MEDAN- Kaum ulama di Sumatera Utara menyadari bahwa Presiden Joko Widodo telah banyak memberikan kemajuan pembangunan selama 5 tahun berkuasa. Hal ini menjadi kesimpulan dalam pertemuan dan seminar nasional yang dihadiri 1.000 ulama, da’i dan muballigh dari 7 kabupaten dan kota di Sumatera Utara yang diadakan di Hotel Emerald Garden, pada Minggu (27/1).
“Kita menilai dan bersepakat bahwa Presiden Jokowi telah berkomitmen dan banyak memberikan kontribusi kepada kita semua seluruh bangsa Indonesia,” demikian Drs. KH. Muhiddin Masykur, Ketua Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia), Kota Medan kepada pers.
Pengasuh Majelis Taklim Bustanul Arifin Sumatera Utara ini mengatakan bahwa penting untuk seluruh rakyat untuk mendukung Joko Widodo kembali memimpin Indonesia 2019-2024.
“Maka dari itu kita juga berkomitmen kembali mendukung Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin sebagai pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu mendatang sebagai pasangan yang mewakili umara dan ulama,” katanya.
Memang menurutnya, di dalam berbangsa dan bernegara, dua pasangan yang ikut dalam kontestasi ini apakah itu pasangan 01 ataupun pasangan 02, adalah putra-putra terbaik bangsa dan sama-sama Islam.
“Sehingga siapapun yang bakal terpilih nantinya kita para ulama pasti tetap akan mendukungnya. Tetapi dalam bersikap untuk kontestasi ini kita tentu lebih memilih pasangan yang ada ulamanya,” tegasnya.
Ulama Sumatera Utara itupun mengingatkan agar pada da’i menjaga kepentingan Ukhwah Islamiah yang lebih penting dari segala-galanya.
“Dalam berdakwah dan bermasyarakat, kita juga meminta para da’i untuk menyampaikan hal-hal yang baik. Jangan sampai apa yang kita sampaikan merusak ukhwah Islamiah, merusak ukhwah wathaniyah, karena itu satu-satu nya aset kita. Ukhwah Islamiayah itu lebih penting dari segala-galanya karenanya harus terus dijaga,” katanya.
Ia menegaskan agar para ulama dan da’i terdepan dalam berdakwa menyampaikan visi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik dan menghentikan kelompok-kelompok yang hendak memprovokasi dan adu domba.
“Jadi jangan sampai dalam berdakwah, dalam menyampaikan yang baik malah menjelek-jelekkan orang, jangan sampai mengadu domba, jangan sampai memprovokasi apalagi sampai mencaci maki ulama,” ujarnya.
Mensucikan Kembali Agama
Sebelumnya, Tuan guru Sakban Rajagukguk membuka kegiatan seminar nasional dengan thema “Gerakan Dai Berkarakter Kebangsaan Strategi dan Metode Dakwah Anti Hoax”
Dalam seminar yang dihadiri 1.000 ustadz dari 7 kabupaten/kota di Sumatera Utara itu, Sakban Rajagukguk mengingatkan agar para ustadz paham pilar kebangsaan.
“Bagi saya ulama dan ustadz di Indonesia, adalah founding fathers atau bapak bangsa ini,” tegas pria alumnus S3 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SUMUT), dalam sambutannya.
Dan hari ini sama-sama kita saksikan, sambung Sakban, kalau bangsa ini lagi terusik.
“Untuk itulah ustadz atau ulama sebagai founding fathers harus turun menghadapi kerisauan-kerisauan bangsa ini, di sinilah pentingnya seminar ini untuk menambah wawasan kebangsaan bagi ustadz-ustadz,” katanya.
Masalah yang paling miris lagi, lanjut Sakban, saat ini juga, kerisauan tak cuma di tengah-tengah masyarakat, di lingkungan tokoh Islam juga terjadi kerisauan.
“Kini, ulama dihadapkan kepada ulama, ustadz dihadapkan dengan ustadz,” tegas Sakban Rajagukguk.
Untuk itu ia menyerukan agar para ustadz dan ulama agar kita jangan mau dibentur-benturkan, dan tetap memilih menjaga bangsa dari gangguan-gangguan luar.
“Mari kita usir mereka yang membentur-benturkan ulama dan yang menyebabkan terganggunya kenyamanan negeri ini,” sebut Sakban.
Dan yang lebih menakutkan lagi, ajaran Islampun sudah terusik, misal, makna takbir yang harusnya menjadi pemersatu kini mulai bergeser. Takbir dengan sebutan Allahu akbar, kini peruntukan dan maknanya berubah, seolah-olah seperti sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah.
“Di sini marilah kita menyucikan ajaran agama, sehingga lafaz-lafaz ajaran Islam, seperti takbir, harusnya tak menakutkan dan mengguncang nilai-nilai persatuan. Tapi menjadi makna pemersatu,” tegasnya. (Sugianto)

