Jumat, 24 April 2026

TEPAT…! Eep Saefulloh Fatah: Haram Hukumnya Mengubah Hasil Survei

Eep Saefulloh Fatah, Founder & CEO PolMark Indonesia. (Ist)

JAKARTA- PolMark Indonesia menegaskan beberapa kesalahan isi dalam meme yang disebar sehubungan hasil survei pada Pilkada Kota Makassar 2020 dengan. Sebelumnya sebuah meme beredar tersebut mencantumkan nama Eep Saefulloh Fatah dan PolMark Indonesia itu. Padahal Meme tersebut bukan berasal dari Eep Saefulloh Fatah dan PolMark Indonesia.

“PolMark Indonesia sepanjang hampir 11 tahun hidupnya berusaha menjaga etika publikasi survei dengan sangat ketat. Haram hukumnya menyampaikan hasil survei dengan mengubah keterangan waktu, hasil-hasil survei dan semua data/informasi apapun. Hasil survei wajib dilaporkan sebagaimana adanya,” tegas Eep Saefulloh Fatah, Founder & CEO PolMark Indonesia kepada pers di Jakarta, Rabu (16/9)

Di bawah ini penjelasan dalam rilis Eep Saefulloh Fatah, Founder & CEO PolMark Indonesia yang diterima Bergelora.com di Jakarta, Rabu (16/9):

  • Meme itu membuat keterangan waktu yang salah. Meme itu menyebut “Data Agustus 2020” sebagai keterangan waktunya. Jelas ini salah. Kami hanya punya data survei 23-31 Juli 2020. Pada bulan Agustus dan September kami belum melakukan survei lagi di Kota Makassar. Bagi saya dan PolMark Indonesia, ini bukan soal teknis belaka. Kejujuran menyampaikan keterangan waktu survei adalah bagian dari etika publikasi survei yang sangat penting.
  • Meme itu memuat data hasil survei secara keliru. Saya dan PolMark Indonesia sesungguhnya terikat pada etika dan komitmen yang termuat dalam kontrak kerja sama survei untuk tidak menyampaikan hasil survei kepada siapapun. Tetapi, saat ini sudah beredar luas laporan hasil survei yang diklaim sebagai laporan hasil survei PolMark Indonesia. Maka, saya terpanggil untuk meluruskan kekeliruan dalam meme yang beredar itu.
Data yang keliru dalam meme yang disebar: 1) Ditulis data Agustus padahal survei PolMark Juli. Agustus tidak ada survei. 2) Data elektabilitas itu individu dalam survei bulan Juli, tapi dicantumkan cantumkan berpasangan. Simulasi pasangan ada sendiri. (Ist)

Meme Keliru Data

Eep menjelaskan, angka elektabilitas yang tercantum di dalam meme yaitu berturut-turut 31,7%, 26,8%, 14.4% dan 3,4%) disebut sebagai elektabilitas pasangan kandidat berturut-turut, Appi-Rahman, Danny-Fatma, Ical-Fadli, dan Irman-Zunnun.

“Ini keliru. Dalam data survei kami, angka-angka elektabilitas yang tercantum itu BUKAN angka elektabilitas pasangan. Itu adalah angka “elektabilitas tertutup” untuk kandidat orang per orang yaitu Appi, Danny, Ical, Irman, dan lain-lain,– BUKAN sebagai pasangan. Ini terdapat pada slide/halaman 25 dokumen Laporan Survei Pemilukada Kota Makassar, 23-31 Juli 2020. Jumlah totalnya tak 100% di meme itu karena elektabilitas para bakal kandidat lain dan jawaban “tidak menjawab/tidak tahu” tidak ikut disertakan dalam meme itu,” jelasnya.

Adapun untuk pasangan bakal calon,– Eep menjelaskan,dengan simulasi perkiraan empat pasangan calon — yang ternyata kemudian menjadi kenyataan – data elektabilitasnya berbeda. Ini terdapat pada slide/halaman 37 dokumen Laporan Survei Pemilukada Kota Makassar, 23-31 Juli 2020.

“Saya tegaskan bahwa data hasil survei yang dimuat dalam meme itu memang keliru. Sekali lagi, kekeliruan ini bukan masalah teknis melainkan masalah etika publikasi hasil survei yang sangat penting. Apalagi meme-nya memuat foto dan nama saya serta PolMark Indonesia,” tegasnya.

Hasil survey PolMark Research Center yang benar. (Ist)

Ini Yang Benar

Ditambahkan, perkembangan sangat cepat berkaitan Pilkada Kota Makassar 2020, selepas Eep Saefulloh Fatah menjelaskan Penjelasan Resmi beberapa waktu lalu. Berkaitan dengan ini, ia menegaskan dirinya tidak ingin ada pihak-pihak tertentu yang mengambil keuntungan elektoral dengan memanfaatkan masalah yang berkembang, yang menghadap-hadapkan dirinya dengan Erwin Aksa.

“Saya tak bisa membiarkan para kompetitor Munafri Arifuddin – A Rahman Bando (Appi-Rahman) mengolah ini secara tidak sehat, bahkan jahat, untuk keuntungan politik dan elektoral mereka,” ujarnya.

Karena sebab itu, dirinya menambahkan data di bawah ini ke dalam penjelasan resminya yang dicuplik dari “Slide/halaman 37” yang di sebutkan dalam penjelasan sebelumnya.

“Pada awalnya, atas nama etika saya tak ingin menjadi pihak yang mempublikasikan data ini ke sembarang orang atau ke publik. Tetapi dinamika cepat Pilkada Makassar 2020 membuat saya memutuskan untuk memuat data itu sebagai tambahan penjelasan saya. Niat saya hanya satu, yaitu tak ingin berkembang salah paham dan fitnah baru terhadap siapapun, termasuk terhadap EA dan/atau Munafri Arifuddin (MA) dan/atau Appi-Rahman dan/atau saya dan PolMark Indonesia.

Eep juga ingin menghimbau media, baik konvensional maupun online, untuk berlaku selayaknya.

“Hentikan sikap partisan berlebihan. Politisasi media secara tak sehat memberikan kontribusi bagi tak sehatnya demokrasi kita. Hentikan kecenderungan untuk mempertentangkan secara tak sehat pihak-pihak yang berbeda pendapat dengan memanipulasi pemberitaan,” tegasnya. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles