Minggu, 26 April 2026

Tragis: Gerakan 212, Dari Bela Islam Menjadi Bela Oknum

Indro Tjahyono (Ist)

Aktivis 1978, Indro Tjahyono memastikan Reuni 212 Jakarta, 2 Desember, karena (1) Tujuan semula telah makbul dan diijabah Allah, (2) Tercium aroma politisasi agama yang pekat, (3) Ditunggangi oleh para pendukung khilafah. Tulisannya disebar diberbagai media sosial dan dimuat Bergelora.com. (Ist)

 

Oleh: Sukmadji Indro Tjahyono

PADA tanggal 2 Desember 2018 konon akan diselenggarakan apa yang disebut Reuni 212. Namanya juga reunifikasi, tentu dimaksudkan untuk konsolidasi kenangan saat ummat membela Islam ketika Ahok dituduh menista agama. Namun beberapa orang merasa bahwa reuni ini seperti sengaja “diada-adakan”.

Perasaan ini masuk akal  dengan beberapa alasan:

1 Tujuan untuk menghukum penista agama (Ahok) sebenarnya telah tercapai,

2 Reuni ini seperti dipaksakan oleh pihak tertentu terselenggara pada tahun politik. Sehingga alih-alih reuni ini bisa disebut ajang silaturahmi ummat, tetapi sudah menjadi ajang kampanye politik.

3 Missi untuk membela Islam yang terkandung pada Gerakan 212 sebelumnya sudah ditanggalkan. Reuni ini cenderung ditunggangi aksi balas dendam mantan anggota organ terlarang (HTI) untuk mengibarkan kembali bendera mereka yang mencomot kalimat Tauhid.

4 Politisasi Reuni 212 juga terasa kental dengan disebarkannya hasil rapat terakhir panitia yang sengaja menyatakan “menolak menghadirkan Presiden Jokowi, sebaliknya mengundang Prabowo Subianto sebagai tamu kehormatan”. Hal ini membuktikan bahwa Gerakan 212 sudah diselewengkan dari missi suci membela agama menjadi gerakan politik praktis mendukung capres (calon presiden) tertentu.

5 Reuni 212 juga menggambarkan mobilisasi massa untuk upaya memecah belah ummat Islam  dan upaya menjadikan sentimen agama sebagai salah satu unsur SARA dalam politik praktis.

Seharusnya kalau melihat adanya manipulasi substansial dari hakekat Gerakan 212, tidak ada alasan ummat Islam untuk ikut dan menghadirinya. Karena pembelaan agama telah dilecehkan sekedar membela capres tertentu. Apalagi kalau capres tersebut (Prabowo Subianto) pada tahun 1997 juga dituduh terkait dengan penculikan dan penghilangan aktivis politik Islam (Dedi Hamdun dan Noval Al Katiri).

Reuni 212 dalam catatan politik sebenarnya merupakan upaya kesekian kali dalam menggunakan strategi mengalahkan Ahok dalam Pilpres 2019. Atau upaya untuk mengahokkan Jokowi dalam pertarungan Pilpres 2019. Hal ini mengingat bahwa nalar untuk melakukan reuni ini samasekali sulit diterima akal.

Ciri-ciri dari gerakan yang mereka nilai berhasil dalam mengalahkan petahana yang secara politik memiliki posisi kuat adalah:

(a) Harus bersifat massal, kolosal, dan masif sehingga bisa menimbulkan rasa gentar dan memiliki posisi tawar yang besar dalam politik,

(b) Memanipulasi isu sensitif, dalam hal ini isu SARA, sehingga bisa membangun sentimen dasar dalam memobilisasi kemarahan dan amook massa. Isu SARA yang dimaksudkan adalah pri vs nonpri, Islam vs non Islam, primordial vs moderen, beragama vs kafir dsb.

(c) Untuk memudahkan adanya kemarahan masif dan memobilisasi massa dengan biaya murah, maka akan diciptakan faktor pencetus ( trigger factor ). Hal ini misalnya penyiksaan, kekerasan, kematian, penistaan agama, penghinaan terhadap tokoh agama dsb.

(d) Gerakan massa juga bisa ditingkatkan atau dijadikan fase antara untuk menciptakan gerakan massa atau turbolensi politik yang lebih besar lagi. Khususnya jika terjadi korban penyiksaan atau meninggal dalam aksi-aksi massa mereka.

Sejauh ini sudah ada beberapa kali upaya percobaan untuk “mengahokkan Jokowi” kendati gagal, yakni:

1 Terbakarnya bendera dengan kalimat Tauhid di Garut

2 Skandal penipuan Ratna Sarumpaet yang mekspos wajah paska operasi plastik

3 Upaya untuk mempersoalkan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang berkata akan menghadang Perda Syariah.

Namun sebenarnya dalam Reuni 212 tanggal 2 Desember 2018 ini ada beberapa syarat yang tidak terpenuhi dalam kontek gerakan untuk mengahokkan Jokowi yakni adanya faktor pencetus ( trigger factor). Karena itu mereka hanya menggunakan modus reuni untuk lakukan gerakan massa dan sentimen pembakaran bendera HTI di Garut yang lalu. Dengan demikian dapat dimaklumi mengapa walau kelihatannya diikuti massa yang besar, konsolidasi “ummat Islam politis” dalam aksi Reuni 212 saat ini terasa cemplang.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles