuli. Pra Launching di Galeri Nasional, Jakarta, Sabtu (18/1). Workshop dan Pemeran akan diselenggarakan Jumat, 31 Januari 2020 nanti. Danial Indrakusuma, ditugaskan untuk mengulas tentang WJ Thukul. Dibawah ini adalah paparannya sebagai kawan seperjuangan Wiji Thukul,– dimuat untuk pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

 

Oleh: Danial Indrakusuma

SUATU hari aku mendapat tugas untuk mengamankan Thukul dari kejaran tentara di Solo. Kawan lain ditugaskan membawanya ke Yogyakarta dan dibaurkan dengan kawan-kawan yang sedang aksi di depan gubernuran, agar justru dapat menghilangkan jejak karena aparat bisa saja tidak menyangka bahwa dalam keadaan sedang dikejar masih berani ikut aksi.

Di tengah aksi, dalam situasi yang direkayasa sedikit ricuh, Thukul diminta mencari dan mengikuti aku yang sudah siap di dekat area aksi. Thukul mengikutiku,–dalam jarak tertentu di belakangku,– kemana pun aku pergi. Kubawa dia masuk ke lobby hotel, aku duduk di sofa, dan Thukul canggung duduk di sofa seberangku–kulihat dia sedikit mengenjot-enjot sofa,–kebiasaan Thukul sebagai penyair miskin kampungan sedang merasakan empuknya sofa hotel. Kubawa dia ke Jakarta naik kereta. Duduk kami berhadapan dan menurut pakem protap, sudah bisa berbincang.

Dalam setiap pertemuan dengan Thukul, aku selalu takzim dengan apa perkataan dia pertama. Kali ini ada dua hal,–kira-kira begini.

“Sofa hotel yang ini lebih enak dari sofa hotel lain yang pernah aku temui.”

“Dalam satu diskusi, aku ditegur oleh orang yang baru kenal karena memanggil dia ‘teman’, seharusnya ‘kawan’, karena begitu lah cara sosialis,” katanya.

“Tapi aku jadi bingung, kenapa majalah anak-anak ‘Kawanku’ tidak dibreidel Suharto,” katanya lagi.

Aku mencandainya,–“Kedua hal tersebut bukan hal yang besar, Kul.”

Thukul bilang,–“Asu”.

Rak buku Thukul isinya semakin bertambah,–dan rak buku aparat pun semakin bertambah dengan buku rampasan dari perpustakaan pribadi Thukul dan kawan-kawan. Aku dan Thukul sering saling-melempar senyum bila melihat rakyat atau kawan-kawan sedang membaca.

Danial Indrakusuma dan Seno Gumira Ajidarma dalam Pameran Dolo dan Para Lelakinya: Potret dalam Karya Dolorosa Sinaga Rangkaian’, Jakarta Sabtu (18/1). (Ist)

Prosa Untuk Wiji Thukul

Ada yang akan menghaturkan gambar hidup yang indah tentang kau, Kul. Hidup kau memang indah—karena kau punya pendapat pribadi yang kau perjuangkan, punya kepribadian, dalam bentuk seni puisi, cukil hardboard, cukil ban, drama, buletin. Kau suguhkan bersama pendapat-pendapat yang dirasakan benar oleh kawan-kawan kau, dalam segala bentuk keakhlian. Bahkan bersama kawan-kawan yang tak punya pendapat, yang sekadar mengambil pendapat kawan-kawannya yang dirasa benar, bahkan yang dalam bentuk sekadar menyuguhkan teh manis untuk kawan-kawannya di pagi hari.

Semuanya itu kau persembahkan dalam orkestra, band perjuangan melawan kekejian kekerasan, pembungkaman, keserakahan, perampasan rezeki-sosial dan kebinatangan lainnya.

Pada saat itulah kau, anggota orkesta, anggota band perjuangan menghilang. Indah kah? Ya, karena memang hidup kau itu indah. Aku yakin, seandainya kau masih bersama kami, bersama kita, kau akan tetap menghaturkan sumbangan bagi orkesta, band perjuangan, dan kapan saja bisa menghilang karena kebinatangan belum dituntaskan.

Hidup kau selalu ada dalam keindahan, karena kau adalah PERLAWANAN. Apalagi kau punya senjata puisi dan kasih sayang yang lembut, dalam bahasa apa pun.

Wiji Thukul bersama anak-anak Sanggar Suka Banjir, di Solo. (Ist)

Baru Paham Sekarang, Kami Saling-Memberi

Ini cerita tentang beberapa sajaknya yang dibuat lagu. Aku, Thukul, sepakat untuk  menyuguhkan seni yang bercerita tentang sejarah rakyat Indonesia dan situasi anak-anak rakyat Indonesia dalam bentuk teater, lagu dan cukil kayu, pada konferensi mahasiswa Asia, yang akan kami selenggarakan.

Itu karena kami bercerita tentang Bung Busono, yang sejak muda sampai menjadi doktor peduli meneliti tentang anak-anak Indonesia. Bung Busono adalah mahaguru psikologi pertama Universitas Gajah Mada, walaupun gelar mahagurunya kemudian dibatalkan oleh Orde Baru. Pidato pengukuhan Mahagurunya, kalau tak salah, “Anak-anak Indonesia dan Revolusi”,–dan itu juga karena,–“Kul, ini dengerin, Dave Brubeck, John Coltrane, Miles Davis, dan Joe Morello, Jazz kulit hitam dan kulit putih, perluasan musik budak Amerika,” kataku.

“Tak bisa kunikmati,” Kata Thukul, setelah mendengarkan.

Aku kemudian mencoba memberikan cara untuk menikmatinya. Thukul takzim mendengarkan.

Saat koferensi mahasiswa Asia diselenggarakan, Thukul menyajikan lagu yang digubah dari sajaknya. Dan bilang padaku,–“Jazz itu Nikmat, Roy, dan sejak tahun 1959, jazz Amerika berubah, lebih luas jelajah nada, tempo dan kebebasannya, berkat Miles Davis.”

Aku baru paham sekarang setelah mendengarkan dan menyaksikan film dokumenter ini:

https://www.youtube.com/watch?v=PKYa3wwc1SU

Terima kasih—makna harfiahnya: aku telah menerima kasih kau—Thukul.

Wiji Thukul dalam sebuah pentas. (Ist)

Sekolah Liar

Suatu waktu: aku dan Thukul berdiskusi tentang konsep “terobosan” dan “Perebutan”. Dan kami sepakat bahwa untuk mewujudkan “terobosan” dan, sebagai konsekwensinya, bukan saja kami harus belajar lebih banyak, namun juga harus “merebut” demokrasi.

Karena terobosan kami adalah: mewujudkan “sekolah liar” untuk anak-anak, yang belajar cukil-ban dalam, melukis, berpuisi, bercerita-lisan, melawan, berdemonstrasi, bergembira dan lain-lain.

Memang, sepertinya bukan terobosan—karena Kolonial Belanda pernah menjuluki “sekolah liar” pada sekolah-sekolah yang didirikan kaum nasionalis—namun kami mengisi makna “terobosan” pada isinya, bukan sekadar nasionalisme, karena kami memberikan beban,–realis pada anak-anak, sebagai tanggung jawab terhadap dunia dirinya dan sesamanya, sampai dewasa—entah kapan diwujudkannya—untuk mendirikan masyarakat yang makmur, modern, adil dan sejahtera dengan pandai, berani (kreatif) dan militan.

Dan kami, mau tak mau, harus mendiskusikan Paulo Freire, Ivan Illich, dan Alinsky.

Belakangan, aku candaiin Thukul (kira-kira begini):

Aku: Kul, di sekolah liar itu, di Taman Siswa dan Budi Utomo, walau hanya sangat minoritas, ada juga yang mengajarkan sosialisme.”

Thukul: “Asu, apa yang kita diskusikan dan kerjakan, bukan terobosan lagi, walaupun tetap berguna.

Aku: “Ya, tapi sekolah liar yang  mengajarkan sosialisme itu bukan untuk anak-anak, untuk orang dewasa—termasuk kaum perempuan dan mereka yang bergerilya.”

Thukul: “Asem. Kenapa bukan untuk anak-anak. Dan di Indonesia mereka yang belajar sosialisme banyak sekali yang tumpas. Mungkin belajarnya harus sejak anak-anak, biar tidak tumpas dan bisa melawan balik ha ha ha. Oh, sorry, mereka sudah mencoba melawan balik—setelah tahun ’26, ’48, dan di Jogja tahun ’65.”

Aku: “Kau salah melafalkan ‘sorry’.”

Pembelian, Bukan Pemberian

 

Satu waktu, lupa tahunnya, lupa bulannya, apalagi tanggalnya. Tapi aku ingat jamnya, saat adzhan Ashar, setelah separuh bercerita tentang watak satu kelompok. Kami ngobrol:

Thukul: “Orang-orang kelompok itu sekarang banyak memberiku.”

Aku: “Apa yang mereka berikan?”

Thukul: “Macam-macam—buku-buku, atribut-atribut, kaset-kaset, simbol-simbol tentang perjuangan, tentang perlawanan, dan diongkosi jalan ke basis-basisnya pula.”

Aku: “Keren itu, Kul. Terutama jalan ke basis-basisnya, diongkosi pula.”

Thukul hening sebentar sambil menatap langsung ke mataku, terasa lama bagiku.

Thukul: “Setelah jalan ke basis-basisnya, aku menulis beberapa puisi.”

Aku: “Mana?”

Thukul menunjukkannya. Aku membacanya dengan menyuarakannya.

Aku: “Kul, ada yang aneh dari puisi-puisi kau yang ini: aku sedih memang sama rakyat yang kau tulis ini. Tapi aku lebih sedih sama kau…”

Thukul: “Biar aku lanjutkan omongan kau, reken-reken main tebak-tebakan. Dan kalau itu benar kelanjutan omongan kau, maka kita sependapat.”

Aku: “Oke.”

Thukul: “Aku di basis, menulis puisi tentang penderitaan rakyat di basis, tapi di puisi itu aku sekadar berharap ada perlawanan, karena memang tidak ada perlawanan, tidak pernah saling-ajar dan bertindak melawan. Sekadar berbagi cerita tentang penderitaan dan tentang kebejatan serta kekejaman pengusaha, pemerintah beserta aparatnya, dan preman-premannya. Penderitaannya di depan moncongku, hanya beberapa kebejatan dan kekejaman yang kulihat. Kata basis seharusnya diberi tanda kutip.”

Aku: “Sabar.”

Thukul: “Sok bijak, kau. Bagaimana aku harus sabar kalau tak pernah saling-ajar melawan? Puisi itu bukan realisme seperti yang aku harapkan, tidak sempurna karena ada nafsuku di dalamnya, yang berharap ada perlawanan. Dan saat itu aku tak berdaya karena bukan aku pemilik (sambil memberi simbol tanda kutip dengan tangannya) basis. Harus ada cara lain agar basis itu melawan, sekadar apapun, agar pantas disebut basis, tak usah diberi tanda kutip lagi. Jadi, isian gagasan pemberian-pemberian itu hanya untukku, bukan untuk pemilik (tangannya menyimbolkan tanda kutip lagi) basis.

Aku simpulkan: Semua itu bukan pemberian tapi pembelian, mereka mau membeli jiwaku agar tidak merdeka melawan; pemberian-pemberian itu hanya untuk menyenangkanku, bukan untuk menyenangkan rakyat karena bisa melawan. Bagaimana bisa mereka memberikan padaku sesuatu yang mereka tidak senangi, perlawanan. Tapi aku tak bisa dibeli, dalam puisiku aku merdeka berharap dan memberikan siasat perlawanan.”

Aku: “Tidak, puisi kau itu lengkap, sempurna sebagai realisme, tapi realisme yang terbelah-dua—realisme penderitaan rakyat; dan realisme kau yang berharap, sedang bermimpi.”

Thukul: “Asu… Tapi itu benar.”

Aku: “Bilang terima kasih, dong, aku sudah menyempurnakan realisme puisi kau.”

Thukul: “Asu… Nanti malam aku ajak kau lihat orang-orang miskin berburu kucing untuk dimakan.”

Catatan:

Basis yang disebut-sebut Thukul, salah satunya, diam-diam tanpa sepengetahuan “pemilik” basis, kami ajak melawan, dan mereka mau.

Akhirnya aku dan Thukul bisa ke Autralia untuk mengabarkan kejahatan Orde Baru dan jalan keluarnya. Tak berharap bisa kembali ke tanah air. Sudah lama Thukul belajar bahasa Inggris dari membaca, mendengar, dan masih sedikit bicara. Di kantongnya selalu ada kertas berisi 10 kata bahasa Inggris yang dia hapalkan. Di Bandara Perth, agak lama Thukul tertahan di imigrasi, tapi akhirnya lolos. Kutanya kenapa lama.

Jawabnya: “Banyak sekali mereka nanya, selalu kujawab: I am an Artist. And my friends in Autralia have money.”

Di manapun di Australia, bila ada kesempata, selalu cari kenalan baru dan ngobrol, dan di manapun ketemu telpon, ia akan telpon kawan-kawan barunya itu. Di satu rally konferensi ada acara kebudayaannya.

Aku minta kawan-kawan Australia membuat drama-fragmen dengan Thukul sutradaranya. Kulihat dari jauh bagaimana mereka latihan, Thukul banyak sekali menggerakkan tangannya dalam mengarahkan.

Tibalah saatnya pertunjukan drama-fragmen, dengan para pemain bule-bule dan Thukul sendiri, selain dia juga sutradaranya. Ketika diumumkan bahwa cerita dan sutradaranya adalah Thukul, penonton bergemuruh dan bertepuk tangan, Jadilah drama-fragmen tanpa kata, hanya gerak, meja, dan buku, bercerita tentang kaum buruh yang ditindas dan kemudian melawan setelah membaca buku.

Di konferensi lainnya, Thukul dan aku mendapat giliran berbicara di depan. Thukul bilang: “Nanti omonganku diterjemahkan, ya.”

Aku bilang: “Tidak bisa, kau kan sedang belajar bahasa Inggris.”

Maka Thukul bicara banyak dalam bahasa Inggris. Di akhir presentasinya, dia bilang: “Pasti mereka tak paham apa yang aku omongkan.”

Aku bilang: Tanya saja ke mereka.”

Lalu Thukul bertanya pada para pendengar: “Everybody okay?”

Maka para pedengar bergemuruh menjawab: “Okay…”

Masyarakat Masa Depan

Aku sulit bila mengenang Thukul, Herman, Gilang, Suyat, Bimo dan Semsar, sedih, pedih, menyakitkan, hampir-hampir tak kuat. Itulah mengapa sesekali saja aku mengungkapkan atau menuliskan kenangan indah itu.

Menemani pameran Andreas Iswinarto, Tribute to Wiji Thukul, dan menemani pameran Dolo, “Dolo dan Para Lelakinya: Potret dalam Karya Dolorosa Sinaga Rangkaian”, mengharukan dan menguatkan.

Saat aku masih bisa bersama Thukul, dalam setiap pertemuannya, kami selalu punya agenda yang dibicarakan—kadang pembicaraannya selesai, dan menentukan agenda apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan selanjutnya; kadang ada yang bisa disepakati kesimpulannya, kadang berbeda pendapat; ada juga yang belum selesai, dan disepakati akan dibicarakan kembali.

Misalnya: kami, dalam proses membicarakan tentang masyarakat masa depan, bila sudah ada kesepakatan, maka masing-masing dari kami akan mempuisikannya. Belum ada kesepakatan di antara kami, masih harus dibicarakan, namun Thukul, bagiku, sudah hampir 22 tahun pergi, lama sekali.

Aku ingin saling bicara lagi dengannya, dan menunggu puisinya. Dan baru belakangan aku sanggup, kuat hatiku mempuisikannya, walaupun terakhir belum ada kesepakatan di antara kami. Inilah puisinya (kupersembahkan juga puisi ini untuk rakyat Papua, bekal bila mereka merdeka, Insya Allah):

Jalan itu sudah hampir lurus

Kaum tani lenggang berjalan di tanahnya sendiri

menunggu kiriman alat bantu

yang dapat menyuburkan tanahnya dan melimpahkan panennya

hingga tak perlu lah ia menumpahkan peluh meregang jiwanya

hingga tak lagi ia diperbudak tanah

masyarakat menjinakkan tanah dengan ilmunya

dan tanah tak lagi menuntut dimiliki.

Kaum buruh riang melangkah ke pabrik

membahagiakan dirinya, keluarganya, dan masyarakat

dengan kepandaian dan keindahan impiannya

melimpahkan kebutuhan jasmani dan rohani

apalagi datang alat bantu

yang meringankan kerjanya

yang melimpahkan panen produksi impiannya

hingga kerja menjadi menyenangkan jiwa

dan tak merusak raga

hingga datang lah ketetapan

bahwa pabrik milik dan bagi kebahagiaan manusia yang indah

bukan manusia pemilik.

Lagu puisi prosa musik lukisan patung

dan semua pengantar perjuangan dan kebahagiaan manusia

juga semakin melimpah

karena kelimpahan ragawi dan kematangan jiwa

justru semakin melimpahkan pekerja seni

banyak waktu luang bagi manusia

tentu saja akan semakin melimpahkan cinta

akan seni

di mana pun kau melangkah

kau diiringi seni dan menciptakan seni.

Kaum pelajar, mahasiswa, guru, maha guru bahu membahu

mewujudkan alat bantu yang melimpahkan produksi ragawi

dan arah jalan rohani

hingga hasilnya

semakin melimpah waktu luang

dan karenanya, semakin melimpah lah para pemimpi

yang penuh kasih

yang mudah mewujudkan impian-impian indahnya.

Kaum perempuan menjadi bermartabat

karena ia pun pencipta impian

dan pewujud impian

yang indah bukan main

karena ia telah menari dan bernyanyi

keluar dari gua gelap kungkungannya

gua tempat sekadar menerima

tak memberi pada dunia

padahal ia telah dibekali

semangat pembebasan

saat ia di dalam gua gelap penjaranya

apalagi yang lebih indah

dari impian pembebasan mereka yang dihinakan.

Bumi harum dan subur

bersih bagai bayi bergelak

hawa lembut

memeluk, mengecup

bathin yang nyaman

hingga anak anak kita tumbuh kokoh

tinggi

berkepribadian

bagai pohon jati ratusan tahun bercakap cakap dengan badai.

Kelimpahan waktu luang

untuk bermimpi dan mewujudkannya

adalah: hak untuk malas.

Akh, banyak sekali manusia akan terbebas

saat jalan sudah hampir lurus

hingga tahun 1965.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles