JAKARTA- Wafatnya Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, Rabu (11/9), tak hanya meninggalkan kesedihan bagi rakyat Indonesia namun juga dunia. Presiden pertama Republik Demokratik Timor Leste, Xanana Gusmao pun mengirimkan karangan buka sebagai tanda duka cita. Foto karangan bunga dari Xanana Gusmao berhasil diabadikan oleh Sahat Sitorus dan dibagikan oleh akun Twitter @Sever1no pada Kamis (12/9).
Xanana Gusmao menyampaikan rasa duka citanya dan doa atas kepergian Presiden RI ke-3. Selain itu, pria 73 tahun menerangkan bila rakyat Timor Leste akan selalu mengenang BJ Habibie.
“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepegian kakak tercinta Presiden BJ Habibie. Rakyat Timor Leste selalu mengenangmu selamanya. Istirahatlah dengan teang. Xanana Gusmao,” demikian pesan dalam karangan bunga.

Sementara dalam foto lainnya, di halaman kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Timor Leste, tampak bendera merah putih dikibarkan setengah tiang berdampingan dengan bendera Timor Leste sebagai tanda penghormatan untuk BJ Habibie.
Diketahui, sosok BJ Habibie memiliki tempat tersendiri untuk rakyat Timor Leste. Hal itu tak lepas dari peristiwa yang terjadi 20 tahun silam.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, kala itu, BJ Habibie menjabat sebagai presiden ingin mengusahaan kemerdekaan Timor Timur yang berniat melepaskan diri dari NKRI, hingga akhirnya terjadi referendum pada 30 Agustus 1999.
Berkat jasanya, sosok insinyur pesawat terbang tersebut mendapat penghormatan khusus bagi rakyat di sana, namanya pun diabadikan sebagai nama jembatan di Desa Bidau Sant’ana.
Mengidolakan Habibie
Sementara itu ucapan bela sungkawa juga disampaikan mantan Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD), Petrus Hariyanto kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (12/9).
“Walau aku yang saat itu Napol (Narapidana Politik) PRD yang tidak dibebaskan oleh Presiden B.J Habibie, aku sedih atas wafatnya beliau,” ujarnya.
Ia menceritakan masa kecilnya yang mengidolakan Habibie, “Diriku dan mungkin jutaan anak lain mengidolakan beliau, dijuluki orang terpandai di Indonesia. Menjadi ikon bagi kami semua untuk menjadi orang pandai,” ujarnya.
Ia mengenang, di masa transisi reformasi, dirinya dan kawan-kawannya berhadapan dengan rezim boneka Orde Baru. Namun Presiden BJ Habibie yang menggantikan diktaktor Soeharto Habibie menjawab gerakan oposisi dengan beberapa karya politik keterbukaannya,
“Salah satunya kebebasan pers,” ujarnya.
Membaca buku karya beliau “Detik-Detik Yang Menentukan. Jalan Panjang Menuju Demokrasi”, membawa Petrus lebih memberi apresiasi kepada figur beliau.
“Tidak mudah menjadi seperti beliau di tengah krisis situasi poitik dan ekonomi. Presiden B.J Habibie mengambil sikap tegas melawan ‘pembangkangan” “Letnan Jenderal Prabowo’ yang waktu itu Pangkostrad,” kenangnya.
Namun menurutnya, Presiden BJ Habibie berani memerintahkan Jendral Wiranto agar jabatan Prabowo diganti.
“Seperti yang kita saksikan, pada kisah selanjutnya Prabowo juga dipecat dari TNI karena dianggap terlibat penculikan aktivis ’98, sebagian teman-temanku di PRD. Selamat jalan B.J Habibie. Purna sudah tugasmu di dunia,” ujarnya. (Web Warouw)

