Selasa, 26 Mei 2026

Perang Iran Versus AS-Israel Begini Dampak ke RI

Pemerintah bahkan memperkirakan bahwa lonjakan harga minyak dapat memperlebar defisit anggaran hingga sekitar 3,6% dari PDB jika harga minyak mendekati 90 dolar per barel. Artinya, setiap eskalasi konflik di Timur Tengah langsung menekan APBN Indonesia.

Oleh: Erizeli Bandaro *

KONFLIK Iran membuat harga minyak dunia melonjak tajam. Risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz—jalur yang dilalui hampir 20% perdagangan minyak dunia—membuat pasar energi global langsung bereaksi. Bagi Indonesia, dampaknya terasa sangat besar. Indonesia masih merupakan negara pengimpor minyak. Ketika harga minyak naik, beban subsidi BBM ikut meningkat. Biaya energi melonjak. Inflasi domestik terdorong naik.

Pemerintah bahkan memperkirakan bahwa lonjakan harga minyak dapat memperlebar defisit anggaran hingga sekitar 3,6% dari PDB jika harga minyak mendekati 90 dolar per barel. Artinya, setiap eskalasi konflik di Timur Tengah langsung menekan APBN Indonesia.

“Kenapa IHSG terkoreksi sangat tajam?” tanya Afa ketika kami bertemu di lounge hotel.

Saya tersenyum. “Karena kombinasi dua sentimen besar,” jawab saya. “Perang di Timur Tengah dan penurunan outlook kredit Indonesia. Investor khawatir perang akan mempersempit ruang fiskal pemerintah. Subsidi energi bisa melonjak, sementara kemampuan membayar utang menjadi lebih diragukan.”

Saya berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Ketika outlook kredit menjadi negatif, investor global biasanya tidak menunggu lama. Mereka menarik dana. Terjadi capital outflow. Rupiah pun tertekan dan berpotensi melemah lebih dalam.”

Afa mengangguk pelan. “Ini menjelaskan kenapa dampak konflik Teluk paling terasa di Indonesia dibandingkan negara Asia lain,” katanya. “Apalagi cadangan BBM INA hanya sekitar dua puluh hari.”

Saya hanya tersenyum.

Afa kembali bertanya. “Kenapa hampir semua lembaga rating memberikan outlook negatif? Bukankah hubungan Prabowo dengan Trump cukup dekat? Secara politik seharusnya itu bisa mempengaruhi persepsi pasar.”

Saya menggeleng pelan. “Pasar tidak bekerja dengan logika kedekatan politik,” kata saya. “Masalah utamanya adalah trust. Kepercayaan terhadap tata kelola ekonomi pemerintah sangat rendah.”

Afa memperhatikan.

“Data sering tidak konsisten. Itu artinya Transparansi lemah. Apa yang disusun di APBN sering berbeda dengan pelaksanaannya. Artinya Disiplin fiskal longgar. Apa yang diucapkan sering tidak sejalan dengan kebijakan yang dijalankan. Pasar melihat itu sebagai masalah integritas kebijakan.” Lanjut saya.

Afa tersenyum tipis. “Hampir semua banker kelas dunia yang saya temui mengatakan hal yang sama,” katanya. “Bahkan beberapa teman saya di World Bank menyebut Indonesia dengan istilah satir: Mr. Five Percent.”

Saya tertawa kecil. “Maksudnya?”

“Artinya apa pun kondisi ekonomi dunia, angka pertumbuhan Indonesia selalu sekitar lima persen. Seolah-olah ekonomi tidak pernah benar-benar berubah. Apa pun makanannya, minumannya tetap Coca Cola.”

Saya ikut tersenyum. Afa lalu berkata pelan. “Masalahnya, ketika perang terjadi, negara dengan outlook kredit negatif biasanya yang paling cepat terkena tekanan pasar. Kadang bahkan lebih cepat tumbang daripada negara yang benar-benar ikut berperang.”

Saya memandangnya sebentar. Afa memiliki ayah berdarah Yahudi dan ibu dari Jerman. Meski usianya hampir lima puluh tahun, kecantikannya masih terlihat jelas. Ia sahabat lama saya yang kini menjalankan bisnis di Singapura.

“Puasa kamu?” tanyanya tiba-tiba.

Saya mengangguk. Saya melirik jam di dinding lounge. Sudah hampir pukul enam.

“Buka puasa di kamar saya saja,” kata Afa sambil berdiri. “Aku pesan room service.”

Kami berjalan menuju lift. Afa tiba-tiba berhenti sejenak sebelum pintu lift terbuka. Ia menatap saya dengan wajah serius. “B…” katanya pelan. “ Aku ini Yahudi. Tapi atas nama kemanusiaan, aku tetap tidak bisa menerima sikap Israel dan Amerika yang menyerang Iran dan bahkan membunuh pemimpin besarnya.” Ia menarik napas panjang. “Apapun alasannya, tindakan seperti itu terasa seperti merobek sesuatu yang paling dalam dalam diri kita, baik secara intelektual maupun spiritual.”

Lift terbuka. Kami masuk. “Apakah dunia sudah kehilangan bahasa diplomasi?” lanjutnya. “Apakah tidak ada lagi ruang bagi percakapan yang beradab untuk menyelesaikan konflik antarbangsa? Mengapa setiap krisis harus berakhir dengan bom dan rudal?”

Saya terdiam beberapa saat. Di luar sana, memang banyak negara dan analis yang mempertanyakan langkah militer tersebut. Sejumlah pemimpin dunia menilai serangan terhadap Iran justru memperburuk stabilitas global dan merusak upaya diplomasi yang sebelumnya masih berlangsung.

Saya menatap Afa.

“Kadang dalam geopolitik,” kata saya perlahan, “ perang bukan muncul karena diplomasi gagal.”

Saya berhenti sejenak.

“Sering kali justru karena ada pihak yang merasa diplomasi tidak lagi cukup untuk mempertahankan kepentingannya.”

Lift terus naik, membawa kami ke lantai kamar.

Dan percakapan kami pun semakin dalam, seperti dunia yang sedang bergerak menuju fase yang semakin tidak pasti. Di luar jendela hotel, lampu-lampu kota Jakarta mulai menyala, sementara dunia di luar sana masih bergolak oleh perang dan pasar yang tidak pernah benar-benar tidur..

——-

*Penulis Erizeli Bandaro, pengamat ekonomi politik giobal

Artikel ini dikutip Bergelora.com dari akun FB Erizeli Bandaro. Judul dari redaksi.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles