Selasa, 13 Januari 2026

SEGARA PEMULIHAN EKOSISTEM..! Proyeksi BRIN: Sumatera Jadi Wilayah Paling Berisiko Cuaca Ekstrem hingga Tahun 2040

JAKARTA – Pakar klimatologi dan perubahan iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Erma Yulihastin mengingatkan pentingnya langkah mitigasi di wilayah Sumatera. Peringatan tersebut disampaikan menyusul potensi peningkatan kejadian angin dan hujan ekstrem yang diproyeksikan akan semakin sering terjadi dalam beberapa dekade ke depan sebagai dampak krisis iklim.

Banjir di sejumlah daerah di Aceh. (Ist)

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN itu menjelaskan bahwa berdasarkan analisis parameter angin dan hujan ekstrem, Sumatera menjadi wilayah yang paling terdampak perubahan iklim dibandingkan pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. Temuan tersebut diperoleh dari kajian data historis yang diproyeksikan hingga tahun 2040.

Mengapa Sumatera Menjadi Wilayah Paling Rentan Terhadap Cuaca Ekstrem?

Dalam diskusi daring Selasa (30/12/2025), Selasa, Erma Yulihastin mengatakan hasil kajian menunjukkan Sumatera berada di peringkat pertama wilayah yang paling terancam peningkatan angin ekstrem, khususnya pada periode Desember, Januari, dan Februari.

“Kita lihat bahwa ternyata peringkat yang menduduki urutan pertama bahwa perubahan iklim ini akan sangat mengancam Sumatera, dalam konteks angin ekstremnya itu akan meningkat signifikan sampai 2040, itu selama Desember, Januari, Februari. Itu ternyata juaranya adalah Sumatera, nomor 1 adalah Sumatra, kemudian pulau yang kedua itu adalah Kalimantan baru yang ketiga Jawa,” jelasnya dikutip Bergelora.com di Jakarta, Rabu (31/12).

Tim Sar gabungan saat mengevakuasi korban banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (29/11/2025). (Ist)

Menurut Erma, kondisi tersebut menjadikan Sumatera sebagai wilayah yang harus mendapat perhatian serius dalam perencanaan kebijakan iklim dan kebencanaan.

“Sumatera ini memang harus menjadi prioritas kita, high priority of the mitigation for the extreme weather,” lanjutnya.

Selain angin ekstrem, potensi hujan ekstrem juga diproyeksikan meningkat di wilayah Sumatera, terutama pada periode musim hujan yang secara klimatologis berlangsung pada Desember, Januari, dan Februari.

Intensitas hujan yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan risiko banjir, banjir bandang, dan longsor di berbagai daerah. Proyeksi tersebut disusun berdasarkan pola kejadian cuaca ekstrem yang telah berlangsung hingga saat ini.

Erma menegaskan bahwa kecenderungan peningkatan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem tidak lagi bisa dipandang sebagai anomali semata.

Apa Faktor Pemicu Meningkatnya Angin Dan Hujan Ekstrem?

Erma menjelaskan peningkatan kejadian angin dan hujan ekstrem di Sumatera dipengaruhi oleh dinamika interaksi laut dan atmosfer yang terjadi di sekitar wilayah tersebut.

Kawasan Selat Malaka dan Samudera Hindia disebut memiliki peran penting dalam membentuk pola cuaca ekstrem.

“Kalau itu sudah berubah signifikan dua-duanya, baik hujan maupun angin, berarti kan kita tidak bisa abaikan lagi. Jadi sinyal-sinyal ini merupakan sinyal, salah satu dari kejadian langka yang harusnya terjadi 150 tahun sekali kini kita alami menjadi sangat sering,” tuturnya.

Menurutnya, perubahan yang semakin sering terjadi ini menandakan adanya pergeseran pola iklim yang signifikan akibat pemanasan global.

Langkah Mitigasi Apa Yang Perlu Diprioritaskan Di Sumatera?

Menghadapi ancaman tersebut, Erma mendorong agar langkah mitigasi menjadi prioritas utama, khususnya di wilayah-wilayah rentan di Sumatera.

Upaya mitigasi yang dimaksud mencakup berbagai pendekatan, baik struktural maupun berbasis ekosistem.

Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain:

  • Pemulihan ekosistem, termasuk pengerukan sungai dan pembuatan jalur air untuk mengurangi risiko banjir bandang.
  • Peninjauan kondisi hulu daerah aliran sungai guna memastikan kapasitas tampung air hujan tetap optimal.
  • Penguatan perencanaan tata ruang agar tidak memperparah dampak cuaca ekstrem.

Erma juga mengingatkan bahwa kenaikan temperatur muka bumi sebagai bagian dari krisis iklim memiliki korelasi langsung dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di Sumatra.

Seberapa Serius Dampak Kenaikan Suhu Global?

Dalam diskusi yang sama, Prof. Dr. Erma Yulihastin menjelaskan bahwa temperatur permukaan bumi saat ini hampir mendekati kenaikan 1,5 derajat Celcius. Bahkan, ambang batas tersebut diperkirakan dapat tercapai pada 2029, lebih cepat beberapa tahun dibandingkan perkiraan sebelumnya.

“Konsekuensi langsung dari kondisi yang 1,5 (derajat Celcius) memang yang pertama kali, yang sangat langsung begitu adalah extreme weather event, kejadian cuaca ekstrem yang salah satu indikasinya adalah storm atau badai,” kata Erma.

Ia menambahkan, tim peneliti BRIN telah mendalami perubahan perilaku badai di Indonesia. Salah satu dampak paling nyata dari krisis iklim saat ini adalah berubahnya pola badai, baik dari sisi intensitas maupun cakupan wilayah.

Erma menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi di Sumatera termasuk dalam skala sinoptik, yakni melibatkan sistem badai tropis dengan cakupan wilayah yang sangat luas.

Secara spasial, fenomena ini dapat menjangkau ratusan hingga ribuan kilometer. Tidak hanya itu, skala waktunya pun relatif panjang, mulai dari beberapa hari hingga berpekan-pekan. Kondisi tersebut membuat dampaknya semakin kompleks dan berpotensi menimbulkan kerugian besar apabila tidak diantisipasi sejak dini. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru