Selasa, 19 Mei 2026

RI TETAP KUAT..! Purbaya Pastikan Kondisi Indonesia Berbeda dengan Krisis 1998 meski Rupiah Melemah

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang disebut mirip dengan kondisi 1998. Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya ketika menanggapi sentimen Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka melemah pada perdagangan dikutip Bergelora.com di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan preopening IHSG turun 94,344 poin atau 1,40 persen ke level 6.628,976. Menurut Purbaya, kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis 1997-1998 karena Indonesia belum mengalami resesi dan pertumbuhan ekonomi masih berjalan.

“Ini kan banyak sentimen (IHSG melemah), kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 1997-1998 lagi. Beda, 1997-1998 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi. 1997 pertengahan itu kita sudah resesi,” kata Purbaya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

Ia menegaskan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat sehingga pemerintah memiliki ruang untuk melakukan perbaikan.

“Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi masih tumbuh kencang. Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semuanya,” tegas dia.

Purbaya juga meminta investor pasar modal tidak panik menghadapi pelemahan IHSG.

“Kalau saya bilang jangan takut, serok bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari sudah balik. Jadi jangan lupa beli saham,” tegas dia.

Anjloknya Rupiah

Untuk diketahui, pada 1998, rupiah sempat anjlok hingga sekitar Rp 17.000 per dollar AS. Namun dalam masa kepemimpinan Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, nilai rupiah kemudian perlahan menguat hingga kembali ke kisaran Rp 6.500 per dollar AS dalam periode sekitar 17 bulan.

Berdasarkan data Reuters, Senin (18/5/2026) rupiah berada di level Rp 17.645 per dollar AS. Rupiah melemah 1,17 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Posisi tersebut sekaligus menjadi level terlemah rupiah secara intraday di pasar spot atau mencetak all time low baru.

Secara year to date (YTD) sejak awal 2026, rupiah telah anjlok 5,99 persen terhadap dollar AS. Sementara itu, sejak Oktober 2024, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sekitar 12 persen, dari kisaran Rp 15.400 per dollar AS menjadi berada di level Rp 17.600 per dollar AS saat ini.

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot terdepresiasi 77 poin ke posisi Rp 17.674 per dollar AS pada pukul 12.17 WIB dalam perdagangan Senin siang ini.lalu. (Calvin  G. Eben-Haezer)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles